Hegarmanah | Diperbarui 00:00 WIB Cerah Berawan 18°C | Cerah Berawan

Budaya Konsumtif Gen Z Mengkhawatirkan? Terapkan Frugal Living Biar Dompet Aman

04 Dec 2025 | 3 menit baca
Budaya Konsumtif Gen Z Mengkhawatirkan? Terapkan Frugal Living Biar Dompet Aman
Ilustrasi "Budaya Konsumtif Gen Z Mengkhawatirkan? Terapkan Frugal Living Biar Dompet Aman" (Redaksi Frugalin.aja)

FruFams, tahukah kalian? Fenomena frugal living semakin sering dibicarakan di kalangan mahasiswa, terutama Generasi Z yang saat ini mendominasi populasi di Indonesia. 

Indonesia saat ini dalam masa bonus demografi, kondisi ketika jumlah usia produktif lebih besar dibanding kelompok usia lainnya. Dilansir Data GoodStats (2023), berdasarkan Sensus Penduduk 2020, Gen Z (18–24 tahun) merupakan kelompok usia terbesar, mencapai 27,94% dari total populasi. Kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. 

Mayoritas dari mereka mendominasi ruang pendidikan tinggi. Menurut PDDikti (2025), jumlah mahasiswa S1 mencapai 8.281.591. Mereka mengalami fase transisi menuju kemandirian, dihadapkan pada dinamika baru: mengatur waktu, keuangan, sekaligus menjaga gaya hidup yang seimbang.

Dilansir dari Media Indonesia, berdasarkan survei Jakpat 2024, sebanyak 93% responden menggunakan pembayaran digital dan 85% Gen Z bergantung pada e-wallet dalam aktivitas belanja harian. Kemudahan layanan digital membuat Gen Z menjadi kelompok yang paling aktif dalam memanfaatkan e-wallet, bank digital, hingga layanan paylater.

Kemudahan ini menjadi bagian rutinitas harian yang praktis dan efisien. Namun, di balik itu, promo cashback, diskon, dan notifikasi belanja membuat banyak mahasiswa terjebak dalam perilaku konsumtif. Menurut Pratiwi dan Sulistyowati (2022), mahasiswa perantau rentan mengalami krisis keuangan akibat gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial.

Hal ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan pergaulan, media sosial dan gaya hidup modern. Mahasiswa perantau merasa perlu mengikuti tren agar diterima oleh pergaulannya. Padahal, kebiasaan ini sering berdampak pada keuangan mereka. Kebiasaan nongkrong di kafe dan dorongan “harus terlihat up to date” sering berujung pada pengeluaran di luar batas. Temuan dari Fitriani dan Herlina (2021) menjelaskan bahwa gaya hidup modern memberi dampak signifikan terhadap kedisiplinan finansial mahasiswa.

Dalam situasi ini, frugal living atau gaya hidup hemat hadir sebagai alternatif gaya hidup yang lebih sehat dan realistis bagi mahasiswa. Frugal living bukan berarti “pelit” atau menahan diri secara ekstrem, tetapi bagaimana individu (mahasiswa) dapat bersikap selektif, sadar prioritas, bijak dalam menggunakan uang, sehingga dapat membantu mahasiswa meredam dorongan konsumtif. 

Hemat bukan pelit! Terapkan frugal living dengan bijak

Frugal living adalah cara hidup hemat dengan menekan pengeluaran secara efisien. Menurut Kompas (2023), frugal living berarti menggunakan uang secara bijak dan mengutamakan kebutuhan penting. OCBC (2023) menegaskan bahwa frugal living bukanlah hidup kekurangan yang menyiksa, melainkan keputusan finansial yang cerdas. Karena itu, frugal living kurang tepat disebut gaya hidup ekstrem yang memaksa seseorang menahan diri dari pengeluaran mendasar. 

Di tengah kehidupan modern yang konsumtif, frugal living semakin diminati generasi muda karena sesuai dengan tantangan ekonomi saat ini (Hasanah dan Badria, 2024). Namun, banyak yang keliru dan menganggapnya sebagai gaya hidup “menyiksa”. Padahal, frugal living justru mengurangi pemborosan dan membuka ruang finansial untuk kebutuhan yang lebih penting, termasuk dana darurat dan pengendalian konsumsi impulsif (ANTARA, 2025).

Frugal living relevan bagi mahasiswa terutama perantau yang secara tidak langsung menerapkannya melalui kebiasaan memasak sendiri dan mengurangi aktivitas konsumtif seperti nongkrong atau belanja secara impulsif (Hidayah, dkk. 2022).

Wibowo dan Fauziah (2021) menemukan bahwa gaya hidup yang terukur berkaitan erat dengan kemampuan mengelola keuangan. Sementara Sinaga (2024) menegaskan pentingnya pemahaman keuangan untuk menjaga stabilitas finansial mahasiswa.

Frugal living penting untuk mahasiswa? Ini jawabannya!

Frugal living tidak sekadar menghemat uang, terdapat proses berpikir yang lebih sadar, terorganisir, dan selektif dalam membuat keputusan finansial. 

Menurut Harahap & Sari (2020), membuat catatan pengeluaran dan menyusun anggaran berpengaruh positif terhadap pengelolaan keuangan mahasiswa. Sejalan dengan prinsip hidup hemat, hal ini dapat membawa individu menuju stabilitas finansial. Pada mahasiswa perantau, frugal living juga menjadi strategi bertahan hidup yang efektif karena mereka hidup dalam anggaran yang lebih ketat (Pratiwi & Sulistyowati, 2022).

Dampak frugal living dapat dilihat dalam dua aspek, yakni:

Jangka pendek

  • Pengeluaran lebih terkendali
  • Kebutuhan dasar terpenuhi tanpa stres berlebih
  • Keuangan lebih aman selama kuliah

Jangka panjang

  • Tercipta kebiasaan finansial yang disiplin
  • Menghindari konsumsi impulsif dan tekanan sosial

Pratiwi dan Sulistyowati (2022) menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan gaya hidup mereka dengan pengeluarannya, cenderung memiliki ketahanan keuangan yang lebih baik. Fitriani dan Herlina (2021) mengungkapkan bahwa kendali gaya hidup dan pengeluaran memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumsi mahasiswa, terutama dalam menjaga kedisiplinan finansial.

Hal ini sejalan dengan Sinaga (2024) yang menyatakan bahwa pemahaman mengenai pola hidup dan pengelolaan uang sangat berpengaruh terhadap stabilitas finansial setiap individu.

Fear of Missing Out (FOMO) berlaku juga di finansial?

FruFams pernah mendengar istilah FOMO, bukan? FOMO atau Fear of Missing Out, dikenal sebagai perasaan takut untuk melewatkan pengalaman yang menyenangkan. FOMO tidak hanya berlaku pada aktivitas sosial, tetapi juga pada keuangan. Kondisi ini kerap disertai rasa khawatir, penyesalan, serta perasaan terasingi dari suatu kelompok tertentu (Przybylski et al., 2013). 

Survei McKinsey (2023) menegaskan bahwa 48% Gen Z sering mengakses platform media sosial. Jika dibandingkan dengan Gen X, milenial, dan baby boomers, angka ini menyentuh angka terbesar (Hura dkk., 2021). 

Ketinggalan informasi terbaru di media sosial saja, membuat kita sulit melepaskan smartphone di genggaman tangan, ya? Terlebih, kini segala hal dengan mudah diakses melalui smartphone. Bahkan, transaksi keuangan bisa dilakukan dengan sekali scan QR. Hal ini seakan-akan mendukung gaya hidup Gen Z yang cenderung dinamis dan kurang mempertimbangkan kebutuhan di masa depan (Mu’awiyah & Jurana, 2024). 

Keuangan mengalir bersamaan dengan emosi manusia, antara keserakahan, ketakutan, dan urgensi (Bonaparte, 2025). Hubungan antara FOMO dan perilaku keuangan menjadi sangat erat. 

Hal ini mendorong perilaku keuangan berisiko, yakni:

  1. Belanja impulsif karena tren,
  2. Membeli barang demi citra sosial, bukan kebutuhan,
  3. Mudah tergoda investasi berisiko tinggi,
  4. Terpengaruh rekomendasi influencer.

Pada akhirnya, memahami FOMO yang memengaruhi perilaku keuangan itu penting ya, FruFams! Terutama untuk masa depan yang lebih aman, stabil, dan berkelanjutan.

Literasi keuangan sebagai kunci frugal living

FruFams tau nggak, sih? Penerapan frugal living menunjukkan pemahaman terhadap literasi keuangan yang baik, lohOJK (2025) mencatat tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46%, sementara tingkat inklusi keuangan 80,51%, yang menunjukkan kesenjangan 14,05% antara akses dan pemahaman layanan keuangan digital. Dengan literasi keuangan yang baik, FruFams bisa paham lebih dalam terkait pengelolaan keuangan sehari-hari.

Menurut OJK, literasi keuangan merupakan upaya-upaya peralihan dan peningkatan wawasan atau kepahaman, keterampilan, kepercayaan seseorang terkait manajemen keuangan dengan baik dan optimal (Choerudin et al., 2023, 2). Hal ini dapat membantu seseorang terhindar dari masalah keuangan, seperti kekurangan finansial, kesalahan dalam penggunaan kredit, dan pengelolaan keuangan (Krishna, Rofaida, & Sari, 2010). Kesadaran tersebut dapat menjaga keadaan keuangan untuk tetap stabil. 

Terdapat tiga indikator utama pemahaman dalam literasi keuangan:

Pengetahuan tentang konsep keuangan.

Meliputi pemahaman terhadap produk keuangan, risiko, suku bunga, inflasi, dan diversifikasi investasi sebagai dasar literasi.

Sikap dan minat terhadap keuangan.

Keyakinan positif terhadap Lembaga Jasa Keuangan (LJK), pengelolaan uang, motivasi belajar keuangan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi permasalahan keuangan.

Perilaku menabung dan mengelola keuangan.

Perilaku ini diukur dari kebiasaan menabung rutin, pengendalian anggaran, pembayaran tepat waktu, dan menghindari pengeluaran yang konsumtif. 

Hubungan literasi keuangan dengan frugal living dapat ditemukan pada konsep gaya hidup hemat itu sendiri. Tujuan utamanya adalah melindungi dari dari pola hidup konsumtif dengan fokus pada efisiensi pengelolaan keuangan yang bijak, seperti mengurangi pembelian serta mengarahkan penggunaan dana untuk hal penting dan memiliki nilai manfaat yang lebih besar (Al Arsy et al., 2025, 247)

Nah, salah satu praktik literasi keuangan termudah bagi Gen Z, khususnya mahasiswa adalah budgetingYale University menyebut budgeting atau perencanaan keuangan adalah strategi memantau dan mengatur keuangan, dari pemasukan hingga pengeluaran. Dengan perencanaan keuangan yang tepat, kehidupan kampus dapat dijalani dengan tenang tanpa harus khawatir kehabisan uang di akhir bulan. 

Manfaat frugal living bagi mahasiswa (Dompet Aman, Hidup Nyaman: Jurus Jitu Budgeting Ala Mahasiswa, n.d.) meliputi:

  1. Mengontrol pengeluaran
  2. Mencapai tujuan keuangan
  3. Menghindari utang
  4. Belajar mengelola keuangan sejak dini
  5. Mengurangi stres

Financial Market Community (FMC) Universitas Padjadjaran memberikan tips budgeting yang bisa digunakan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan menerapkan aturan 50/30/20:

  1. 50% untuk kebutuhan inelastis (fixed cost): biaya transportasi, makan, listrik, dan kebutuhan primer lainnya.
  2. 30% untuk keinginan diri: jajan kopi, langganan aplikasi berbayar, atau belanja online.
  3. 20% untuk tabungan: dapat digunakan untuk investasi pasar modal atau dana darurat.

Dengan menerapkan aturan 50/30/20, FruFams dapat menggunakan budgetnya secara maksimal dan efisien.

Kenalan sama Frugalin.aja, media edukasi finansial mahasiswa

Kami, Frugalin.aja hadir bukan sekadar mengikuti tren media sosial di Instagram. Setiap postingan, reels, dan carousel yang kami unggah mengajak audiens untuk menilai kembali kebutuhan dan memprioritaskan apa yang penting dalam hidup mereka.

Media ini menyasar isu-isu seperti:

  1. Gaya hidup hemat
  2. Literasi keuangan
  3. Refleksi sosial
  4. Kritik terhadap budaya konsumtif

Banyak mahasiswa merasa tertinggal hanya karena tidak bisa mengikuti tren mahal di media sosial. Frugalin.aja hadir untuk mengingatkan bahwa hidup tidak perlu selalu terlihat glamor. Mengatur keuangan bukan hanya soal angka, tetapi juga soal ketenangan pikiran dan pengambilan keputusan yang sadar.

Frugalin.aja berupaya menciptakan ruang aman bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan belajar tanpa merasa dihakimi. Respons audiens menunjukkan bahwa banyak mahasiswa menghadapi keresahan yang sama. Hal ini menjadi salah satu kekuatan media digital, yang menciptakan rasa kebersamaan melalui pengalaman yang sama.

Frugalin.aja memiliki peluang besar untuk terus berkembang sebagai media digital yang menguatkan ketahanan finansial, meningkatkan kesadaran kesehatan mental, dan mendorong kesejahteraan generasi muda melalui konten edukatif yang ringan, relevan, dan kekinian.

Penulis:

  1. Mahes Jan Anargya
  2. Namira Wahyudia 
  3. Maulida Hasna Haniifa
  4. Abigail Ghaissani Prafesa 
  5. Alya Dzakirah 

Baca Lainnya

Komentar (0)