Hegarmanah | Diperbarui 20:00 WIB Berawan 23°C | Berawan

EKSPLORASI EMOSI MELALUI SENI

04 Dec 2025 | 3 menit baca
EKSPLORASI EMOSI MELALUI SENI
A Ritualistic Purification of The Water Nymph, 2025 (sumber: Instagram @dwiantonoroby)

Manusia selalu mencari cara untuk menghadirkan diri dan pemikiranya dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui seni. Seni dengan berbagai mediumnya, mulai dari lukisan, teater, sampai dengan film telah menjadi ruang bagi manusia untuk dapat menyalurkan trauma, keresahan, gagasan/pendapat menjadi bentuk baru yang dapat ditelaah dan dinikmati secara kolektif. Seni bukan hanya besar secara estetika tetapi menjadi jembatan antara pengalaman personal dan realitas sosial antara satu manusia dan manusia lainnya.

Fungsi seni melebihi kenikmatan estetika belaka, ruang berkesenian menjadi tempat di mana berbagai pemikiran hidup serta medium komunikasi yang dapat memotret realitas “tak tersuarakan” yang seringkali sulit dimuat dalam cara-cara mainstream. Seni menghadirkan sentuhan yang lebih personal, sensitif, dan puitis atas gagasan yang diangkat. Pada akhirnya, seni dapat menghadirkan ruang bagi berbagai pemikiran. Sehingga, ruang tersebut menjadi gelembung diskusi baru hingga mendorong manusia untuk meningkatkan kesadarannya dalam menjalani kehidupan. Dari  kesadaran untuk mengenal diri, mengenal realitas sosial hingga dapat mengkritisi realitas itu sendiri. 

Mengenal Seni Mengenal Diri Sendiri 

Personality itu jadi salah satu, yang mungkin mendekatkan mereka dengan karya, ya. Karena, kan, mereka akan lebih intim dengan dirinya. Biarkan mereka sebelum menjelajahi apapun, mereka dekat dulu dengan dirinya,” ungkap Qodir.

Andi Abdulqodir atau Qodir, seorang desainer grafis sekaligus pendiri Tuju Semesta Creative Space, melihat seni sebagai perjalanan kembali pada diri sendiri. Ia merumuskan gagasan ini dalam sebuah pameran interaktif bernama Ourchetype Lab.

Ourchetype Lab muncul sebagai ruang eksperimen yang menggabungkan banyak disiplin. Ruang ini tidak berhenti pada estetika. Ia mengajak pengunjung melihat desain sebagai bahasa. Setiap keputusan visual lahir dari cara pengunjung membaca dunia. Setiap karya berhubungan dengan cara pengunjung merasakan dan berinteraksi.

Di dalamnya, pengunjung diajak bergerak mengikuti alur yang membuat setiap pengunjung menjawab, memilih, dan berhadapan dengan rangsangan visual. Alur itu membawa seseorang pada hal yang orang itu sukai, hal yang dijauhi, bahkan hal yang di takuti. Semua itu mengarah pada satu tujuan. Membantu para pengunjung menemukan arketipe Jungian. Arketipe ini adalah pola dasar yang melekat dalam bawah sadar manusia.

Qodir percaya, sebelum seseorang memandang karya, ia perlu lebih dulu melihat dirinya. Ruang itulah yang ia ciptakan. Ruang yang membuat pengunjung mengenali dirinya, lalu masuk lebih dalam pada karya yang dipamerkan. Dengan begitu, hubungan yang tercipta bukan lagi sekadar melihat bentuk tetapi merasakan apa yang mengikat.

Melalui pintu kecil menuju diri sendiri, seni tidak lagi terasa jauh. Ia menjadi medium untuk merasakan. Medium untuk memahami dari mana rasa itu muncul. Seni tidak lagi berhenti sebagai objek dalam bingkai kamera, ia berubah menjadi cermin yang diam-diam memantulkan karakter manusia. Karena seni adalah cerminan diri, sebuah ruang eksploratif atau  bahkan  ruang reflektif  dari ribuan fragment memori yang telah lama seseorang lalui. Memahami diri sendiri adalah menelusuri jejak memori. 

Serupa dengan semangat Qodir memalui Ourchetype Lab, pembawaan seni sebagai sarana reflektif terhadap diri juga pernah di dibawa oleh Robby Dwi Anonto dalam pameran tunggalnya “Lucid Fragments” di tahun 2021. Dalam pameran itu, Ia memberi kesempatan terhadap kenangan dan masa lalu sebagai tokoh utama untuk mengantar para pengunjung untuk memahami karya-karyanya. 

Menelusuri Jejak Memori Bersama Robby

Robby Dwi Antono lahir di Jawa Tengah dan dibesarkan oleh seorang ayah yang bekerja sebagai pandai besi.  Bakat seninya sendiri  memang sudah terlihat dari bagaimana dia sering menggambar dengan pensil dan krayon. Meski Roby pernah menempuh sekolah menengah kejuruan di bidang desain grafis, Roby menekuni dunia seni rupa secara otodidak, khususnya seni lukis.

Roby dikenal lewat karya pop surealis yang terasa seperti potongan mimpi. Kanvasnya dipenuhi warna lembut tetapi saling bertabrakan. Terang sekaligus muram, hangat tapi tetap menyimpan jarak.

Setiap lukisan membuka ruang di mana kita bisa merasakan hiruk pikuk alam bawah sadar. Namun, ada juga jeda yang membuat kita sadar bahwa kita berdiri sendirian di dalamnya. Seperti rasa yang dekat dengan ingatan lama, nostalgia, dan luka yang pernah tertinggal.

Dalam pameran tunggal Roby “Lucid Fragments”, kenangan menjadi pusat arah karyanya. Roby juga lekat dengan ikonografi. Ia merakit simbol yang muncul berulang, seperti gadis kelinci, anak-anak bermata besar, capit kepiting, buaya, dinosaurus, gurita, salmon, jantung manusia, sampai tokoh superhero 90an seperti Ultraman dan Batman.

Superhero 90an hadir sebagai penanda masa kecilnya. Ia tumbuh dengan tontonan aksi mereka di televisi. Pengalaman yang memberi rasa senang dan membekas kuat sampai sekarang. Sebaliknya, sosok seperti buaya, dinosaurus, atau capit kepiting punya makna lain. Ia mengemasnya dengan warna yang menegangkan. Sosok-sosok itu menjadi bayangan dari pengalaman pahit. Jejak masa kecil yang masih mengendap.

Keberanian Robby dalam menghadirkan kenangan manis dan kenangan pahitnya dalam kekaryaan yang ia pamerkan tanpa pernah banyak kita sadari sebenarnya mirip dengan kita – “manusia yang terus melangkah", menantang waktu dengan semua memori baik-buruk dimasa lalu.

Sebagaimana Roby membawa semua memori masa kecil sebagai jembatannya menuju dunia seni, Koreeda–sutradara kenamaan Jepang–juga kerap menjadikan anak kecil untuk mendeskripsikan realitas dunia menurutnya.

Humanisme dalam Karya Koreeda

Hirokazu Koreeda adalah sutradara ternama asal Jepang yang kental dengan sisi humanisme dalam karya-karya filmnya. Koreeda menunjukan sisi humanisnya melalui konsep keluarga yang dibumbui konflik, serta visual apik dan minimalis membawa kompleksitas cerita lebih mudah diterima penonton. Selain konsisten dalam membawa unsur keluarga pada karyanya, Koreeda juga kerap menjadikan anak-anak sebagai sentral ceritanya. 

Seperti,  Nobody Knows (2004) yang terinspirasi dari salah satu kasus nyata di Jepang tentang penelantaran anak. Meskipun Koreeda mengemas cerita sedikit berbeda dengan kisah aslinya, ia mencoba membawa sisi lain yang lebih menyentuh untuk memperlihatkan bagaimana keseharian anak-anak–empat bersaudara–bertahan tanpa orang dewasa.

Kemudian, dalam film Like Father, Like Son (2013), anak-anak menjadi pemantik konflik batin yang dialami orang-orang dewasa, dalam film tersebut orang dewasa berpusat pada orang tua. Perdebatan dimulai ketika dua keluarga mengetahui bahwa anak yang dibesarkan mereka tertukar. Hal tersebut menjadi pertimbangan batin kedua orang tua itu untuk membawa anak kandung mereka atau tetap bersama anak yang selama ini mereka besarkan.

Kembali dengan tema ikatan darah dalam keluarga, Koreeda dalam Shoplifters (2018) ingin menghadirkan kehidupan keluarga tradisional–hidup dengan kakek-nenek–di Jepang, yang menurutnya sudah jarang ditemui. Dalam film tersebut, anak-anak memiliki pesan bagaimana sebuah “keluarga” tidak hanya terbentuk atas dasar ikatan darah dan bagaimana hubungan antar anggota keluarga tersebut terbentuk.

Selanjutnya, yang terbaru adalah Monster (2023). Dalam film tersebut, dialog “siapakah monsternya?” menjadi highlight dalam film Monster. Dari pertanyaan berulang tersebut, Koreeda memberikan jawaban dengan cara tersirat. “Monster” yang dipertanyakan tokoh turut membawa pertanyaan kepada penontonnya dan mempertanyakan sisi humanis yang dibawa Koreeda dari tokoh anak kecil. Melalui tokoh anak kecil dalam Monster membawa gambaran realitas anak kecil itu berangkat dari paksaan realitas orang dewasa. Pertanyaan mengenai siapakah monster sebenarnya dijawab dengan menghadirkan sudut pandang dari tokoh anak kecil dan dewasa. Wujud monster dalam film ini bisa berbeda, tergantung pada interpretasi setiap orang melalui kaca mata dari tiap tokoh. Salah satunya, dari sudut pandang dari Minato (anak laki-laki) yang justru beranggapan bahwa dirinya adalah “monster” karena tidak sesuai dengan realitas yang digambarkan orang-orang dewasa di sekelilingnya—ibu dan gurunya.

Konsistensi Koreeda dalam membawa konflik humanisme dalam film-filmnya ini dipercaya berangkat dari titik awal karirnya di perusahaan televisi independen Jepang bernama TV Man Union. Di situ ia menjadi asisten sutradara selama 3 tahun yang kemudian membuat 2 film dokumenter pertamanya di tahun 1991. Film dokumenter yang dibawanya tersebut mengangkat isu humanis, bahkan setelah diangkat menjadi sutradara, Koreeda terus membuat film dokumenter yang menyinggung sisi humanis. Kemudian, dari beberapa wawancara yang dilakukan Koreeda, ia mengaku bahwa sebagian besar ceritanya terinspirasi dari film-film dokumenter yang sebelumnya ia buat itu. 

Seni memang lahir tidak jauh dari keresahan atau buah pemikiran pencipta karyanya itu sendiri. Berbagai pengalaman serta pengetahuan yang mereka punya terkait dunia dituangkan ke dalam karya yang dibuatnya. Seperti, Roby dan Koreeda yang menuangkan memori masa kecil serta realitas sosial menurut mereka, terdapat seniman lainnya pula yang keras dalam mengkritisi isu-isu sosial.

Kritik Sosial dalam Seni 

Komunitas Celah-Celah Langit (CCL) hadir bukan hanya sekadar kelompok teater,  komunitas ini menggunakan panggung teater sebagai lensa yang memotret realitas "tak tersuarakan". Mahesa mengatakan, komunitas ini ada pada akhir masa orde baru karena kebutuhan warga untuk mengekspresikan diri setelah kawasan mereka kehilangan ruang akibat dari pembangunan terminal pada masa itu.

“Kesenian itu sebuah tempat di mana anda bisa mengungkapkan perasaan, keresahan, ide, dan gagasan. Dan bagi kami, kesenian adalah sarana yang paling tepat untuk itu,” kata ketua CCL, Mahesa El Gasani.

Dari berbagai kondisi sosial yang berdampak pada warga, CCL memanfaatkan seni pertunjukan sebagai ruang ekspresi. Namun, pilihan tema yang mengkritisi pemerintah dalam negeri ini, CCL beberapa kali mengalami tekanan, salah satunya dalam  pementasan Bahtera, CCL bahkan sempat didatangi aparat untuk memastikan tidak ada adegan yang dianggap menyinggung institusi tertentu.

CCL tetap membuka pementasannya untuk publik, meskipun menghadapi tekanan, mereka menegaskan akan terus mempertahankan seni sebagai sarana penyadaran. Menurut Mahesa, posisi seni justru memberi ruang paling luas untuk menyuarakan keresahan masyarakat tanpa kekerasan. 

“Siapa yang bisa memenjarakan imajinasi?” ujarnya. 

Saat ini, CCL akan terus membuat karya baru dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Mereka berharap ruang seni akan tetap menjadi wadah yang aman bagi masyarakat untuk memahami dan mengkritisi fenomena sosial politik di sekitar mereka.

Setelah mengenali bagaimana suatu komunitas teater dapat mengkritisi kondisi sosial dalam seni, lalu ada seorang pelukis beraliran realis yang cukup keras dalam kanvasnya, tak ada siratan pesan, hanya ada cacian berbentuk rupa dalam setiap warna kuas yang dituangkannya. 

Yos Suprapto, seniman yang berbasis di Yogyakarta, dikenal sebagai pelukis yang konsisten menggunakan gaya realisme ekstrem, sebuah teknik yang mampu menyajikan detail setajam foto dan menciptakan ilusi visual yang nyaris sempurna. Baginya realisme adalah sarana komunikasi yang  efektif. Ketika lukisan disajikan dengan detail sempurna, ia mendekatkan jarak estetika dan memaksa audiens menghadapi dengan subjek yang disajikan sebagai fakta, bukan hanya representasi untuk memperhalus realita.

Sejak menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia meniti karier yang fokus pada isu-isu sosial dan politik. Selama lebih dari tiga dekade, ia menggunakan realisme untuk menyoroti ketimpangan dan praktik kekuasaan di Indonesia.

Dalam setiap pameran, Yos secara cerdas memadukan gaya realis yang dipengaruhi tradisi realisme sosial  dan simbolisme surealis khas seniman Yogyakarta. Kombinasi antara visual yang nyata dan metafora yang tajam membuat karyanya selalu menggugah, tetapi juga menyenggol norma yang ada.

Namun, pameran Yos Suprapto pada Desember 2024, “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional Indonesia (GNI), lukisannya diminta untuk diturunkan dan ditutupi karena dianggap ‘terlalu vulgar’, memiliki ‘unsur politik’, dan tidak sejalan dengan tema kuratorial menurut para kurator dan pihak GNI.

Ia menganggap bahwa tindakan yang dilakukan tersebut merupakan bentuk dari pembredelan atau sensor terhadap karya seni. Menurutnya, simbolisme dalam karyanya termasuk unsur ketelanjangan yang harus dilihat melalui kacamata seni sebagai metafora kepolosan dan kritik, bukan hanya sebagai vulgaritas murni tanpa proses pemahaman.

Karena tidak menemukan titik temu setelah bermediasi, Yos akhirnya memutuskan untuk menarik seluruh karya seninya. Keputusan ini memicu protes keras, yang melihatnya sebagai salah satu keputusan buruk terhadap kebebasan berekspresi di institusi yang seharusnya menjadi perlindungan seni.

Realisme Yos Suprapto selamanya akan menjadi bukti tentang dilema etis seniman: Di mana batas antara keindahan teknis dan tanggung jawab sosial? Kontroversi ini menjadi pengingat bagi publik Indonesia tentang kerapuhan kebebasan berekspresi dalam kesenian di Nusantara.

Baca Lainnya

Komentar (0)