Hegarmanah | Diperbarui 14:00 WIB Hujan Ringan 26°C | Hujan Ringan

How It Started, How It’s Going: Empat Minggu Suara Nona di Dunia Digital

04 Dec 2025 | 3 menit baca
How It Started, How It’s Going: Empat Minggu Suara Nona di Dunia Digital
Ilustrasi judul oleh redaksi Suara Nona

Di tengah ramainya arus informasi di media digital, Suara Nona lahir sebagai ruang yang menghadirkan cerita, perspektif, dan suara perempuan dengan cara yang hangat, ringan, dan relevan bagi generasi muda. Suara Nona menggabungkan visual yang modern, bahasa yang jujur dan sederhana, serta pendekatan storytelling yang dekat dengan keseharian perempuan muda Indonesia.

Berlandaskan slogan “Insightful Stories, Powerful Voices,” media ini dibangun untuk menjadi jembatan antara isu-isu penting yang menyentuh kehidupan perempuan dengan gaya komunikasi yang fresh dan relatable. Mulai dari panggilan akrab “Non” hingga penyajian konten berbentuk carouselreels, dan interactive yang mengajak audiens berpartisipasi.

Selama empat minggu pelaksanaan proyek Jurnalisme Digital, Suara Nona menghadirkan rangkaian konten tematik yang saling terhubung: mulai dari memperkenalkan ruang media, menyoroti perempuan kreatif, menyelami narasi perjuangan sosial perempuan, hingga mengajak perempuan muda untuk melihat kembali hubungan mereka dengan keberlanjutan hidup. Melalui setiap kontennya, Suara Nona bukan hanya menampilkan kisah, tetapi membangkitkan keberanian untuk bersuara, bergerak, dan mengambil peran sekecil apapun.

Peran Suara Perempuan untuk Kesejahteraan dan Perubahan

Langkah awal perjalanan media Suara Nona dalam memberikan informasi kepada audiens adalah dengan mengangkat sebuah subtema Nona’s Social Activism yang di dalamnya terdapat berbagai bahasan bagaimana seorang perempuan dapat memiliki peran dalam memperjuangkan kesejahteraan sosial di masyarakat. 

Langkah paling awal untuk menarik engagement adalah dengan membuat sebuah story yang di dalamnya menanyakan arti perempuan menurut audiens yang dilanjutkan dengan tanggapan dalam bentuk sebuah konten carousel Instagram yang memberikan motivasi kepada seluruh perempuan agar selalu berani bersuara, melawan, dan melakukan aksi untuk menciptakan suatu perubahan. 

Pada pertengahan rangkaian subtema Nona’s Social Activism, yang tepatnya tanggal 10 November terdapat konten story yang menjadi penghubung antara perjuangan masa lalu dan masa kini, diawali dengan instastory peringatan Hari Pahlawan, dan dilanjutkan oleh pollingPahlawan Masa Kini Menurut Nona” serta question boxKalau jadi Pahlawan, kamu mau berjuang di bidang apa? “ 

Tanggapan audiens dalam question box tersebut menunjukkan tingginya keinginan perempuan untuk berperan aktif dalam memperjuangkan kesejahteraan di bidang kesenian, kuliner, kejurnalistikan, dan kesehatan. Respons tersebut juga mendukung bahwa subtema aktivisme sosial yang diangkat Suara Nona sangat relevan dengan audiens.

Pertengahan rangkaian subtema Nona’s Social Activism kemudian dilanjutkan dengan konten carousel yang memuat informasi mengenai 3 jasa besar perempuan dalam pertempuran 10 November di Surabaya, yang di antaranya adalah:

  1. K’tut Tantri yang berjuang melalui radio, 
  2. Lukitaningsih & PPRI yang berjuang di bidang kesehatan, 
  3. Dariah atau Mbok Dari yang menyediakan logistik pangan selama pertempuran.

Rangkaian subtema Nona’s Social Activism kemudian ditutup oleh konten reels Instagram yang inspiratif dan reflektif bertajuk “She's Reporting, She's Growing, She's Inspiring” dengan mewawancarai seorang jurnalis bernama Virliya Putri Cantika yang menjelaskan perjuangannya dalam menghadapi berbagai tantangan selama bekerja sebagai jurnalis, dan menjelaskan pentingnya menciptakan ruang aman dalam pekerjaan untuk menimbulkan rasa nyaman dalam bekerja.

Di akhir wawancara juga dirinya menyampaikan pentingnya rasa percaya diri untuk memastikan kita dapat survive dalam hal apapun dan menjelaskan bahwa perjuangan bisa dilakukan dalam bentuk apapun seperti ketika kita berangkat ke sekolah, membaca buku, ataupun beristirahat itu sudah menjadi bagian dari perjuangan. Kemudian, Virliya menutup wawancara tersebut dengan kalimat:

“kita hidup nggak satu kali, tapi kita tuh hidup setiap hari”.

Kutipan tersebut menjadi motivasi bagi Suara Nona untuk terus menginspirasi audiens agar selalu berjuang, berani bersuara dan bertindak meskipun ada berbagai tantangan yang harus dihadapi.

Merayakan Perempuan yang Berani Membangun Masa Depan

Minggu kedua perjalanan media Suara Nona hadir dengan tema Nona’s Entrepreneurship, sebuah tema  yang kami pilih dan rancang untuk merayakan perempuan-perempuan muda yang berani mengambil langkah, berani membangun usahanya sendiri, dan berani menghadapi dunia tanpa rasa takut. Dalam konteks masyarakat modern saat ini, perempuan kerap menunjukkan bahwa mereka memiliki suara, otoritas, dan kekuatan untuk menciptakan perubahan. Tema ini menjadi wadah bagi setiap perempuan yang ingin menginspirasi dan menyuarakan perjalanan mereka. 

Pada minggu ini, Suara Nona menghadirkan sebuah feature berjudul “The Life of a Wayang Girl,” yang mengangkat perjalanan Melcyana Wulandari, seorang pengusaha muda yang menghadirkan napas baru bagi seni tradisional wayang golek. Di tengah arus modernisasi dan budaya pop, Melcyana condong memilih merawat warisan lokal dan menjadikannya ruang usaha relevan dan modern bagi generasi muda. Tidak mudah baginya membangun usaha. Melcyana kerap bergulat dengan modal yang terbatas, dukungan yang sedikit, dan pandangan bahwa seni tradisi tidaklah menjanjikan. Namun lewat konsistensi dan keberanian, ia membuktikan bahwa perempuan mampu memimpin ruang kreatif dan menghidupkan kembali tradisi dengan penuh makna.

Kisah tersebut kami harap menjadi pengingat bahwa perempuan tidak harus menunggu pintu kesempatan diberikan kepada mereka. perempuan pasti bisa menciptakan kesempatan itu sendiri. Semangat itulah yang ingin dihidupkan Suara Nona: bahwa mimpi tidak pernah terlalu besar, dan tidak ada suara yang terlalu kecil untuk diperjuangkan.

Beriringan dengan tema kewirausahaan perempuan muda, minggu kedua ternyata juga bertepatan dengan perayaan Hari Anak Perempuan Sedunia. Mengutip semangat pemberdayaan yang digaungkan oleh Kappa Delta, setiap anak perempuan berhak tumbuh dalam ruang yang aman, diberi kesempatan yang setara, dan dihargai suaranya sejak dini. Sejalan dengan itu, Suara Nona turut mengajak Putra Putri Padjadjaran yang baru terpilih untuk mewakili suara anak-anak perempuan pada perayaan ini, yaitu Ni Made Ayu Meylania Shintya (Winner), Apradhita Arrahmi (First Runner Up), Regina Diya Azzahra (Second Runner Up), dan Ananda Ramadhani Khairunnisa (Putri Favorit). Mereka menjadi simbol bahwa perempuan kuat hari ini pernah menjadi anak perempuan yang membutuhkan keyakinan bahwa mimpi mereka valid dan masa depan yang mereka inginkan mungkin untuk diraih. Melalui konten minggu ini, Suara Nona ingin mengingatkan bahwa perempuan tidak dilahirkan untuk diam, tetapi untuk bergerak, bersuara, dan membawa perubahan.

Tema ini adalah wujud nyata dari harapan itu sendiri, bahwa suara perempuan layak didengar, perjalanan mereka layak dibagikan, dan mimpi mereka layak diperjuangkan.

Perempuan dan Ruang Kebebasan dalam Berkarya

Di balik panggung kreatif yang terus berkembang, hadir perempuan-perempuan yang menunjukkan bahwa seni bukan hanya tentang estetika, tetapi keberanian untuk menjadi jujur pada diri sendiri, menyuarakan yang penting, dan membangun ruang yang lebih manusiawi. Perempuan menemukan bahwa seni visual, tari, musik, dan desain adalah cara paling personal untuk berkata, "aku bebas."

Seni menjadi cara bagi banyak perempuan untuk merayakan masa muda, mengungkapkan sudut pandang, dan menentukan masa depan. Makna terdalam dari proses kreatif dapat ditemukan ketika sebuah karya dapat mempengaruhi satu orang saja. 

Satu ide kuat bahwa berkarya adalah bentuk kebebasan muncul ketika orang berbicara tentang dunia kreatif. Kemerdekaan untuk menikmati masa muda, menentukan masa depan, dan menyampaikan perspektif yang paling asli. Seni menjadi ruang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan keresahan, kemarahan, cinta, atau harapan. Seni menemukan maknanya ketika sebuah karya dapat mempengaruhi perasaan orang lain. Sebaliknya, kreativitas juga dianggap sebagai cara untuk memberdayakan perempuan. 

Pada minggu ketiga, Suara Nona mengambil Tema Nona’s Creative Art. Sebagai representatif dari perempuan yang dapat berkontribusi pada masyarakat, keluarga, dan diri mereka sendiri dengan berkarya. Carousel pertama berjudul “Tiga Wajah, Tiga Seni, dan Satu Semangat.” Kami mengangkat arti berkarya menurut ketiga narasumber. Narasumber pertama yaitu Zacharya Griselda sebagai visual artistmanaging editor, Trotter Tales Publishing. Narasumber kedua Putri Januar sebagai penari, serta Jefanya Chrisela sebagai vokalis One Last Dinosaur. Dari ketiga narasumber tersebut kami membuat carousel kedua yang berjudul “Untuk Nona yang Masih Ragu Untuk Berkarya.” Masing-masing narasumber menyampaikan perspektifnya terkait lika-liku dan ketakutan yang dirasakan dalam karir mereka. Hadirnya mereka menjadi bukti bahwa setiap perempuan dapat berkarya tanpa dibatasi apapun selama terdapat keberanian dalam diri.

Ruang kreatif yang lebih besar muncul sebagai hasil dari proses belajar yang panjang. Ini adalah tempat di mana orang dapat bereksperimen, berbagi cerita, dan berkembang bersama. Ada pula yang menemukan dunianya ketika waktu terasa hilang ketika berlatih, membuat musik, atau mencoba konsep baru, dan tiba-tiba hari sudah berganti. 

Momen “lupa waktu” itulah yang menjadi tanda bahwa mereka berada di jalur yang tepat. Para kreator ini menyampaikan pesan yang sama, “mulai saja dulu untuk perempuan yang masih ragu memulai.” Tidak ada kebutuhan untuk menunggu sempurna atau mencari validasi. Proses kreatif membutuhkan keberanian. Keberanian untuk mencoba, gagal, dan merayakan setiap langkah kecil. Dunia membutuhkan suara perempuan, dan seni adalah cara terbaik untuk memberikan nya.

Di Tangan Perempuan, Alam Terjaga

Selain menjadi tangguh, berani, dan juga kreatif, peran perempuan sebagai penjaga alam juga sangat diperlukan. Pada minggu terakhir, Suara Nona memutuskan untuk mengangkat tema Sustainable Lifestyle, yang memperlihatkan peran perempuan dalam keberlanjutan bumi sekaligus mengajak semua Nona untuk turut ikut memberikan dampak kecil nan berarti bagi keberlangsungan hidup ini.

Sebagai pembuka, question box diberikan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan Nona terhadap sustainable lifestyle. Sambil menunggu jawaban terkumpul di dalam question box, informasi mengenai kondisi alam Indonesia yang semakin memburuk juga digunakan untuk memberikan pemahaman terhadap Nona mengenai urgensi sustainable lifestyle pada era ini, terlebih karena diketahui bahwa tema ini berjalan bersamaan dengan terjadinya banjir bandang di Pulau Sumatera yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Tidak berhenti di situ, aktivitas interaktif juga dilakukan melalui unggahan polling yang dipublikasikan lewat instastory. Harapannya, konten tersebut bisa menjadi langkah menarik untuk mengajak Nona turut aktif berperan dalam menjaga bumi.

Sebelum akhirnya menuju ke carousel sebagai konten utama, kami juga memproduksi reels berisikan pertanyaan singkat yang diutarakan kepada mahasiswi di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, terkait penggunaan tumbler sehari-hari.

Sering kali mereka mengungkit tentang betapa hematnya pengeluaran biaya sehari-hari akibat penggunaan tumbler. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya melakukan langkah-langkah sustainable lifestyle sekecil apa pun dalam kehidupan sehari-hari bisa bermanfaat tidak hanya untuk lingkungan dalam skala besar, tetapi juga memberikan keuntungan yang signifikan terhadap diri mereka sendiri. 

Setelah beberapa konten pembuka dan interaktif yang telah dilaksanakan, akhirnya Suara Nona masuk ke dalam konten utama pada minggu terakhirnya yaitu carousel yang berjudul “Bukan Idol Korea, Inilah Suzy Indonesia yang Mengidolakan Sustainable Living!”

Narasumber yang diambil adalah Nona yang berkecimpung di dunia sustainability, namanya adalah Suzy Hutomo. Pemilik akun Instagram @sustainable_suzy itu sudah tumbuh dekat dan terbiasa beraktivitas di alam bersama keluarganya sejak kecil. Mulai dari sana, dirinya mulai mengerti betapa pentingnya kita sebagai manusia untuk menjaga lingkungan, akhirnya Suzy tumbuh menjadi pribadi yang menerapkan prinsip keberlanjutan baik di rumah maupun bisnisnya.

Semangat yang besar itu kemudian ia bawa juga ke komunitas. Melalui gerakan yang lahir bersama The Body Shop, Suzy berbagi cerita dan mengajak orang-orang di sekitarnya untuk ikut serta dalam memberikan tangan kepada lingkungan. Dirinya percaya bahwa komunitas kecil merupakan titik awal dari perubahan besar, karena pertemuan sederhana bisa membuahkan aksi yang nyata. Menurutnya, dengan konsisten terhadap hal kecil, perubahan besar dapat tercipta di tangan kita.

Ketika Cerita Menjadi Jejak 

Empat minggu perjalanan Suara Nona tidak hanya menghadirkan rangkaian konten yang bervariasi, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan yang nyata dari sisi digital. Berdasarkan laporan Professional Dashboard Instagram selama periode 4 November hingga 3 Desember, performa media menunjukkan peningkatan yang signifikan. Secara keseluruhan, Suara Nona berhasil meraih:

  • 53.2K views pada konten yang dipublikasikan.
  • 1.8K interactions yang mencakup likes, komentar, shares, dan saves.
  • 174 pengikut yang bergabung dalam komunitas digital kami.
  • 40 jumlah konten yang dibagikan.

Data menunjukkan bahwa isu yang kami angkat, mulai dari kreativitas, aktivisme sosial, hingga gaya hidup berkelanjutan tidak hanya relevan, tetapi juga mampu menggerakkan audiens untuk terlibat. Respons positif tersebut menjadi validasi bahwa pendekatan storytelling, visual yang playful, serta narasi empatik khas Suara Nona memiliki ruang tersendiri di hati audiens.

Lebih dari sekadar angka, yang paling berharga dari perjalanan ini adalah kesempatan untuk belajar memahami audiens, membangun percakapan, dan menciptakan ruang aman bagi perempuan muda untuk didengar. Suara Nona bukan hanya proyek, tetapi benih kecil dari media yang bisa terus tumbuh, menginspirasi, dan menyuarakan keberanian perempuan Indonesia.

Karena pada akhirnya, setiap cerita perempuan layak didengar.

Penulis:

  1. Shakira Nuha Fella Nouf
  2. Sulthan Devara Aghnat
  3. Salsabyla Dzakwan
  4. Hayyu Khalisa Aulia
  5. Baiqa Jasmine Effendi

Baca Lainnya

Komentar (0)