Hegarmanah | Diperbarui 14:00 WIB Cerah 28°C | Cerah

Beli Barang Preloved, Masih Worth It Atau Zonk?

Foto Debora Christiani Dohona
Debora Christiani Dohona
17 Jul 2026 3 menit baca

Pakaian preloved. (Sumber Foto: Pixabay)

Membeli barang preloved sering kali menghadirkan rasa penasaran sekaligus harapan. Dengan harga yang lebih terjangkau, pembeli berharap mendapatkan barang yang masih layak pakai. Namun, tidak semua transaksi berakhir memuaskan. Di media sosial, masih banyak pengguna yang membagikan pengalaman menerima barang yang tidak sesuai dengan foto maupun deskripsi penjual. Ada yang menerima pakaian dengan warna berbeda, sepatu yang ternyata sudah rusak, hingga barang elektronik yang masih menyala tetapi tidak lagi berfungsi secara maksimal. Tidak sedikit pula yang mengaku berhasil mendapatkan barang berkualitas dengan harga jauh lebih murah dibandingkan produk baru. Beragam pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membeli barang preloved selalu memiliki dua kemungkinan, memperoleh barang sesuai harapan atau justru berakhir zonk.

Meski cerita tentang pembelian yang berakhir mengecewakan terus bermunculan, minat terhadap barang preloved belum surut. Di kalangan mahasiswa, barang bekas yang masih layak pakai semakin mudah ditemukan melalui media sosial, marketplace, hingga akun jual beli mahasiswa. Pilihannya pun beragam, mulai dari pakaian, sepatu, tas, buku, aksesori, hingga perlengkapan elektronik. Harga yang lebih ramah di kantong menjadi daya tarik utama, tetapi bukan satu-satunya alasan mahasiswa memilih barang preloved.

Pandangan tersebut selaras dengan penelitian Fida Ayu Nurrizkia Putri dan Tangguh Dwi Pramono yang berjudul Analysis of Factors Influencing Consumer Attitudes Towards Preloved Fashion in Indonesia (2025). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sikap konsumen terhadap produk fashion preloved tidak hanya dipengaruhi oleh harga, tetapi juga kesenangan saat mencari barang yang sesuai dengan selera serta kesadaran untuk memperpanjang usia pakai barang agar tidak langsung menjadi limbah. Dengan kata lain, nilai sebuah barang tidak hanya diukur dari harganya, tetapi juga dari manfaat yang masih dapat diberikan.

Cara pandang itu dirasakan Devi yang mulai mengenal barang preloved sekitar empat tahun lalu. Ketertarikannya berawal ketika melihat pakaian dengan model yang menurutnya lebih unik dibandingkan produk yang banyak dijual di marketplace. Sejak dua tahun terakhir, ia semakin sering membeli pakaian dan novel bahasa Inggris preloved karena merasa pilihan barangnya lebih beragam dan sesuai dengan selera pribadinya.

"Aku pertama kali tertarik sama barang preloved sekitar empat tahun lalu. Waktu itu aku lihat ada baju yang cantik dan unik, terus jadi penasaran sama dunia thrift dan preloved. Sejak dua tahun terakhir aku jadi lebih sering beli baju dan novel bahasa Inggris preloved. Menurutku, di preloved lebih banyak barang yang sesuai sama seleraku dan harganya juga lebih murah," ujarnya.

Baginya, membeli barang preloved bukan sekadar menghemat pengeluaran. Ia menikmati proses mencari barang yang sesuai dengan kebutuhannya sekaligus merasa ikut memperpanjang masa pakai barang yang masih layak digunakan.

"Menurutku keuntungannya banyak banget. Selain bisa dapat barang yang sesuai sama yang aku cari dengan harga yang lebih murah, kita juga ikut bikin barang itu tetap kepakai dan nggak langsung jadi limbah. Sekarang juga makin banyak orang yang mulai peduli sama hal itu. Terus, aku juga punya prinsip kalau beli sesuatu berarti harus ada barang yang aku keluarin juga. Makanya aku cuma beli barang yang memang aku butuhin, dan kadang aku juga jual lagi barang preloved punyaku yang kondisinya masih bagus supaya bisa dipakai orang lain," katanya.

Meski lebih sering memperoleh barang yang sesuai harapan, Devi pernah menerima pakaian yang kondisinya berbeda dari foto yang dipasang penjual. Ukurannya pun tidak sesuai sehingga tidak nyaman dikenakan. Pengalaman yang ia rasakan tidak membuatnya berhenti membeli barang preloved karena ia masih menikmati proses berburu barang yang sesuai dengan keinginannya.

Semenjak kejadian tersebut, Devi lebih teliti sebelum bertransaksi. Ia tidak lagi hanya mengandalkan foto yang diunggah penjual. Sebelum membeli, Devi selalu memastikan kondisi barang dengan menghubungi penjual secara langsung. Jika masih ragu, ia meminta foto maupun video tambahan agar detail barang terlihat lebih jelas sebelum memutuskan melakukan pembayaran.

Sikap lebih berhati-hati itu membuatnya tetap percaya bahwa barang preloved masih layak dipilih. Menurutnya, selama pembeli memahami risiko dan tidak terburu-buru mengambil keputusan, barang preloved tetap menawarkan banyak keuntungan. Harga yang lebih terjangkau, kualitas yang masih baik, serta kesempatan menemukan barang yang unik membuatnya tetap memilih preloved ketika membutuhkan sesuatu. Ia juga selalu mencuci pakaian yang baru dibeli sebelum digunakan karena riwayat pemakaian barang tersebut tidak diketahui secara pasti.

Di balik meningkatnya minat membeli barang preloved, semakin banyak mahasiswa yang memutuskan menjual barang-barang yang sudah tidak digunakan. Barang yang sebelumnya hanya tersimpan di lemari kini memiliki kesempatan untuk dimanfaatkan kembali oleh orang lain.

Salah satunya adalah Glory. Ia pernah menjual pakaian, sandal, dan boneka melalui media sosial komunitas mahasiswa karena merasa barang-barang tersebut sudah tidak lagi digunakan.

"Aku jual pakaian, sandal, sama boneka karena memang sudah nggak dipakai lagi. Daripada cuma disimpan di rumah, mending dijual lagi supaya bisa dipakai orang lain. Waktu jual sandal, yang paling sering ditanyain pembeli itu ukurannya karena mereka ingin memastikan barangnya pas sebelum membeli," ujarnya.

Menurut Glory, harga yang lebih murah memang menjadi alasan utama mahasiswa memilih barang preloved. Namun, kesempatan untuk menawar harga, melihat kondisi barang secara langsung, serta proses transaksi yang lebih cepat juga menjadi pertimbangan pembeli.

"Dari segi harga lebih murah, bisa nego juga, pembeli bisa cek kondisi barang langsung, dan proses transaksinya lebih cepat kalau lagi butuh," katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Sinta yang pernah menjual hijab melalui media sosial. Ia memilih menjual barang tersebut karena sudah tidak lagi cocok digunakan dan merasa sayang jika hanya disimpan di lemari.

"Aku jual hijab karena merasa nggak cocok saat dipakai dan terasa sia-sia kalau disimpan. Padahal barangnya masih layak dipakai orang lain. Biasanya pembeli nanya bagaimana kondisi barangnya, apakah ada kekurangannya atau nggak, lokasi penjual di mana, sampai masih bisa nego atau tidak," ujarnya.

Bagi Sinta, pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pembeli tidak hanya tertarik pada harga yang lebih murah. Mereka juga ingin memastikan kondisi barang benar-benar sesuai dengan informasi yang diberikan penjual sebelum memutuskan membeli.

"Harganya lebih murah daripada harga pasar. Mengingat mahasiswa punya budget atau uang saku yang terbatas, tapi tetap ingin memiliki barang yang fungsional ataupun tampil modis. Jadi menurutku barang preloved masih menjadi pilihan yang masuk akal buat mahasiswa," katanya.

Setiap orang memiliki pengalaman berbeda-beda dalam bertransaksi barang preloved agar digunakan kembali. Ada yang berhasil menemukan produk berkualitas dengan harga lebih murah, ada pula yang harus belajar dari pengalaman membeli barang yang tidak sesuai harapan. Pada akhirnya, keputusan membeli barang preloved bukan hanya soal harga, tetapi juga soal ketelitian dalam memilih dan kepercayaan antara penjual dan pembeli. 

Berita Lainnya

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 02 September 2026
Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 02 September 2026
Kawasan Pendidikan Jatinangor: Antara Truk dan Mahasiswa

Kawasan Pendidikan Jatinangor: Antara Truk dan Mahasiswa

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 31 Agustus 2026
Piknik Bebas Plastik, Satu Hari Tanpa Sekali Pakai di Taman Panatayuda

Piknik Bebas Plastik, Satu Hari Tanpa Sekali Pakai di Taman Panatayuda

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 30 Agustus 2026
PMBV 2026 #Elevate3.0: Meraki untuk Merasa, Bersama untuk Berdaya

PMBV 2026 #Elevate3.0: Meraki untuk Merasa, Bersama untuk Berdaya

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Bukan Sekedar Boneka Anime: Mengenal Ragam Bentuk dan Lini Merchandise Nuigurumi

Bukan Sekedar Boneka Anime: Mengenal Ragam Bentuk dan Lini Merchandise Nuigurumi

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026

Rekomendasi Untuk Anda

Pendidikan

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

0 0 0 Komentar | 02 September 2026
Pendidikan

Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

0 0 0 Komentar | 02 September 2026
Lifestyle

Kawasan Pendidikan Jatinangor: Antara Truk dan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 31 Agustus 2026
Lifestyle

Piknik Bebas Plastik, Satu Hari Tanpa Sekali Pakai di Taman Panatayuda

0 0 0 Komentar | 30 Agustus 2026
Pendidikan

PMBV 2026 #Elevate3.0: Meraki untuk Merasa, Bersama untuk Berdaya

0 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Lifestyle

Bukan Sekedar Boneka Anime: Mengenal Ragam Bentuk dan Lini Merchandise Nuigurumi

0 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Lifestyle

Lebih dari Sekadar Fandom: NCTzen Humanity dan Solidaritas untuk Korban Bencana

0 0 0 Komentar | 22 Agustus 2026
Lifestyle

Esensi Banner Skripsi dan kelulusan: Bentuk budaya populer dikalangan mahasiswa

0 0 0 Komentar | 22 Agustus 2026
Event

PKKMB Fikom Unpad 2026 Resmi Dimulai, Asrayaloka Jadi Ruang Awal Mahasiswa Baru Mengenal Fikom

0 0 0 Komentar | 18 Agustus 2026
Event

Beragam UKM Unpad Hiasi Rangkaian Prabu 2026

0 0 0 Komentar | 11 Agustus 2026
Event

Hari Kedua Prabu 2026, Mahasiswa Baru Ikuti Talkshow, Parade, Hingga Student Festival

0 0 0 Komentar | 11 Agustus 2026
Event

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Hadiri PKKMB Unpad 2026, Soroti Akses Pendidikan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Event

12.982 Mahasiswa Baru Mulai Langkah Pertama di PKKMB Unpad 2026

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Event

12.982 Mahasiswa Baru Mulai Langkah Pertama di PKKMB Unpad 2026

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Pendidikan

Hari Pertama PAMUKA 2026, Mahasiswa Baru Kenali Layanan dan Kehidupan Kampus

0 0 0 Komentar | 03 Agustus 2026
Lifestyle

Ketika Makeup Menjadi Bahasa Ekspresi Generasi Muda

0 0 0 Komentar | 02 Agustus 2026
Budaya

Meracik Inovasi: Minuman Tradisional Beradaptasi di Tengah Tren Kekinian

0 0 0 Komentar | 26 Juli 2026
Lifestyle

Membedah Stereotype "Cegil" Terhadap Film Obsession

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Trend Olah Raga lari yang Bergeser Jadi Trend Adu Busana

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Mengelola Cortisol, Mengelola Stres: Cara Ilmiah Mahasiswa Cegah Burnout

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Di Balik Tren Membawa Tumbler di Kalangan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 20 Juli 2026
Lifestyle

Mengintip Komunitas B-Blade, Berdiri 32 Tahun Asah Atlet Sepatu Roda di Bandung

0 0 0 Komentar | 18 Juli 2026
Lifestyle

Cabinet Couture Season 2: Apa yang ditakuti dari akun pengulas outfit pejabat hingga diblokir KOMDIGI?

0 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Event

Ada Apa di Pasar Kreatif Bandung d'Botanica Hari Ini

1 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Lifestyle

Beli Barang Preloved, Masih Worth It Atau Zonk?

1 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Lifestyle

Acai Bowl Jadi Tren Healthy Food di Kalangan Penggemar CORTIS

2 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Budaya

5 Hal Menarik di Balik Asia Africa Festival 2026

2 0 0 Komentar | 13 Juli 2026

Komentar (0)