Hegarmanah | Diperbarui 14:00 WIB Cerah 28°C | Cerah

Trend Olah Raga lari yang Bergeser Jadi Trend Adu Busana

Foto Yasha Aurelian
Yasha Aurelian
24 Jul 2026 3 menit baca
Sumber: monikersport.no

Setiap weekend, taman kota dan jalur car free day dipenuhi orang-orang berbusana lengkap untuk lari dan sepatu warna mencolok. Mereka bergerak dalam formasi rapi, lalu membubarkan diri jadi obrolan santai sambil menyeruput segelas Americano. Dari luar, ini terlihat seperti olahraga biasa saja. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, ada yang berubah. Orang-orang ini sepertinya tidak sekadar datang untuk lari. Mereka datang untuk terlihat, untuk direkam, dan untuk dikenali sebagai bagian dari sebuah kelompok.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ini hasil dari pergeseran budaya yang berlangsung diam-diam selama beberapa tahun terakhir. Lari, olahraga yang dulu identik dengan kesederhanaan, kini berubah jadi salah satu penanda identitas sosial paling kuat di kalangan anak muda.

Running club sebenarnya bukan hal baru. Tapi versi Running club hari ini punya wajah yang jauh berbeda dari komunitas jogging generasi sebelumnya. Menurut analisis The Drum, anggota Running club masa kini bukan sekadar pelari. Mereka disebut sebagai "cultural coders", orang-orang yang memakai aktivitas fisik sebagai sinyal gaya hidup, bukan semata pencapaian atletik. Cirinya cukup jelas terlihat seperti jaket lari dari label mahal, topi tertentu, sepatu trail dari merek yang sedang naik daun, dan kacamata yang aerodinamis. Semuanya ditata dengan sangat rapi, dan dokumentasi di media sosial dengan strava sudah jadi bagian yang tidak bisa dilewatkan dari rutinitas ini.

Yang menarik, penulis di The Drum menyamakan pergeseran ini dengan yang dulu terjadi pada budaya streetwear, sebuah kode yang menandakan selera, kelompok, dan rasa memiliki. Streetwear dulu adalah fashion kaum outsider dan subkultur. Sekarang, giliran lari yang mengambil posisi itu.

Argumen ini bukan cuma soal estetika sebenarnya. Kolom di Yahoo Creators menjelaskannya lebih gamblang lagi kalo apparel yang dipilih seorang pelari adalah indikator status. Kaos band bekas hasil thrifting, singlet dari Boston Marathon, atau tampil serba Nike dari kepala sampai kaki, semuanya menyampaikan cerita tentang nilai dan posisi sosial orang yang memakainya. Dengan kata lain, fashion di dunia lari bukan lagi sekadar pelengkap. Ini sudah jadi bahasa non-verbal yang dipakai komunitas untuk saling mengenali satu sama lain.

Pergeseran ini juga mengubah wajah acara lari besar. Alih-alih murni kompetisi, marathon week di kota-kota besar mulai terasa seperti festival musik atau pekan mode. Ada sesi lari pagi bertema sarapan bersama, diskusi panel, sampai malam DJ. Di Paris Marathon misalnya, brand seperti Satisfy bahkan membuka layanan kaos custom untuk peserta. Aktivasi semacam ini jauh lebih dekat ke dunia fashion week ketimbang ke garis start lomba lari tradisional.

Ketika Brand Mulai Membaca Situasi Ini

Perubahan budaya semacam ini tentu tidak luput dari radar industri. Brand-brand olahraga besar justru mulai secara sadar merombak strategi mereka untuk merespons, bahkan ikut memproduksi ulang, kebutuhan identitas visual yang tumbuh dari komunitas lari itu sendiri.

Analisis di newsletter Friday Thread menjelaskan logika bisnis di balik pergeseran ini cukup tajam. Kolaborasi antara brand lari dan rumah mode, katanya, sebenarnya tidak dirancang supaya orang bisa berlari lebih baik. Kolaborasi semacam ini dirancang untuk menciptakan objek yang estetis dan diinginkan, yang kebetulan bisa dipakai untuk berlari. Konsekuensinya cukup terasa dari sisi harga, kaos lari biasa dari sebuah brand performa bisa dijual sekitar 60 pound, sementara versi hasil kolaborasinya dengan rumah mode mewah bisa mencapai 320 pound. Spesifikasi teknisnya mungkin mirip saja, yang membedakan adalah desain, nama besar yang menempel, dan hak istimewa memiliki produk hasil kolaborasi.

Contoh paling konkret dari pergeseran ini datang dari brand olah raga On, brand asal Swiss yang selama satu dekade terakhir mengubah citranya secara drastis. Newsletter Sportsverse mencatat On sengaja bergerak menjauh dari strategi lamanya, yaitu mengandalkan toko ritel khusus lari dan endorsement atlet secara organik, menuju kampanye pemasaran berskala besar untuk memposisikan diri sebagai alternatif budaya terhadap raksasa lama seperti Nike dan Adidas.

Laporan Forbes merinci bagaimana strategi kolaborasi On merentang jauh melampaui dunia olahraga. Mulai dari kolaborasi dengan rumah mode mewah Loewe, kerja sama dengan musisi seperti FKA Twigs dan Zendaya, sampai toko flagship yang sengaja dibuka bukan di kota-kota olahraga, melainkan di ibu kota mode dunia seperti Paris, London, dan Milan. Kolaborasi On dengan Loewe sendiri sudah berjalan sejak awal 2020-an dan terus berlanjut lewat rilis demi rilis sepatu seperti Cloudtilt dan Cloudsolo, yang harganya jauh di atas produk performa reguler mereka.

Efek dari strategi ini cukup besar juga rupanya. Menurut liputan Mr Porter, transformasi On mengubah sol berbentuk awan yang dulu dianggap unik itu jadi objek fashion, lalu memperdalam pengaruhnya lewat kolaborasi dengan Loewe dan label seperti Post Archive Faction. Sampai pada titik tertentu, Nike dan Adidas, dua raksasa yang selama puluhan tahun mendikte tren, untuk pertama kalinya dalam waktu lama justru terlihat bereaksi terhadap gerakan yang dimulai brand yang jauh lebih kecil dari mereka.

Pola serupa juga terjadi di segmen yang lebih dekat ke jalanan. Liputan Complex mencatat munculnya gelombang brand lari yang sengaja memadukan gear performa dengan estetika streetwear, seperti Satisfy, District Vision, dan Post Archive Faction. Sebaliknya, label streetwear pun mulai merambah dunia performa, contohnya lini K-Tech dari Kith hasil kolaborasi dengan On. Arahnya jadi dua arah begitu. Brand lari belajar bahasa streetwear, dan brand streetwear belajar bahasa performa.

Sebenarnya, Produk Ini Untuk Siapa?

Di balik kisah sukses kolaborasi dan pertumbuhan pasar ini, ada pertanyaan yang lebih mengganggu. Marathon Handbook, dalam liputannya dari salah satu pameran dagang lari terbesar, menyoroti ketegangan yang mulai muncul di industri ini. Semakin banyak sepatu yang dirancang untuk memuaskan pelari profesional sekaligus influencer secara bersamaan. Ketika sebuah produk dirancang untuk dua audiens dengan kebutuhan yang sebenarnya berbeda, muncul pertanyaan yang lebih mendasar, produk itu sebenarnya dirancang untuk siapa. Ada sepatu yang berhasil menyeimbangkan keduanya dengan baik, tapi ada juga yang akhirnya terasa seperti sepatu lifestyle yang menyamar jadi gear performa.

Bukan sekadar tren fashion musiman biasa, tapi lebih ke studi kasus tentang bagaimana sebuah komunitas otentik, yang lahir dari kebutuhan sederhana untuk bergerak dan terhubung dengan orang lain, perlahan berubah jadi lahan subur bagi logika komersial industri mode. Budaya Running club menciptakan permintaan akan identitas visual. Brand membaca permintaan itu, lalu memproduksinya kembali dalam bentuk kolaborasi bernilai jual tinggi. Dan pelari sendiri, di tengah semua ini, harus memutuskan sendiri. Apakah mereka berlari untuk diri sendiri, atau berlari supaya terlihat sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.

 

 

Berita Lainnya

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 02 September 2026
Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 02 September 2026
Kawasan Pendidikan Jatinangor: Antara Truk dan Mahasiswa

Kawasan Pendidikan Jatinangor: Antara Truk dan Mahasiswa

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 31 Agustus 2026
Piknik Bebas Plastik, Satu Hari Tanpa Sekali Pakai di Taman Panatayuda

Piknik Bebas Plastik, Satu Hari Tanpa Sekali Pakai di Taman Panatayuda

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 30 Agustus 2026
PMBV 2026 #Elevate3.0: Meraki untuk Merasa, Bersama untuk Berdaya

PMBV 2026 #Elevate3.0: Meraki untuk Merasa, Bersama untuk Berdaya

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Bukan Sekedar Boneka Anime: Mengenal Ragam Bentuk dan Lini Merchandise Nuigurumi

Bukan Sekedar Boneka Anime: Mengenal Ragam Bentuk dan Lini Merchandise Nuigurumi

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026

Rekomendasi Untuk Anda

Pendidikan

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

0 0 0 Komentar | 02 September 2026
Pendidikan

Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

0 0 0 Komentar | 02 September 2026
Lifestyle

Kawasan Pendidikan Jatinangor: Antara Truk dan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 31 Agustus 2026
Lifestyle

Piknik Bebas Plastik, Satu Hari Tanpa Sekali Pakai di Taman Panatayuda

0 0 0 Komentar | 30 Agustus 2026
Pendidikan

PMBV 2026 #Elevate3.0: Meraki untuk Merasa, Bersama untuk Berdaya

0 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Lifestyle

Bukan Sekedar Boneka Anime: Mengenal Ragam Bentuk dan Lini Merchandise Nuigurumi

0 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Lifestyle

Lebih dari Sekadar Fandom: NCTzen Humanity dan Solidaritas untuk Korban Bencana

0 0 0 Komentar | 22 Agustus 2026
Lifestyle

Esensi Banner Skripsi dan kelulusan: Bentuk budaya populer dikalangan mahasiswa

0 0 0 Komentar | 22 Agustus 2026
Event

PKKMB Fikom Unpad 2026 Resmi Dimulai, Asrayaloka Jadi Ruang Awal Mahasiswa Baru Mengenal Fikom

0 0 0 Komentar | 18 Agustus 2026
Event

Beragam UKM Unpad Hiasi Rangkaian Prabu 2026

0 0 0 Komentar | 11 Agustus 2026
Event

Hari Kedua Prabu 2026, Mahasiswa Baru Ikuti Talkshow, Parade, Hingga Student Festival

0 0 0 Komentar | 11 Agustus 2026
Event

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Hadiri PKKMB Unpad 2026, Soroti Akses Pendidikan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Event

12.982 Mahasiswa Baru Mulai Langkah Pertama di PKKMB Unpad 2026

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Event

12.982 Mahasiswa Baru Mulai Langkah Pertama di PKKMB Unpad 2026

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Pendidikan

Hari Pertama PAMUKA 2026, Mahasiswa Baru Kenali Layanan dan Kehidupan Kampus

0 0 0 Komentar | 03 Agustus 2026
Lifestyle

Ketika Makeup Menjadi Bahasa Ekspresi Generasi Muda

0 0 0 Komentar | 02 Agustus 2026
Budaya

Meracik Inovasi: Minuman Tradisional Beradaptasi di Tengah Tren Kekinian

0 0 0 Komentar | 26 Juli 2026
Lifestyle

Membedah Stereotype "Cegil" Terhadap Film Obsession

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Trend Olah Raga lari yang Bergeser Jadi Trend Adu Busana

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Mengelola Cortisol, Mengelola Stres: Cara Ilmiah Mahasiswa Cegah Burnout

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Di Balik Tren Membawa Tumbler di Kalangan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 20 Juli 2026
Lifestyle

Mengintip Komunitas B-Blade, Berdiri 32 Tahun Asah Atlet Sepatu Roda di Bandung

0 0 0 Komentar | 18 Juli 2026
Lifestyle

Cabinet Couture Season 2: Apa yang ditakuti dari akun pengulas outfit pejabat hingga diblokir KOMDIGI?

0 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Event

Ada Apa di Pasar Kreatif Bandung d'Botanica Hari Ini

1 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Lifestyle

Beli Barang Preloved, Masih Worth It Atau Zonk?

1 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Lifestyle

Acai Bowl Jadi Tren Healthy Food di Kalangan Penggemar CORTIS

2 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Budaya

5 Hal Menarik di Balik Asia Africa Festival 2026

2 0 0 Komentar | 13 Juli 2026

Komentar (0)