Hegarmanah | Diperbarui 12:00 WIB Cerah 28°C | Cerah

Membedah Stereotype "Cegil" Terhadap Film Obsession

Foto Debora Christiani Dohona
Debora Christiani Dohona
24 Jul 2026 3 menit baca

Cuplikan trailer film Obsession (2026). (Sumber: YouTube)

“Gw suka yang cegil-cegil plis pertemukan” 

Kalimat singkat itu menjadi satu dari sekian banyak komentar yang membanjiri linimasa media sosial tak lama setelah potongan film Obsession ramai dibicarakan. Sejak tayang dan menjadi bahan perbincangan hangat di TikTok, X, hingga Instagram, film horor psikologis karya Curry Barker ini tak hanya menarik perhatian lewat alur ceritanya, tetapi juga memicu perdebatan di media sosial mengenai karakter Nikki. Sejumlah warganet menyebutnya sebagai sosok "cegil" atau singkatan dari cewek gila, sementara yang lain menilai pelabelan tersebut justru mengaburkan pesan utama film. Mereka menilai masyarakat terlalu cepat menghakimi karakter perempuan, hingga justru melewatkan inti cerita sebenarnya tentang sebuah relasi yang manipulatif dan tidak sehat.

Film Obsession sendiri mengisahkan Bear adalah seorang pemuda yang diam-diam memendam rasa cinta mendalam pada sahabat sekaligus rekan kerjanya, Nikki. Demi mendapatkan balasan cinta besar, Bear nekat menggunakan sebuah jimat bernama One Wish Willow, yang seharusnya jimat tersebut menjadi hadiah ulang tahun Nikki. Permintaan itu berhasil, namun harga yang harus dibayar tidaklah murah. Hubungan mereka dengan cepat bertransisi menjadi ikatan yang penuh obsesi, kontrol berlebihan, dan manipulasi psikologis. Ironisnya, percakapan publik di media sosial justru hampir sepenuhnya berpusat pada perubahan sikap Nikki yang mendadak ekstrem. Istilah “cegil” kemudian berulang kali muncul kolom komentar dan unggahan pengguna media sosial, seolah melupakan fakta bahwa pemicu utama dari kehancuran dan perubahan perilaku Nikki adalah tindakan manipulatif Bear sejak awal.

 

Stereotip yang Berubah Menjadi Stigma 

Fenomena tersebut menunjukkan betapa cepatnya sebuah label melekat pada seseorang, bahkan ketika konteks persoalan belum sepenuhnya dipahami. Dalam psikologi sosial, kecenderungan itu dikenal sebagai stereotype, yaitu proses mengelompokkan seseorang berdasarkan karakteristik tertentu agar lebih mudah memahami lingkungan sosial. Konsep ini dikemukakan oleh psikolog sosial Susan T. Fiske, yang memandang stereotipe sebagai mekanisme alami dalam proses berpikir manusia. 

Pandangan serupa disampaikan Dosen sekaligus Psikolog Universitas Padjadjaran, Eka Riyanti Purboningsih, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Ia menyebut dari sudut pandang psikologi bahwa kecenderungan manusia untuk memberi label atau Stereotype sebenarnya merupakan proses mental yang wajar dan alami pada manusia. Pengelompokan ini pada dasarnya berfungsi untuk memudahkan individu dalam berinteraksi dan memahami lingkungan sosial di sekitarnya.

​"Jadi stereotype itu kita mengelompokkan seseorang berdasarkan ciri-cirinya, bisa secara fisik atau sifat. Misalnya, 'Oh kalau suaranya keras, gampang marah, itu dari orang timur'. Nah, itu tuh untuk memudahkan kita berinteraksi sebenarnya. Kan dengan begitu kita tahu, 'Oh dia dari sini, oh dia dari situ'. Itu fungsi yang pertama. Fungsi yang kedua adalah memudahkan kita melihat pada siapa sih kita lebih mirip. Kan orang wajar ya, berteman dengan yang mirip. 'Oh kalau karakteristiknya kayak gini, sifatnya ekstrovert, aku lebih cocok nih'. Nah, jadi memang stereotype itu memudahkan seseorang untuk berinteraksi sebenarnya."

Pengelompokan tersebut tidak serta-merta bermakna positif maupun negatif. Stereotip baru menjadi persoalan ketika masyarakat mulai memberikan penilaian terhadap kelompok tertentu. Dalam istilah "cegil", kata "gila" membawa konotasi negatif sehingga orang yang menerima label tersebut tidak lagi dipandang sebagai individu dengan latar belakang yang berbeda-beda, melainkan hanya melalui cap yang dilekatkan kepadanya. Dari proses stigma inilah kemudian lahir sikap diskriminasi dan penolakan sosial di tengah masyarakat.

​"Sebenarnya itu enggak ada evaluasi positif atau negatif ya, itu hanya mengelompokkan aja. 'Yang kayak gitu-gitu mah Cegil lah', gitu. Nextnya, ketika dia bilang, 'Jangan pacaran sama yang kayak gitu, lu nanti jadi ini misal'. Nah, ada evaluasi negatif di situ. Artinya dia udah menilai kalau karakteristik yang kayak gitu masuk ke kelompok ‘cegil’, dan itu tuh enggak bagus buat kamu.
​Nah, kalau lihat dari reaksinya warganet, seolah itu udah ada evaluasi negatifnya. ‘Cegil tuh sinting, perilakunya tuh enggak bagus banget lah’. Kalau tadi kita lihat fungsinya untuk memudahkan kita berinteraksi sosial, sebenarnya sama. Jadi kalau lu ketemu cewek dengan karakteristik kayak gini, ‘Kayaknya lu waspada deh, itu tuh mirip-mirip kayak ’cegil'. Kayak gitu sebenarnya."

Penyebaran stereotip kini berlangsung jauh lebih masif dan tak terkendali akibat hadirnya media sosial. Jika dahulu stereotip membutuhkan waktu untuk menyebar dari mulut ke mulut atau warisan antar-generasi, algoritma media sosial kini bertindak sebagai penguat (exaggerate) yang bekerja tanpa henti. Menurut Eka, media sosial memudahkan publik untuk membicarakan satu topik yang sama selama 24 jam sehari. Begitu sebuah istilah menjadi tren yang viral, unggahan dan komentar akan beruntun bermunculan, memaksa pengguna media sosial untuk mengonsumsi dan mempercayai label tersebut sebagai sebuah kebenaran umum.

 

Ketika Bias Gender Membentuk Penilaian

Perbincangan mengenai Nikki juga memperlihatkan bagaimana pelabelan “cegil” tidak bisa dilepaskan dari bias gender dan konstruksi budaya patriarki yang masih mengakar. Masyarakat sering kali menerapkan standar ganda dalam menilai perilaku laki-laki dan perempuan di dalam sebuah hubungan. Dalam hubungan romantis, laki-laki umumnya dipersepsikan memiliki peran sebagai pelindung sehingga perilaku mengontrol pasangan lebih mudah dianggap sebagai bentuk kepedulian. Sebaliknya, ketika perempuan menunjukkan perilaku yang sama, respons yang muncul justru berupa pelabelan sebagai sosok yang pencemburu, posesif, toksik, atau "cegil". Padahal, keduanya sama-sama menunjukkan perilaku yang bersifat mengekang. Secara penelitian ilmiah, risiko terkena pelabelan sebenarnya dapat dialami oleh gender mana pun. Namun dalam realitas sosial, perempuan jauh lebih rentan mendapat penilaian buruk ketika menunjukkan respons emosional atau keinginan untuk memegang kontrol. 

Dalam kasus hubungan yang bermasalah, perhatian masyarakat kerap lebih dahulu tertuju pada perempuan daripada mencoba memahami persoalan secara utuh. Akibatnya pelabelan berkembang menjadi bentuk victim blaming yang semakin menyudutkan korban. Kebiasaan warganet yang gemar memberi label kepada tokoh fiksi maupun individu di kehidupan nyata juga berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri atau coping mechanism. Membicarakan persoalan orang lain sering kali terasa lebih mudah daripada menghadapi persoalan yang dialami diri sendiri.

"Mudah sekali melakukan stereotype atau pelebelan seperti 'ini cewek gila nih' atau apapun itu. Menurut saya, salah satunya adalah bentuk cara dia mengatasi permasalahan yang sebenarnya dia hadapi. Jadi, dia mengalihkan apa yang menjadi permasalahan pribadinya ke permasalahan orang lain."

Istilah “cegil” yang mengiringi ramainya Obsession akhirnya bukan sekadar memperlihatkan bagaimana sebuah istilah menjadi tren di media sosial. Di balik ribuan komentar yang bermunculan, terdapat kecenderungan masyarakat untuk menyederhanakan seseorang ke dalam satu label tanpa memahami keseluruhan konteks. Padahal sebuah adegan dalam film tersebut, sebuah hubungan tidak sehat tidak dapat dipahami hanya dari satu tokoh atau satu potongan adegan.

 

Berita Lainnya

Ketika Makeup Menjadi Bahasa Ekspresi Generasi Muda

Ketika Makeup Menjadi Bahasa Ekspresi Generasi Muda

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 21 jam lalu
Meracik Inovasi: Minuman Tradisional Beradaptasi di Tengah Tren Kekinian

Meracik Inovasi: Minuman Tradisional Beradaptasi di Tengah Tren Kekinian

Budaya
Dislike 0 0 Komentar | 26 Juli 2026
Membedah Stereotype "Cegil" Terhadap Film Obsession

Membedah Stereotype "Cegil" Terhadap Film Obsession

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Trend Olah Raga lari yang Bergeser Jadi Trend Adu Busana

Trend Olah Raga lari yang Bergeser Jadi Trend Adu Busana

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Mengelola Cortisol, Mengelola Stres: Cara Ilmiah Mahasiswa Cegah Burnout

Mengelola Cortisol, Mengelola Stres: Cara Ilmiah Mahasiswa Cegah Burnout

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Di Balik Tren Membawa Tumbler di Kalangan Mahasiswa

Di Balik Tren Membawa Tumbler di Kalangan Mahasiswa

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 20 Juli 2026

Rekomendasi Untuk Anda

Lifestyle

Ketika Makeup Menjadi Bahasa Ekspresi Generasi Muda

0 0 0 Komentar | 21 jam lalu
Budaya

Meracik Inovasi: Minuman Tradisional Beradaptasi di Tengah Tren Kekinian

0 0 0 Komentar | 26 Juli 2026
Lifestyle

Membedah Stereotype "Cegil" Terhadap Film Obsession

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Trend Olah Raga lari yang Bergeser Jadi Trend Adu Busana

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Mengelola Cortisol, Mengelola Stres: Cara Ilmiah Mahasiswa Cegah Burnout

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Di Balik Tren Membawa Tumbler di Kalangan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 20 Juli 2026
Lifestyle

Mengintip Komunitas B-Blade, Berdiri 32 Tahun Asah Atlet Sepatu Roda di Bandung

0 0 0 Komentar | 18 Juli 2026
Lifestyle

Cabinet Couture Season 2: Apa yang ditakuti dari akun pengulas outfit pejabat hingga diblokir KOMDIGI?

0 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Event

Ada Apa di Pasar Kreatif Bandung d'Botanica Hari Ini

1 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Lifestyle

Beli Barang Preloved, Masih Worth It Atau Zonk?

1 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Lifestyle

Acai Bowl Jadi Tren Healthy Food di Kalangan Penggemar CORTIS

2 0 0 Komentar | 17 Juli 2026
Budaya

5 Hal Menarik di Balik Asia Africa Festival 2026

2 0 0 Komentar | 13 Juli 2026
Pendidikan

Unpad Terjunkan 1.542 Mahasiswa KKN Perkuat Kolaborasi dengan Pemda dan Perpusnas

2 0 0 Komentar | 11 Juli 2026
Event

Ada Apa di Kopi Fest Indonesia 2026 Paskal Bandung Hari Ini?

0 0 0 Komentar | 10 Juli 2026
Lifestyle

Calisthenics: Opsi Olahraga Termurah dan Paling Pas untuk Gaya Hidup Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 09 Juli 2026
Pendidikan

Rencana Jatinangor Jadi Kota Pelajar, Dua Kampus Besar Ungkap Kesiapannya

0 0 0 Komentar | 09 Juli 2026
Lifestyle

Kafe di Jatinangor Makin Banyak, Bikin Produktif atau Konsumtif?

0 0 0 Komentar | 08 Juli 2026
Pendidikan

Momen Perdana DPL Dan Kordes KKN UNPAD Dibekali Langsung Oleh Sekda Jawa Barat

1 0 0 Komentar | 07 Juli 2026
Lifestyle

Keputusan kontroversi Sony Playstation 5 Berhentikan Produksi Game Fisik: Hilangnya Minat Pemain Game Berbentuk Fisik

0 0 0 Komentar | 06 Juli 2026
Pendidikan

Jelang Tahun Ajaran Baru,Calon Mahasiswa Dihimbau Waspadai Modus Penipuan Saat Mencari Kost di Jatinangor

0 0 0 Komentar | 05 Juli 2026
Lifestyle

Dari Koleksi ke Aksesoris, Blind Box Jadi Tren OOTD Anak Muda

1 0 0 Komentar | 04 Juli 2026
Lifestyle

Hiking Menjadi Pilihan Olahraga Diminati Kalangan Generasi Z

1 0 0 Komentar | 04 Juli 2026
Pendidikan

Program BTI 2026 Bekali Siswa SMA Tingkatkan Kompetensi di Bidang STEM

1 0 0 Komentar | 04 Juli 2026
Pendidikan

Graduation WMP 2026 Batch 1 Bekali Mahasiswa Unpad Bangun Usaha dan Perkuat Literasi Koperasi

1 0 0 Komentar | 03 Juli 2026
Budaya

Menjelajahi sejarah, Tradisi dan Kuliner Dunia di Festival Budaya 2026

0 0 0 Komentar | 28 Juni 2026
Pendidikan

Fikom Unpad dan University of Queensland Buka Peluang Program Double Degree dan Pertukaran Mahasiswa Baru

0 0 0 Komentar | 28 Juni 2026
Pendidikan

Ragam Catatan dan Apresiasi di Balik Gelaran Festival Budaya Fikom Unpad 2026

0 0 0 Komentar | 25 Juni 2026

Komentar (0)