Hegarmanah | Diperbarui 09:00 WIB Cerah 25°C | Cerah

Menjelajah Teknologi yang Kini Menggerakan Dunia Olahraga

04 Dec 2025 | 3 menit baca
Menjelajah Teknologi yang Kini Menggerakan Dunia Olahraga
Beragam teknologi dalam dunia olahraga

Di lapangan, di arena permainan, dan di lintasan, olahraga selalu terlihat sebagai aktivitas yang mengandalkan tubuh. Tetapi, tanpa disadari, ada peran penting di balik setiap prosesnya, yaitu teknologi. Kehidupan sehari-hari lebih terasa lebih mudah di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dunia olahraga pun turut berkembang di dalamnya.

 

Olahraga merupakan salah satu bidang yang cepat dalam perkembangannya. Teknologi itu hadir dalam bentuk kecerdasan dalam smartwatch, mesin dibalik beroperasinya permainan bowling, dan masih banyak lagi. Adanya teknologi menghadirkan dunia olahraga yang tidak lagi berlari sendiri, ia beriringan dengan inovasi teknologi yang terus berkembang dan saling melengkapi. 

 

Mengintip Rahasia Kecerdasan Smartwatch

Kini, orang yang gemar berolahraga hampir tidak lepas dari teman pintarnya, yaitu smartwatch. Perangkat kecil ini memiliki kelebihan super dibandingkan jam tangan biasanya. 

 

Bukan hanya sekadar menunjukkan waktu, smartwatch mampu memantau kondisi tubuh dan mendeteksi detak jantung ketika penggunanya bergerak. Saat aktivitas pengguna meningkat, cahaya  hijau muncul di baliknya sebagai tanda bahwa sensor bernama photoplethysmogram (PPG) sedang bekerja. 

 

“Sensor PPG adalah sensor yang spesifik untuk membaca detak jantung kamu dengan prinsip pencahayaan atau sinar yang ada di bagian belakang smartwatch. Sensor PPG ini biasanya dikombinasikan dengan sensor giroskop atau pendeteksi gerakan tubuh,” ujar Septian Ari Kurniawan, S.T., M.T., dosen Teknik Elektro Universitas Padjadjaran.

 

Sensor PPG tersusun dari sumber cahaya atau Light Emitting Diode (LED) dan fotodetektor, yaitu perangkat yang dapat mendeteksi cahaya dengan mengubah energi cahaya menjadi arus listrik. LED memancarkan cahaya kepada jaringan di pergelangan tangan, sementara fotodetektor bertugas untuk mengukur jumlah cahaya yang dipantulkan dari jaringan tersebut.

 

Ketika darah mengalir melalui arteri, sebagian cahaya akan diserap lebih banyak sehingga jumlah cahaya yang diterima fotodetektor menurun. Proses ini menghasilkan gelombang denyut yang menggambarkan ritme jantung pengguna.

 

Selain mengandalkan sensor, smartwatch juga memiliki rahasia di balik ketahanan baterainya. Bukan baterai AA atau AAA yang biasa kita jumpai di minimarket, tapi baterai Lithium Polymer (LiPo) yang dibuat dari bahan dasar lithium polymer, yaitu jenis bahan kimia baterai yang menggunakan elektrolit berbentuk polymer padat atau gel. 

 

Menurut Septian Ari Kurniawan,  baterai Lithium Polymer merupakan jenis baterai yang paling utama digunakan dalam smartwatch saat ini, karena dinilai paling fleksibel dalam hal perubahan ukuran sehingga paling mudah untuk dikembangkan. Meski begitu, bentuknya fleksibel untuk diubah, performa baterai LiPo tetap stabil. 

 

Ia juga memiliki keunggulan, seperti kepadatan energi yang tinggi dan mampu mengisi atau mengosongkan daya berkali-kali tanpa merusak kondisi baterai itu sendiri sehingga menjadi pilihan untuk performa smartwatch. 

 

Kecanggihan teknologi tidak hanya sebatas di pergelangan tangan. Di arena lain, seperti di arena pertandingan pun terdapat inovasi dari teknologi yang turut melancarkan sebuah permainan.

 

Mesin Pintar di Balik Permainan Bowling

Permainan bowling tidak hanya mengandalkan keterampilan pemain dalam menggelindingkan bola ke sasaran, tetapi juga dibantu oleh sistem mesin yang bekerja secara otomatis. Di balik setiap jatuhnya pin dan kembalinya bola ke tangan pemain, terdapat rangkaian teknologi yang dirancang untuk memastikan permainan berlangsung secara efisien.

 

“Di dalam mesin bowling terdapat sensor khusus yang berfungsi mendeteksi pergerakan bola sejak pertama kali dilempar dan memantau posisi pin di ujung lintasan. Sensor ini menjadi bagian penting dalam sistem otomatisasi karena menentukan kapan mesin harus mulai bekerja. Ketika bola menyentuh pin, sensor akan mengirimkan sinyal untuk mengaktifkan seluruh rangkaian mesin pinsetter,” ujar Aep Saepudin, teknisi Bowling Siliwangi Center.

 

Tahap pertama yang dilakukan mesin adalah menurunkan pinsetter untuk mengecek pin yang masih berdiri. Selanjutnya, mesin akan menyapu pin-pin yang telah jatuh dan memindahkannya ke tempat pengumpulan. Proses ini berlangsung secara sistematis agar tidak mengganggu jalannya permainan berikutnya.

 

Setelah pin yang jatuh disingkirkan, mesin secara otomatis memperbarui formasi pin dengan menata kembali seluruh pin secara rapi di posisi semula. Pada waktu yang hampir bersamaan, bola yang telah digunakan oleh pemain akan dikembalikan melalui jalur khusus menuju tempat pengambilan bola di sisi lintasan.

 

Seluruh rangkaian proses tersebut berlangsung dalam waktu singkat dan terkoordinasi dengan baik berkat integrasi antara sistem mekanik dan sensor digital. Kehadiran sistem mesin pinsetter menunjukkan bagaimana perkembangan teknologi mampu meningkatkan kenyamanan sekaligus efisiensi dalam aktivitas olahraga.

 

Dalam meningkatkan upaya presisi dan konsistensi dalam teknologi mesin bowling,  teknologi seperti plat karbon pada sepatu lari juga adalah upaya untuk menciptakan kecepatan dan efisiensi dalam berolahraga melalui teknologi.

 

Sepatu yang Mendukung Kecepatan Pelari 

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia olahraga kedatangan suatu inovasi paling revolusioner bagi pelari yang mengejar kecepatan. Sepatu plat karbon, sepatu yang di dalam sol nya terselip sebuah lembaran carbon fiber plate, material yang lima kali lebih kuat dari baja, tetapi lebih ringan dari aluminium. Meski elastis, karbon juga memiliki sifat rapuh yang menjadi salah satu kekurangannya. 

 

“Karbon ini emang ringan ya, tapi kalo terjadi benturan keras ya dia (karbon) bakal ancur, kalo dalam sepatu kan gak mungkin bebannya sangat tinggi, mungkin bisa nambah durasi pemakaian, salah satunya bisa membagi beban kanan kiri secara rata,” ujar Dr. Jajat Darajat, M.Kes., AIFO, dosen Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) UPI. 

 

Plat karbon bekerja seperti pegas yang menyimpan energi ketika menapak tanah, dan melepaskannya saat kaki diangkat atau fly time. Menurut Jajat Darajat, plat karbon ini membantu tekanan pada sepatu terbagi rata ke seluruh kaki sehingga langkah pelari menjadi lebih ringan dan efisien. 

 

Danial sebagai ketua komunitas lari @selarinya, mengaku sudah menggunakan sepatu plat karbon selama dua tahun. Ketika menggunakan sepatu plat karbon, ia merasakan sensasi berbeda dengan sepatu lari biasa. 

 

“Sepatu karbon ini rasanya emang mantul-mantul jadi emang dipakenya itu buat cepet, bukan sok-soan tapi kalo dipake pelan itu emang ga enak, dia punya return dari sepatunya yang cukup tinggi. Kalo aku sendiri pake sepatu plat karbon buat latihan interval, tempo, dipake race juga kalo ada event,” ujar Danial. 

 

Maka dari itu, sepatu plat karbon ini tidak direkomendasikan untuk lari pelan, karena akan menimbulkan cedera yang biasa kita sebut sebagai shin splints. Masa pakai sepatu dengan plat karbon biasanya berkisar antara 300-400 km. Dengan segala kekurangan yang ada, sepatu plat karbon ini tetap menjadi inovasi dengan pengaruh yang besar dalam dunia lari modern. Penggunaan yang benar dapat meningkatkan performa pelari. 

 

Di satu sisi, teknologi plat karbon meningkatkan kecepatan melalui efisiensi lari. Tidak kalah juga dengan teknologi ABS pada olahraga baseball yang meningkatkan akurasi bola strike yang  membantu keputusan wasit.

 

Wasit Robot pada Olahraga Baseball

Salah satu liga baseball terbesar di amerika, Major League Baseball (MLB), kini mulai beradaptasi dengan kecanggihan teknologi dalam mendukung regulasi pertandingan. Lewat Automated Ball-Strike System (ABS), teknologi ini seolah mengganti peran wasit dalam menentukan keakuratan posisi bola, yaitu zona strike. Teknologi ini muncul sebagai bentuk inovasi dari ketidakakuratan wasit dalam menilai bola strike.

 

Dalam penerapan sistem ABS, kedua tim memiliki hak untuk meninjau ulang kembali keputusan ball dan strike yang krusial. Dilansir dari MLB.com, ABS menggunakan teknologi kamera Hawk-eye yang memantau di setiap lokasi lemparan terhadap zona strike pemukul. Hasil rekaman kamera tersebut dengan cepat ditransmisikan melalui jaringan 5G oleh T-Mobile yang akan ditampilkan melalui siaran video dilayar para penonton. Dari hasil video tersebut dapat ditentukan bola yang mengenai sasaran atau tidak.

 

MLB sudah melakukan percobaan pada teknologi ini dengan memasangnya pada 13 stadion spring training ballparks, yang digunakan 19 tim. Teknologi ini tersebar di Florida hingga Arizona. Sebanyak 60 persen dari pertandingan di stadion tersebut menggunakan teknologi itu. Lalu benar-benar digunakan pada liga independen Atlantic pada tahun 2019.

 

MLB mencatat keberhasilan mencapai 53,7 persen pada musim lalu, dengan Boston Red Sox mencatat angka tertinggi 67,9 persen. Aju banding melalui ABS jarang terjadi pada pitch pertama (1,6 persen), tetapi semakin sering pada situasi krusial, yaitu 3,9 persen saat dua strike, 5,2 persen saat tiga ball, dan 8,2 persen pada hitungan penuh.

Teknologi ini akan digunakan MLB pada semua latihan musim semi, musim reguler, dan pertandingan pascamusim pada tahun 2026.

 

Namun, sentuhan inovasi tidak hanya berhenti di saat olahraga berlangsung. Ketika seorang atlet beristirahat, teknologi memiliki peran untuk mempercepat proses pemulihan.

 

 

Sentuhan Teknologi Di Balik Cepatnya Pemulihan 

Di balik latihan keras dan juga pertandingan yang intens, pemulihan menjadi peran yang sangat penting. Lagi-lagi teknologi turut mengambil peran dalam hal ini. Atlet tidak lagi hanya mengandalkan istirahat, tetapi mereka dibantu dengan alat khusus yang dirancang untuk mempercepat pemulihan tubuh.

 

Salah satunya adalah teknologi compression boots. Sepatu boots besar ini membungkus seluruh kaki dan dapat digunakan dengan waktu yang diinginkan. Sepatu yang menyelimuti kaki ini bekerja dengan memberikan tekanan ritmis. Denyut berasal dari kantung udara yang mengembang untuk memberikan tekanan pada otot kaki secara berirama dengan meniru cara kerja otot betis ketika sedang berjalan. Menurut Elite Chiropractic & Sport, sepatu ini dapat merangsang pemulihan melalui pengurangan nyeri, teknologi denyut nadi, dan perawatan peradangan. 

 

Selain itu, infrared sauna pun menjadi salah satu teknologi pemulihan yang tidak kalah populer. Infrared Sauna memanaskan tubuh dengan sinar inframerah yang membuat panas lebih mudah diterima tubuh. Infrared Sauna dapat mencapai suhu yang lebih rendah namun tetap memberikan manfaat yang signifikan bagi kesehatan

 

Tidak hanya itu, nyeri pada lutut, sendi, atau punggung juga dapat ditangani oleh teknologi yang satu ini, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). Dilansir dari Cleveland Clinic, alat yang ditempelkan ke kulit ini membantu mengalirkan arus listrik untuk meredakan sinyal nyeri dan membantu pemulihan pada titik-titik yang nyeri. 

 

Teknologi membuat proses pemulihan bukan lagi hambatan, tetapi jembatan yang membantu atlet mengembalikan performa terbaiknya. 

 

Pada akhirnya, setiap alat bantu dalam dunia olahraga akan dibantu oleh kecanggihan teknologi, bukan untuk menggantikan, melainkan sebagai pendukung permainan hingga memulihkan efek dari aktivitas olahraga. 

 

Teknologi membuktikan bahwa ia dapat mempermudah proses berjalannya permainan, seperti bowling dan baseball. Adanya teknologi menghadirkan peluang baru bagi dunia olahraga untuk tidak lagi berdiri sendirian dalam mencapai maksimal.

 

 

Sumber gambar:
brunswickbowling.com
oppo.com
afloimages.com
enlightensauna.com

 

Penulis: tim Teknoletik

Baca Lainnya

Komentar (0)