Hegarmanah | Diperbarui 06:00 WIB Cerah 20°C | Cerah

Menyusuri Jejak Partikel Kecil: Mikroplastik dan Persebarannya

04 Dec 2025 | 3 menit baca
Menyusuri Jejak Partikel Kecil: Mikroplastik dan Persebarannya
Sumber foto: Canva

Plastik menjadi material yang membentuk hampir seluruh aktivitas manusia modern karena sifatnya yang ringan, kuat, dan murah. Namun, banyak asumsi publik yang meremehkan kompleksitas plastik sebagai material kimia. Padahal, setiap jenis plastik memiliki karakteristik, risiko, dan perilaku lingkungan yang berbeda. 

Secara umum, plastik modern dikategorikan ke dalam tujuh jenis utama berdasarkan komposisi polimer dan aplikasinya, yakni PET (Polyethylene Terephthalate), HDPE (High-Density Polyethylene), PVC (Polyvinyl Chloride), LDPE (Low-Density Polyethylene), PP (Polypropylene), PS (Polystyrene), dan Mixed Plastics (PC, PLA, dll).

Bukan hanya untuk kepentingan daur ulang, ketujuh kategori tersebut juga bermanfaat untuk mengklasifikasikan bagaimana karakter setiap jenisnya dapat terurai di lingkungan dan berubah menjadi partikel mikro yang lebih problematis.

Ketika berbicara tentang polusi plastik, banyak orang langsung membayangkan sampah botol yang mengapung di laut atau tumpukan kantong belanja yang berserakan. Padahal, ancaman terbesar justru berasal dari partikel plastik berukuran sangat kecil yang disebut mikroplastik. Ukurannya yang tidak lebih dari 5 mm membuatnya sulit terlihat dan lebih mudah untuk berpindah-pindah. 

Penelitian global menunjukkan bahwa mikroplastik kini ditemukan di hampir semua tempat, seperti di laut, sungai, udara yang kita hirup, tanah tempat kita bercocok tanam, dan bahkan di dalam organisme hidup. Oleh karenanya, masalah mikroplastik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kelangsungan makhluk hidup. Kehadirannya berasal dari plastik besar yang terdegradasi atau dari produk yang sengaja dibuat dalam ukuran mikro seperti microbeads pada kosmetik. 

Meskipun ukurannya kecil, mikroplastik ternyata membawa dampak besar di berbagai aspek kehidupan, mulai dari pakaian yang kita kenakan, makanan yang kita konsumsi, merusak rantai makanan, hingga gangguan serius pada sistem kesehatan manusia. Oleh karena itu, mari kita bahas setiap aspeknya satu-persatu secara mendalam.

 

Tren Cepat, Terurai Lambat

Siapa yang belum familiar dengan fast fashion? Dalam industri mode, istilah ini menggambarkan produksi cepat pakaian murah berkualitas rendah yang sering meniru gaya populer dari merek fashion ternama, merek besar, dan desainer independen. Sederhananya, model bisnis ini dirancang untuk memacu hasrat konsumtif konsumen melalui tren yang berganti secara kilat.

Salah satu bahan yang sering digunakan dalam produksi fast fashion adalah poliester. Karakteristiknya yang tahan lama dengan harga yang terjangkau menjadi opsi paling menguntungkan bagi fast fashion, tapi tidak bagi lingkungan. Bahan dasar pembuatannya merupakan serat sintetis yang sulit terurai secara alami sehingga berpotensi untuk mencemari lingkungan dalam jangka waktu panjang, yakni membutuhkan 20 hingga 200 tahun sampai benar-benar terurai jika dibuang ke tempat pembuangan akhir. 

International Union for Conservation of Nature (IUCN, 2017) memperkirakan bahwa 35% mikroplastik yang ditemukan di lautan berasal dari pencucian tekstil sintetis seperti poliester. Menurut Eco Stylist pada situs webnya, setiap siklus pencucian dapat melepaskan 700.000 mikroplastik ke lingkungan. Bahkan penelitian lain menyebutkan bahwa warna berpengaruh pada proses degradasi plastik. Faktanya, kandungan plastik berwarna cerah seperti biru dan merah lebih cepat terurai menjadi mikroplastik dibandingkan plastik berwarna hitam, putih, dan silver.

Di balik maraknya penggunaan poliester dalam fast fashion, Irmasari Joeda, seorang desainer ternama, memiliki caranya sendiri untuk mengupayakan industri mode ramah lingkungan. Mereknya masih menggunakan bahan poliester, tapi sebagai bahan volumizing dan bukan sebagai bahan utama. Irma menegaskan bahwa pemilihan poliester bukan semata-mata karena biaya.

“Bukan karena harganya yang terjangkau, harga poliester pun akan bergantung pada setiap kualitasnya.”

Penggunaan poliester pada karyanya akan diimbangi dengan furing katun demi kenyamanan pemakaian. Selain itu, Irma juga sudah pernah menciptakan inovasi produk yang ramah lingkungan, yakni baju berbahan dasar jamur. Sayangnya, produk tersebut belum sempurna karena ketahanannya kian berkurang ketika dicuci sehingga membutuhkan riset lebih lanjut sebelum benar-benar launching.

Irma berpesan kepada konsumen untuk mulai memperhatikan kejujuran bahan produk pada tren busana melalui hang tag. Dengan begitu, konsumen dapat lebih bijak memilih dan mengontrol konsumsi pakaian sembari mengupayakan kegiatan ramah lingkungan. 

 

Dari Meja Makan Jadi Ancaman

Tidak hanya dalam industri mode, mikroplastik pun sudah menjadi ‘tamu tak diundang’ yang tersebar di setiap aktivitas manusia. Bahkan di dalam rumah.

Saat berjalan ke arah dapur dan meja makan, bisa jadi plastik menjadi penghuni yang mendominasi. Misalnya, pada kemasan makanan. Memang, kita seringkali merasa aman karena setiap produk telah dilabeli food grade. Namun, terdapat kesalahpahaman fatal di sini. Label tersebut memastikan kemasannya aman untuk makanan, tapi bukan berarti partikel kecilnya juga aman jika ikut tertelan.

Salah satu pintu masuk mikroplastik yang paling sering diremehkan dalam aktivitas harian adalah penggunaan sedotan plastik, yang merupakan jenis plastik kategori PP (Polypropylene). Benda kecil yang tampak praktis ini nyatanya menyimpan potensi bahaya besar. Sifatnya yang sekali pakai dengan materialnya yang mudah terdegradasi menjadi partikel mikroskopis, membuat sedotan plastik berpotensi menyumbang mikroplastik untuk masuk ke dalam tubuh melalui minuman yang dikonsumsi.

Bukan rasa parno, melainkan solusi lah yang diperlukan untuk menghadapi keberadaan mikroplastik. Seperti D’Arum yang berhasil menghadirkan inovasi produk homeware berbahan dasar bambu sebagai material utama. Salah satunya adalah sedotan bambu.

Meskipun sedotan plastik dikenal ringan dan ekonomis, benda ini sulit untuk didaur ulang dan berisiko melepaskan residu kimia. Sebaliknya, bambu menawarkan keunggulan material yang jauh lebih aman dan berkelanjutan. Sebagai bahan alami, bambu tidak mengandung zat sintetik yang dapat larut ke dalam minuman panas maupun dingin. Selain itu, sifatnya yang reusable efektif mengurangi tumpukan sampah harian, sekaligus memberikan sentuhan estetika alami.

Ironisnya, fakta menyatakan bahwa ancaman terbesar justru tidak datang dari bentuk produk plastik yang sering digunakan, melainkan dari makanan yang sudah terkontaminasi sejak dari sumbernya. Terutama hidangan laut atau seafood. Sebagai negara maritim, seafood adalah primadona kuliner Indonesia. Sayangnya, biota di laut nusantara telah tercemar parah oleh keberadaan mikroplastik.

Seafood, khususnya kelompok crustacea (hewan beruas) seperti udang dan kepiting, memiliki kerentanan tinggi. Tanpa perlu ditelan, mikroplastik dengan mudah menyelinap dan terperangkap secara alami di antara celah buku-buku tubuh mereka sehingga menjadikannya sebagai ‘brankas’ plastik berjalan. Selain itu, biota laut pun terjebak dalam ruang berbentuk perairan dan memiliki kemampuan terbatas untuk filtrasi benda asing. Tanpa disadari, bisa saja ‘bumbu’ tambahan berupa polimer sintetik turut masuk ke dalam tubuh

 

Bumerang Mikroplastik

Jika mikroplastik dapat ditemukan di dalam seafood, bagaimana dengan hewan lainnya? Apakah memiliki potensi terkontaminasi yang setara?

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan di berbagai jenis hewan. Sebuah penelitian di California mengungkapkan fakta bahwa paus pemakan krill dapat memakan 10 juta keping mikroplastik. Selain itu, penelitian di Samudra Atlantik Utara mengungkapkan bahwa dari 46 ekor hiu yang diteliti, 67% nya mengandung mikroplastik. Bahkan, ditemukan 5–15 partikel per ekor udang dan 11–345 partikel per ekor ikan di sungai Brantas. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa mulai dari hewan laut terbesar hingga organisme kecil sekalipun telah terpapar mikroplastik.

Pada hewan laut, risiko kontaminasinya bahkan lebih tinggi. Menurut Dr.rer.nat. Tri Dewi Kusumaningrum Pribadi, dosen Biologi FMIPA Unpad dan peneliti Biologi Kelautan, biota perairan lebih mudah terpapar benda asing dan sulit menghindar karena mereka hidup dalam media cair yang dinamis. 

Mikroplastik bisa masuk ke tubuh makhluk hidup lewat dua jalur utama, yakni tertelan dan terhirup. Pada kasus tertelan, hewan seringkali mengira mikroplastik sebagai makanan atau tanpa sengaja memakan mangsa yang sudah terkontaminasi mikroplastik. Sementara itu, pada kasus terhirup, mikroplastik masuk saat hewan menghirup udara atau air yang sudah tercemar.

Masuknya mikroplastik ke satu tubuh hewan tidak berhenti pada hewan itu saja. Ketika hewan kecil, seperti zooplankton, cacing tanah, siput, atau ikan kecil yang sudah terkontaminasi oleh mikroplastik dimakan oleh hewan pemangsanya, mikroplastik tersebut akan ikut berpindah dari satu organisme ke organisme lainnya. Proses ini akan terus berjalan dari rantai makanan terbawah sampai predator tertinggi hingga menjadi bagian dari aliran rantai makanan.

Fenomena tersebut telah membuktikan mengapa mikroplastik bisa ditemukan di berbagai jenis hewan. Baik hewan laut ataupun darat, berpotensi menjadi pintu masuk mikroplastik ke dalam rantai makanan.

Pada akhirnya, manusia turut mengonsumsi apa yang biota tersebut telah makan. Meskipun demikian, hal ini juga tidak terlepas dari kebiasaan manusia yang turut memproduksi sampah plastik dan berakhir di laut.

 

Warisan Tak Kasat Mata

Selain berhubungan dengan fashion, makanan, dan fauna, mikroplastik juga berhubungan dengan manusia dengan memengaruhi kesehatannya. Berdasarkan penelitian berjudul Impact of Microplastics on Human Health: Risks, Diseases, and Affected Body Systems (2025), mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui tiga cara, yaitu konsumsi, inhalasi, dan kontak kulit

Pertama, konsumsi disebabkan melalui masuknya makanan dan minuman ke dalam tubuh. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa air mineral kemasan seringkali mengandung tingkat mikroplastik yang tinggi karena botolnya yang terbuat dari plastik. Kedua, inhalasi disebabkan melalui hirupan udara. Partikel-partikel kecil yang ada di udara dapat terhirup oleh manusia, khususnya saat di luar ruangan. Ketiga, kontak kulit berasal dari produk kosmetik atau perawatan pribadi lainnya yang digunakan pada kulit. Mikroplastik dalam produk-produk tersebut dapat menempel di kulit dan menyerap.

Lalu, apa saja dampak mikroplastik yang telah masuk ke dalam tubuh manusia melalui ketiga cara tersebut? Dampak buruknya berupa timbulnya gangguan pada berbagai sistem kesehatan, seperti kekebalan tubuh, pernapasan, pencernaan dan metabolisme, kardiovaskular, otak dan saraf, endokrin, reproduksi, dan kulit, bahkan berpotensi karsinogenik.

Berhubungan dengan kesehatan manusia, ada kenyataan yang lebih mengherankan terkait infiltrasi mikroplastik ke dalam tubuh manusia. Dikutip dari Pikiran Rakyat, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) pada satu sampel air ketuban dan satu sampel urin ibu hamil di Kabupaten Gresik, ditemukan keberadaan mikroplastik pada keduanya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa plasenta sebagai pelindung utama janin tidak sepenuhnya mampu menyaring partikel mikroplastik. Tidak berhenti di situ, ditemukan pula 25 partikel mikroplastik yang terdiri dari fiber, filamen, dan microbeads pada kedua sampel tersebut.

Menurut dr. Ganot Sumulyo, Sp.OG., Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, keberadaan mikroplastik pada sistem reproduksi berpotensi menimbulkan berbagai risiko kesehatan, seperti peradangan, stres oksidatif, gangguan distribusi nutrisi, serta potensi mengacaukan hormon akibat bahan kimia pada plastik.

Berkaitan dengan ibu hamil, mikroplastik bahkan juga ditemukan di dalam Air Susu Ibu (ASI). Penelitian yang berjudul Raman Microspectroscopy Detection and Characterisation of Microplastics in Human Breastmilk (2022) menemukan keberadaan mikroplastik pada 26 dari 34 sampel ASI yang diperoleh dari ibu dalam kondisi sehat. Menurutnya, mikroplastik masuk ke dalam ASI dari makanan yang dicerna, kemudian masuk ke darah dan terbawa ke kelenjar payudara, sehingga pada akhirnya ikut keluar lewat ASI.

Meskipun mikroplastik telah terdeteksi dalam ASI, beralih ke susu formula (sufor) belum tentu menjadi solusi yang lebih ‘bersih’. Faktanya, potensi kontaminasi mikroplastik justru bisa lebih tinggi pada proses pembuatan, pengemasan, dan penggunaan alat seduh sufor.

Terkait dilema ini, dr. Fildzah Ayu, seorang dokter umum yang sedang mendalami dunia laktasi, berpendapat bahwa sebaiknya ibu-ibu tetap lanjut menyusui karena manfaat ASI untuk imun dan tumbuh kembang bayi jauh lebih besar daripada risiko yang ditimbulkan oleh mikroplastik. Ia juga menambahkan, cara teraman untuk menjauhkan bayi dari mikroplastik adalah dengan melakukan Direct Breastfeeding (DBF). Cara ini dianggap paling murni dan paling aman karena menghindari penggunaan botol plastik, dot, dan berbagai paparan tambahan lainnya.

 

Saat Plastik Tak Lagi Sekadar Sampah

Ternyata, cerita tentang plastik bukan lagi sekadar soal botol bekas yang mengotori pantai atau kantong kresek yang tersangkut di selokan. Masalah ini sudah masuk jauh lebih dalam, menembus dinding rumah hingga masuk ke dalam tubuh kita sendiri. Fakta bahwa partikel plastik bisa ditemukan di dalam perut ibu hamil hingga air susu ibu adalah pertanda yang menyadarkan kita, pertahanan tubuh manusia ternyata sudah kebobolan oleh benda ciptaannya sendiri.

Segala kemudahan yang ditawarkan dunia modern mulai dari baju murah yang trendi (fast fashion), sedotan sekali pakai, hingga makanan praktis, ternyata punya harga mahal yang harus dibayar. Bukan dengan uang, tapi dengan tabungan kesehatan kita di masa depan.

Namun, mengetahui hal ini bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan setiap hari. Justru, ini saatnya kita ambil kendali. Kita mungkin tidak bisa menyulap dunia bebas plastik dalam semalam, tapi kita punya kuasa penuh untuk memilih. Mulai dari menolak sedotan plastik, lebih teliti memilih bahan pakaian, hingga bijak memilih makanan. Kesehatan anak cucu kelak sangat bergantung pada keputusan yang kita ambil hari ini. Akhir kata, berhenti jadi sekadar pemakai, dan mulailah jadi konsumen yang peduli.

Baca Lainnya

Komentar (1)