Hegarmanah | Diperbarui 06:00 WIB Cerah 20°C | Cerah

Indah Diperhatikan, Sakit Diabaikan: Membahas Empat Pilar Kesehatan Perempuan

05 Dec 2025 | 3 menit baca
Indah Diperhatikan, Sakit Diabaikan: Membahas Empat Pilar Kesehatan Perempuan
<a href="https://www.freepik.com/free-photo/portrait-expressive-young-woman_11702404.htm#fromView=search&page=1&position=33&uuid=3f7916cb-6e1d-4cad-a10e-f2e6c59a8c7a&query=women%27s+health">Image by benzoix on Freepik</a>

Di masyarakat umum, tubuh perempuan kerap kali digambarkan begitu indah, menawan, dan menggiurkan. Diobjektifikasi sedemikian rupa seakan-akan itu milik siapapun yang melihatnya. Objektifikasi ini kemudian membuat pembicaraan mengenai tubuh perempuan berputar pada keindahannya saja, seakan hal selain itu tidak penting atau bahkan tabu untuk dibahas. 

Padahal, perempuan memiliki kompleksitas tinggi pada tubuh yang dimilikinya–perubahan hormon, nyeri yang berulang nan pasti, turunan genetik–tetapi sebagian besar dibahas dalam senyap. Terlalu malu untuk diungkap, terlalu sulit untuk ditebak, melahirkan normalisasi di antara perempuan untuk menahan rasa sakit pada tubuhnya dan keyakinan bahwa; tubuhnya adalah sesuatu yang perlu disembunyikan, ditahan atau bahkan diabaikan.

Dibalik keindahan yang selalu digembor-gemborkan, tubuh perempuan memiliki siklus ‘kesakitan’ yang nyata. Tidak hanya di satu titik, kemutlakan rasa sakit itu meliputi seluruh fase hidup perempuan, mulai dari kelahiran, pubertas, pengalaman emosional pasca melahirkan, hingga pemilihan pola hidup. Setiap aspeknya saling terjalin, memengaruhi satu sama lain, membentuk lingkaran rasa sakit yang berulang.

Artikel ini akan mengungkapkan empat pilar kesehatan perempuan yang meliputi, kesehatan fisik, kesehatan reproduksi dan seksual, kesehatan kulit dan kecantikan, serta kesehatan mental dan emosional. Berharap tubuh perempuan tidak hanya ‘dinikmati’ tetapi dipahami sepenuhnya secara utuh.

 

Kesehatan Fisik Perempuan; Rasa Sakit yang Dinormalisasi

Pembahasan mengenai kesehatan fisik perempuan tidak pernah sederhana. Semua bisa menjadi ancaman, termasuk pemahaman perempuan dan lingkungan sekitarnya. Sinyal-sinyal kecil dari tubuh seringkali bermakna besar, dan akan lebih besar apabila perempuan tidak bisa memahami sinyal tersebut.  

Salah satu tantangan terbesar perempuan yang ada pada tubuhnya adalah kanker payudara, penyakit ini menempati posisi teratas dalam statistik kanker di Indonesia, diikuti dengan kanker leher rahim dan kanker paru-paru. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa pada tahun 2022 terdapat 2,3 juta perempuan di seluruh dunia yang didiagnosis menderita kanker payudara, dan sekitar 670.000 di antaranya meninggal akibat penyakit tersebut.

Tingginya kasus kanker payudara dipengaruhi oleh berbagai faktor pemicu. Namun, banyaknya faktor pemicu tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga kanker payudara sering kali baru terdeteksi ketika kondisinya sudah memasuki tahap yang lebih berat. Padahal WHO memaparkan bahwa pengobatan kanker payudara bisa sangat efektif dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 90% atau lebih apabila terdiagnosis sejak dini. Meskipun demikian, rasa sakit pada payudara seringkali diabaikan atau tidak langsung dilakukan pemeriksaan, alasannya bisa karena takut hasilnya nanti sangat mengecewakan atau malu karena akan diperiksa area sensitifnya. 

Menurut WHO, sebagian besar orang memang tidak akan mengalami gejala apapun ketika kanker masih di tahap awal. Sehingga pemeriksaan dini menjadi sangat penting untuk dilakukan. Ketika kanker sudah memasuki tahap selanjutnya, akan ada beberapa kombinasi gejala seperti:

  1. Benjolan atau penebalan pada payudara, baik dengan rasa sakit atau tidak.
  2. Perubahan bentuk, ukuran, atau tampilan payudara.
  3. Munculnya lesung, kemerahan, tekstur seperti kulit jeruk, atau perubahan lain pada kulit payudara.
  4. Perubahan pada tampilan puting atau kulit di sekitarnya.
  5. Keluarnya darah atau cairan abnormal lain dari puting.
  6. Apabila menemukan satu atau lebih gejala di atas maka sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter karena kanker yang sudah pada tahap lanjut bisa berisiko menyebar ke organ lainnya.

Selain kanker payudara, ada masalah kesehatan fisik perempuan yang lebih senyap, yakni Pelvic Girdle Pain (PGP) pada ibu hamil. Pelvic Girdle Pain (PGP) merupakan kondisi dimana sendi panggul mengalami pergerakan atau ketidakstabilan karena pengaruh hormon saat kehamilan. Pada saat kehamilan, bayi dalam kandungan akan terus tumbuh dan bertambah berat, hal ini akan memberikan tekanan pada panggul ibu dan merubah cara ibu duduk atau berdiri. 

PGP ini seringkali diabaikan oleh perempuan karena dinormalisasi sebagai konsekuensi kehamilan. Meskipun nantinya dikeluhkan, lingkungan sekitar tidak jarang meresponnya dengan kalimat “Namanya juga hamil, wajar sakit panggul” atau kalimat-kalimat lainnya yang menormalisasi rasa sakit tersebut. Padahal pada kenyataannya PGP ini dapat menimbulkan dampak yang lebih besar daripada yang diperkiran. Seorang ibu di Inggris, Rebecca Middleton, harus berakhir di kursi roda selama tiga bulan sebelum melahirkan karena menderita PGP di masa kehamilannya. Proses penyembuhannya pun harus berlangsung selama dua tahun, hal ini dikarenakan Rebecca tidak mengetahui penyakit PGP dan tidak diberikan penanganan dini terhadap gejala yang dialaminya. Akan tetapi, di kehamilan setelahnya ia hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk akhirnya bisa pulih total dari PGP berkat penanganan yang tepat.

 

Kesehatan Reproduksi dan Seksual: Gaya Hidup yang Berarti Segalanya

Tidak ada bagian tubuh perempuan yang menerima stigma sebesar sistem reproduksi. Pembicaraan mengenai hormon atau kesuburan perempuan sering dibungkus dengan rasa malu dan tabu, membuat perempuan seringkali kesulitan memahami dirinya sendiri secara utuh tanpa stigma yang melekat.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan salah satu penyakit hormonal yang gejalanya seringkali diabaikan. Hal ini dikarenakan gejala-gejala yang timbul akibat PCOS lagi-lagi dianggap normal. Wajah yang sangat berminyak dan berjerawat, tumbuhnya kumis tipis atau bulu berlebih di tubuh, hingga siklus haid yang tidak teratur sering kali dianggap sepele dan dibiarkan begitu saja. Padahal, semua gejala tersebut bisa menjadi sinyal tubuh bahwa ada masalah yang jauh lebih besar terjadi di dalam sistem hormonal.

Lebih Lanjut dr. Melia Juwita Adha, Sp.OG menjelaskan ciri-ciri PCOS dalam tiga kriteria Rotterdam. Kriteria pertama adalah anovulasi, yakni keadaan siklus menstruasi yang tidak normal, bisa jadi tidak haid, jarang haid, atau sedikit haid. Kriteria yang kedua disebut hiperandrogenisme atau kelebihan androgen, ditandai dengan muka yang berjerawat dan berminyak hingga muncul bulu-bulu berlebih. Kemudian kriteria ketiga hanya dapat dilihat melalui pemeriksaan ultrasonografi, apabila ditemukan bahwa sel telur dalam rahim berbentuk bulat kecil-kecil dan membentuk rantai, maka itu merupakan gejala PCOS. 

Selanjutnya, dr. Melia menjelaskan bahwa kunci agar terhindar dari PCOS adalah modifikasi gaya hidup. Misalnya dalam kasus obesitas, berat badan bisa mulai diturunkan sebanyak 5–10%. Selain itu, meningkatkan aktivitas fisik selama 75–150 menit per minggu atau minimal 2 kali dalam seminggu. Dengan perbaikan gaya hidup dan konsultasi dokter, gejala-gejala PCOS dapat diatasi

 

Kesehatan Kulit dan Kecantikan: Antara Tekanan Estetika dan Risiko Medis yang Diabaikan

Kesehatan kulit dan kecantikan mungkin terdengar sepele, hanya tempat dimana perempuan berlomba-lomba untuk mengikuti tekanan dan standar kecantikan. Namun dibalik itu ada ancaman yang lebih besar, yakni kanker kulit.

Kanker kulit sebetulnya dapat dicegah dengan perlindungan maksimal pada kulit, seperti menggunakan sunscreen pada wajah dan sunblock pada tubuh yang terpapar sinar matahari langsung. Namun, stigma penggunaan sunscreen hanya dianggap sebagai pelengkap rutinitas kosmetik, yang bahkan tidak jarang ditinggalkan karena dianggap lengket dan menurunkan kualitas kosmetik yang digunakan. Padahal risiko kanker kulit itu nyata adanya.

dr. Yogi Faldian, sp.D.V.E, pada kesempatan wawancara yang kami lakukan, mengungkapkan tanda-tanda krusial yang perlu dicurigai sebagai gejala kanker kulit. Pertama, muncul kelainan berupa tahi lalat pada kulit yang terpapar sinar matahari, seperti di wajah, sekitar hidung, atau bisa juga ditemukan di tangan. Selanjutnya, kelainan itu menyebar dengan cepat dan mudah berdarah. Dapat menimbulkan rasa gatal seperti eksim tetapi tidak kunjung sembuh setelah dilakukan pengobatan. Apabila tanda-tanda tersebut muncul lebih baik diperiksakan segera ke dokter.

Meskipun dr. Yogi mengungkapkan bahwa kanker kulit umumnya terjadi pada orang tua, alangkah baiknya pencegahan dilakukan sedini mungkin. Pemakaian sunscreen sudah seharusnya dilihat sebagai perlindungan diri dan pencegahan dini terhadap risiko kanker kulit bukan sekedar estetika yang dikelilingi stigma.

 

Kesehatan Mental dan Emosional: Postpartum Depression dan Luka yang Tidak Tampak

Tidak ada kondisi kesehatan yang lebih ditentang daripada kondisi kesehatan mental ibu di masa kehamilan hingga kelahiran. Kehadiran buah hati merupakan anugerah terbesar bagi sebagian umat manusia. Kesulitan yang menyertainya akan dianggap fana atau tabu untuk diperbincangkan. Sehingga, banyak kondisi nyata yang akhirnya diabaikan karena semua orang hanya fokus pada kehadiran si buah hati.

Perempuan (re:ibu) seringkali justru menjadi korban dalam keadaan ini. Rasa sakit dan tidak nyaman yang menyertai fase kehamilan dan kelahiran dianggap biasa, normal, atau bahkan tidak patut untuk dikeluhkan. Hal ini menyebabkan keadaan dimana semua orang termasuk si ibu mengabaikan kondisinya dalam jangka waktu yang panjang. Padahal ketika sudah ada sinyal yang diberikan tubuh, setiap detik menjadi berharga.

Kelahiran buah hati diharapkan membawa kebahagiaan kepada keluarga, termasuk si ibu. Namun, pada kenyataannya banyak ibu yang akhirnya mengalami depresi akibat cemas berlebih, perasaan ingin terus menangis tanpa alasan, hingga perasaan yang terputus dengan bayinya setelah melahirkan. Kondisi ini bisa jadi tanda-tanda dari PPD atau Postpartum Depression tetapi dihiraukan atau dianggap tabu karena “tidak sesuai” dengan perasaan yang seharusnya.

dr. Angke Rafalrizki, SpKJ., M.Sc menjelaskan bahwa PPD dapat ditandai oleh perubahan emosi dan suasana hati yang berlangsung terus-menerus, disertai perasaan sedih hingga cemas yang membuat ibu merasa tidak pantas menjalani peran barunya. Ketika gejala tersebut mulai muncul, penting untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat, karena jika dibiarkan kondisi ini dapat berkembang menjadi lebih berat dan berkepanjangan. Selain itu, dr. Angke menekankan bahwa dukungan dari lingkungan terdekat sangat berperan dalam membantu pemulihan emosional ibu setelah melahirkan.

 

Dari keempat pilar yang dibahas pada artikel ini, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan penyakit perempuan diabaikan karena dianggap biasa atau normal. Padahal gejala-gejala “normal” yang muncul bisa jadi merupakan sinyal terhadap sesuatu yang lebih fatal. Maka dari itu sudah seharusnya kesehatan perempuan terbebas dari stigma dan mampu dipahami sepenuhnya dengan utuh. #SehatTanpaStigma.

Baca Lainnya

Komentar (0)