Hegarmanah | Diperbarui 06:00 WIB Cerah 20°C | Cerah

Tren Olahraga Anak Muda : Dari Sepak Bola, Basket, Hingga Padel yang Lagi Naik Daun

04 Dec 2025 | 3 menit baca
Tren Olahraga Anak Muda : Dari Sepak Bola, Basket, Hingga Padel yang Lagi Naik Daun
Ilustrasi Pemain Sepak Bola, Basket, dan Padel (Sources: istockphoto.com dan idn.freepik.com)

Ramainya kegiatan olahraga yang digemari anak muda mengundang pertanyaan sederhana, seperti “Kamu paling suka olahraga apa?” yang ternyata dapat membuka banyak cerita mengenai preferensi, kebiasaan, hingga budaya populer yang mereka konsumsi. Lewat konten video Q&A yang tayang di akun instagram @sudutlapangan_id, kami mencoba menelusuri, apa sih sebenarnya olahraga favorit mahasiswa dan tenaga kependidikan di kampus. Hasilnya menunjukkan jawaban yang beragam, unik, dan mungkin relatable dengan generasi muda masa kini. Melalui konten singkat ini, dapat memperlihatkan bahwa sports preference di kalangan Gen Z bukan sekadar soal hobi. Ada faktor lingkungan, tontonan favorit, hingga perasaan tidak ingin tertinggal tren.

Pilihan Olahraga dan Cerita di Baliknya

Sebagian besar narasumber menyebutkan sepak bola sebagai olahraga pilihan mereka, dengan alasan yang cukup beragam. Seorang satpam di Fakultas Pertanian mengatakan, bahwa ia memilih sepak bola sebagai olahraga favoritnya, karena  paling “merakyat”. Semua orang bisa memainkannya, dari anak kecil sampai orang dewasa. Menurutnya, sepak bola berbeda dengan voli yang cenderung memiliki teknik lebih spesifik, “sepak bola itu umum, semua bisa main,” ujarnya.

Beberapa mahasiswa juga memilih sepak bola sebagai olahraga favoritnya. Revi, contohnya, ia memilih sepak bola, karena ikatan emosionalnya dengan klub favorit: Liverpool. Ada kebanggan tersendiri saat mendukung klub yang sudah menemani hari-hari menonton Liga Inggris sejak lama. Sementara itu, Rafa, memiliki alasan yang lebih personal, yaitu mengenai impiannya untuk menjadi pemain sepak bola dan bergabung dengan Manchester United. “Pengen jadi anggota MU,” katanya sambil tersenyum. Ambisi masa kecil yang sederhana, tetapi tetap menarik.

Setelah itu, ada olahraga basket yang muncul sebagai pilihan kedua terbanyak dari narasumber. Kebanyakan dari mereka, menyukai basket karena sering menonton pertandingannya. Nabilla dengan jujur mengakui, bahwa ia tidak begitu paham cara bermain sepak bola atau padel, apalagi padel yang baru naik daun belakangan ini. Tetapi untuk basket, ia pribadi merasa lebih familiar, “kalau udah coba main mungkin bisa berubah, sih tapi sekarang aku pilih basket,” katanya sambil tertawa. Narasumber lain memilih basket tanpa alasan spesifik, “suka aja, sih,” jawabnya santai. Jawaban singkat tersebut justru cukup mewakili banyak anak muda yang bermain olahraga hanya karena nyaman dan seru.

Olahraga baru yang mulai mencuri hati, yaitu padel, memang belum menjadi pilihan utama dalam video ini. Akan tetapi, komentar dari penonton menunjukkan tren yang menarik. Akun @dangersacc menulis: “AKK SUKAA PADELL MINN, soalnyaa fomoo hehehehe liat temen temen aku.” Komentar ini mencerminkan fenomena nyata, padel tumbuh sebagai olahraga sosial yang naik daun karena viral, aesthetic, dan mudah dimainkan secara kasual. Banyak dari kalangan Gen Z yang tertarik bukan hanya karena padel itu fun untuk dimainkan, melainkan juga karena teman-teman mereka bermain olahraga yang sama. Dengan semakin banyaknya lapangan padel di kota-kota besar, olahraga ini pelan-pelan masuk ke radar anak muda, meskipun belum sepenuhnya menjadi pilihan utama seperti sepak bola atau basket.

Ekspresi Kemenangan dan Momen Ikonik Para Pesepak Bola

Setelah mengetahui berbagai pilihan olahraga favorit dan kisah pribadi di baliknya, sepak bola kembali menunjukkan posisinya sebagai olahraga yang bukan hanya populer, tetapi juga kaya akan budaya unik. Tidak hanya soal teknik, pertandingan, atau klub kebanggaan, aspek kecil seperti selebrasi gol pun bisa menjadi bagian yang melekat di ingatan para penonton. Dari sinilah, konten mengenai macam-macam selebrasi ikonik muncul dan justru membuka diskusi seru tentang ekspresi pemain di lapangan.

Dalam konten bertema selebrasi di akun instagram @sudutlapangan_id, kami menampilkan empat ekspresi ikonik yang bukan hanya dikenal publik, tetapi juga punya cerita unik di baliknya. Video dibuka dengan selebrasi “Siuuu” milik Cristiano Ronaldo, yang sudah menjadi simbol kepercayaan diri sekaligus identitasnya. Cuplikan aksi lompatannya digambarkan sebagai selebrasi yang mampu menggetarkan stadion. Dari selebrasi ikonik Cristiano Ronaldo ini menunjukkan bagaimana satu gerakan sederhana bisa menjelma menjadi budaya global. Selanjutnya hadir Peter Crouch dengan Tarian Robot yang khas. Selebrasi ini digambarkan sebagai ekspresi ringan yang menunjukkan sisi lain seorang pesepak bola, bahwa di tengah tensi pertandingan, masih ada ruang untuk bersenang-senang. Banyak penonton yang berkomentar bahwa tarian Crouch ini adalah salah satu selebrasi yang paling “ramah penonton”, karena tampil jenaka tanpa mengurangi rasa hormat kepada lawan. Tarian itu sendiri tercipta dari candaan latihan bersama rekan setim, dan kini menjadi bagian dari identitas crouch yang selalu dikenang. Kemudian selanjutnya menampilkan momen emosional dari Andres Iniesta, ketika ia merayakan gol dengan melepas jaketnya untuk memperlihatkan tulisan penghormatan kepada sahabatnya, Dani Jarque. Tidak seperti selebrasi lain yang bernuansa hiburan, selebrasi dari Iniesta ini disajikan sebagai pengingat bahwa sepak bola juga sarat dengan emosi dan kehilangan. Banyak komentar yang menyebut momen ini sebagai salah satu selebrasi paling menyentuh dalam sejarah sepak bola, bahkan ada yang mengatakan momen itu membuat mereka teringat kembali pada final Piala Dunia 2010. Terakhir, ada Roger Milla dengan tarian khas Kamerun di sudut lapangan sepak bola, sebuah selebrasi yang penuh energi dan membawa aroma budaya di Afrika ke panggung dunia. Dalam video konten di instagram @sudutlapangan_id, tarian Roger Milla ini disebut sebagai bentuk ekspresi bebas tanpa batas, gaya yang kemudian menjadi ikon Piala Dunia 1990.

Selain keempat nama yang ditampilkan di dalam video, salah satu penonton bernama @enjoyedu_ juga turut memberikan tambahan selebrasi dari pemain lainnya, “Ada juga B. Gomis with selebrasi singanya, good job guys!”. Komentar ini menunjukkan bahwa bagi sebagian penggemar, selebrasi tersebut dikenal karena gaya agresifnya yang unik, dan sering dianggap sebagai representasi kekuatan serta kepercayaan diri seorang striker. Masuknya referensi dari penonton ini juga memperlihatkan bagaimana memori mereka tidak hanya terpaku pada momen-momen mainstream, tetapi juga pada ekspresi personal pemain yang mungkin tidak muncul di konten video, namun tetap hidup dalam ingat penggemar.

Keempat selebrasi ini dipilih bukan hanya karena populer, tetapi karena masing-masing momen menghadirkan nuansa yang berbeda, mulai dari simbol, humor, emosi, hingga budaya. Konten tersebut pada akhirnya memperlihatkan bahwa ekspresi pasca gol bukan hanya sekadar perayaan, tetapi bagian dari cerita besar yang membangun karakter dan ingatan dalam dunia sepak bola. 

Suara dari Lapangan : Curahan Hati Pemain Basket Perempuan soal Minimnya Dukungan 

Pemain basket perempuan hingga hari ini masih menghadapi tantangan besar terkait kurangnya perhatian dan dukungan. Padahal, perjuangan mereka sama kerasnya dengan latihan yang berat, komitmen yang tinggi, serta prestasi yang tidak kalah membanggakan. Namun, dalam kenyataannya, mereka masih belum mendapatkan perhatian publik dan lingkungan olahraga. Melalui sebuah unggahan di @sudutlapangan_id, ada empat pemain basket perempuan dari berbagai universitas yang menyampaikan berbagai pandangan tentang bagaimana kondisi ini memengaruhi pengalaman mereka di lapangan. 

Alya Dzakirah, seorang atlet perempuan dari Universitas Padjadjaran, mengatakan bahwa perhatian terhadap basket perempuan saat ini “kurang banget”. Ia menekankan perbedaan antara pemain putri dan putra dalam hal basket, terutama dalam liga profesional. Ia mengatakan bahwa pemain basket laki-laki memiliki wadah kompetisi yang jelas, seperti IBL, tetapi pemain basket perempuan tidak memiliki liga profesional yang stabil. Tempat di mana atlet putri dapat berkompetisi. Srikandi Cup, kini tidak ada lagi, meninggalkan kekosongan yang signifikan. Tidak hanya itu, Alya juga merasakan kurangnya spotlight untuk pemain perempuan. Bahkan prestasi timnas basket putri Indonesia yang telah meraih berbagai pencapaian internasional tetap belum mendapatkan apresiasi yang memadai. 

Andini Diana Setiani, seorang atlet perempuan dari Universitas Gadjah Mada, melihat persoalan utama terletak pada minimnya ruang tampil bagi atlet perempuan. Ia menyebutkan bahwa media dan penyelenggara event cenderung lebih fokus pada basket laki-laki, sehingga exposure untuk pemain perempuan jauh tertinggal. Kesempatan bertanding pun sangat terbatas. Biasanya, match perempuan hanya hadir di ajang besar, dan itupun lebih banyak format 3x3 dibanding 5x5 yang lebih umum dimainkan. Ini membuat pengalaman bertanding pemain perempuan tidak seimbang dengan atlet laki-laki, yang memiliki pertandingan yang lebih sering dan lebih meriah. 

Sementara itu, Daveni Naifah Indria, seorang atlet perempuan dari Universitas Trisakti, pendapat dia cukup berbeda dari dua narasumber sebelumnya. Daveni mengambil posisi yang lebih moderat, dia percaya bahwa lingkungan klub atau kampus dapat sangat memengaruhi tingkat perhatian yang rendah. Tim laki-laki cenderung kurang diperhatikan jika tim perempuan lebih menonjol. Ia juga berbicara tentang jumlah pemain putri yang terkadang sedikit, yang berdampak pada keberlangsungan tim, tetapi Daveni mengakui bahwa ada saat-saat ketika semangat tim putri perlu ditingkatkan. 

Ia mengatakan, bahwa dalam hal fasilitas dan perawatan, masih ada masalah administratif seperti menyelesaikan surat atau perizinan, yang menunjukan bahwa tim putra dan putri dilayani dengan cara yang berbeda. Namun, ia meyakini bahwa tim putri harus terus menunjukan kemampuan mereka untuk mendapat tempat yang setara. 

Ratu Fazlika, seorang atlet perempuan dari Universitas Lampung, ia menegaskan bahwa perhatian terhadap basket perempuan masih belum setara. Terlihat dari jumlah event besar yang lebih memprioritaskan basket pria. Perbedaan terasa cukup besar dari segi fasilitas. Untuk tim laki-laki, lapangan biasanya diberikan lebih awal, tetapi kesempatan bertanding lebih sedikit. Tim putri mengalami kemacetan karena hambatan-hambatan ini, yang membuat ruang tumbuh mereka semakin terbatas. 

Dari keempat narasumber, terlihat bahwa masalah minimnya dukungan untuk basket perempuan tidak berdiri sendiri. Struktural, seperti tidak adanya liga profesional, tidak adanya acara, dan kurangnya paparan media. Selain itu, ada komponen internal dan eksternal tim yang memengaruhi. Namun, ada satu hal yang sama, para pemain ini memiliki dorongan kuat untuk terus maju dan mendukung kesetaraan. Mereka berpendapat bahwa basket perempuan Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, dan mereka hanya membutuhkan dukungan lebih besar dari federasi, kampus, media, dan masyarakat umum. Karena olahraga pada akhirnya tidak seharusnya menentukan siapa yang lebih berhak atas perhatian. Semua atlet berhak atas kesempatan untuk menunjukan kemampuan terbaik mereka.

Ketika Padel Jadi Industri Baru : Dari Lifestyle Anak Muda ke Peluang Ekonomi Besar

Setelah melihat bagaimana sepak bola dan basket muncul sebagai olahraga yang paling dekat dengan anak muda hari ini, Padel muncul sebagai salah satu olahraga yang memiliki sisi menarik untuk diperhatikan. Pertumbuhan padel bukan hanya terjadi di lapangan, melainkan juga di balik layar, di ranah bisnis dan ekonomi yang semakin besar. Padel menjadi olahraga baru yang lahir melalui tren sosial, tetapi berkembang menjadi industri bernilai tinggi. Hal ini membuktikan, bahwa popularitas padel di kalangan Gens Z, bukan hanya sekadar ikut-ikutan, melainkan juga bagian dari transformasi olahraga modern yang lebih luas.

Dari yang awalnya hanya dimainkan di halaman belakang rumah di Meksiko, padel kini tumbuh menjadi fenomena global dengan lebih dari 25 juta pemain di 110+ negara. Popularitasnya bukan hanya melonjak di Spanyol dan Argentina sebagai pusat sejarahnya, ia meluas ke wilayah Asia, Timur Tengah, hingga Eropa Utara. Bahkan di Indonesia, sejak tahun 2024, pertumbuhan lapangan padel di Indonesia terbilang pesat dengan lebih dari 100 lapangan yang kini tersebar di kota-kota besar. Tren ini menunjukkan, bahwa padel berkembang menjadi industri olahraga yang serius dengan potensi pasar yang terus berkembang.

Di tingkat global, bisnis padel bergerak dengan kecepatan yang sulit untuk dikejar. Laporan internasional menyebutkan, bahwa dalam satu tahun terakhir saja, ada sekitar 3.200 klub padel baru dibangun. Jika dihitung secara kasar, hal itu setara dengan pembuatan satu klub baru di setiap 2.5 jam nya. Angka tersebut menunjukkan dua hal, yaitu permintaan pemain olahraga padel yang semakin meningkat drastis serta peluang ekonomi yang sangat besar. Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. Banyak lapangan padel baru yang dibuka, bukan hanya sebagai fasilitas olahraga, melainkan juga sebagai tempat bisnis yang menawarkan berbagai pengalaman lengkap, mulai dari café, lounge, hingga area komunitas. 

Akan tetapi, pertumbuhan cepat ini selalu membawa risiko. Sebagai contoh, swedia pernah mengalami “padel bubble”, suatu fase ketika lapangan yang dibangun terlalu banyak tanpa mempertimbangkan keberlanjutan pasarnya. Beberapa bisnis padel pun akhirnya tutup, karena supply jauh lebih besar daripada demand. Artinya, meskipun bisnis padel menguntungkan, tetap membutuhkan strategi jangka panjang dan manajemen bisnis yang matang.

Salah satu alasan padel dapat berkembang secara cepat, bukan hanya karena cara bermainnya yang mudah diakses, tetapi juga karena olahraga ini memiliki karakter sosial yang kuat. Bagi kebanyakan anak muda, lapangan padel tidak hanya bermanfaat sebagai tempat olahraga, tetapi juga sebagai ruang pertemuan dengan sesama. Di sana, mereka bermain, foto OOTD, networking, atau hanya sekadar hangout dengan teman. Aura komunitas yang hangat, membuat olahraga ini terasa lebih seperti aktivitas sosial daripada rutinitas olahraga saja. Tidak mengherankan, jika brand-brand lifestyle mulai memasuki ekosistem padel. Mulai dari event kolaborasi hingga kampanye marketing yang menargetkan pasar urban yang dinamis. Dari sini, dapat dilihat, bahwa padel tidak lagi berdiri sebagai olahraga baru. Ia berubah menjadi lifestyle dan bagian dari tren hidup aktif yang dicari generasi muda.

Akan tetapi, di balik hype yang besar, industri padel tetap memiliki tantangan yang tidak bisa diabaikan. Harga perlengkapan padel, mulai dari raket hingga sepatu, bisa mencapai Rp7-10 juta. Sewa lapangan pun berada pada kisaran Rp250.000-500.000 per jam, membuat olahraga ini masih terkesan premium. Selain itu, mayoritas lapangan juga masih terpusat di kota-kota besar saja, seperti Jakarta dan Bali, sehingga askes untuk masyarakat di kota lain masih sangat terbatas. Jika padel ingin tumbuh lebih inklusif, maka perlu dibuat perluasan ke berbagai daerah, serta pengembangan komunitas lokal yang kuat. Namun, potensi masa depan untuk padel ini besar, dengan manajemen industri yang tepat, padel dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Mulai dari bisnis lapangan, retail perlengkapan, komunitas, hingga event olahraga. Padel dapat menjadi wajah baru industri olahraga Indonesia yang modern, bernilai sosial, dan relevan dengan generasi muda.

Di tengah perbincangan tentang olahraga favorit, padel memang belum selalu muncul sebagai pilihan utama. Akan tetapi, dari sisi bisnis dan ekonominya dapat terlihat bahwa padal sebagai olahraga sedang menjadi industri yang berkembang pesat. Bagi anak muda hari ini, padel menjadi lebih dari sekadar permainan, ia juga menjadi ruang sosial, gaya hidup, dan peluang industri yang tumbuh bersama zaman.

Baca Lainnya

Komentar (0)