Hegarmanah | Diperbarui 09:00 WIB Cerah 25°C | Cerah

Gaya Hidup Serba Cepat Gen Z dan Dampaknya pada Krisis Sampah Kota Bandung

04 Dec 2025 | 3 menit baca
Gaya Hidup Serba Cepat Gen Z dan Dampaknya pada Krisis Sampah Kota Bandung
Suasana pengerukan sampah di TPA Sarimukti Bandung Barat

Manusia menghasilkan sampah hampir dari setiap aktivitas mereka lakukan setiap hari. Kegiatan seperti mencuci baju, berbelanja, memasak menghasilkan banyak sampah yang bermacam-macam jenisnya. Produksi sampah harian yang sangat banyak itu tidak hanya memenuhi TPA dan TPS, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan, bisa menyebabkan polusi udara, merusak ekosistem laut, mencemari air, tanah, serta memicu perubahan iklim. 

 

Dikutip dari Kompas.com, hampir semua kabupaten/kota di Indonesia terjebak dalam krisis pengelolaan sampah. Masyarakat mungkin sudah cukup sadar salah satu penyebabnya adalah penggunaan sampah plastik (meskipun penggunaannya masih merajalela dalam setiap produk), tetapi ada jenis sampah modern yang dihasilkan dari ketidaktahuan mereka, contohnya adalah tergiur membeli kosmetik di saat diskon/saat direkomendasikan beauty influencer, dan penggunaan email dan pengambilan ribuan foto yang tidak diketahui apa fungsinya. 

 

Pembelian kosmetik berupa skincare dan make-up lahir dari gaya hidup masyarakat yang sudah lebih peduli terhadap penampilan dan kesehatan kulit. Akan tetapi saat kamu membeli produk-produk tersebut dalam jumlah banyak, tanpa sadar kamu menghasilkan banyak sampah, tidak hanya dari kemasannya, tetapi juga dari produk-produk yang sudah kedaluwarsa tanpa sempat digunakan. Begitu juga dengan penggunaan email dan ribuan file yang membutuhkan penyimpanan. 

 

Dalam sebuah gawai, aktivitas yang dilakukan melibatkan server, server memerlukan energi listrik untuk beroperasi dan penguapan air untuk menjaganya tetap dingin, hal ini menghasilkan jejak karbon. Penggunaan media sosial dan virtual meeting bahkan membutuhkan energi listrik yang lebih besar. Oleh karena itu dengan meminimalisir penggunaan email, virtual meeting, media sosial, serta penyimpanan data yang tidak perlu kita dapat mengurangi penggunaan air dan energi. Langkah-langkah ini dapat mengurangi emisi karbon yang telah dihasilkan. 

 

Bridging: Sampah bukan kejutan yang dapat muncul begitu saja. Ia tercipta dari gaya hidup modern masyarakat yang serba digital dan mengikuti tren. Dengan begitu, jika bicara soal sampah kita perlu melihat gaya hidup seperti apa yang melatarbelakanginya. Bicara soal gaya hidup, saat ini Gen Z sebagai generasi muda merupakan pihak yang paling mengikuti tren dan gaya hidup modern. 

 

Gaya hidup Gen Z disinyalir menjadi salah satu faktor yang berperan aktif dalam mempercepat produksi limbah sehari-hari. Berbicara tentang Gen Z, maka kata-kata yang cenderung muncul di benak kebanyakan orang adalah cepat, praktis, dan serba instan. Sebagai generasi yang tumbuh besar dengan ponsel pintar, media sosial, dan internet, hal-hal berbau digital merupakan hal yang lumrah bagi mereka. 

 

Kita ambil contoh berbelanja online (makanan, pakaian, skincare). Tidak perlu keluar, cukup melakukan transaksi secara digital (lancar dan cepat). Gaya hidup seperti ini memang sangat mendukung bagi orang-orang yang memiliki keseharian yang padat, tetapi di sisi lain kebiasaan ini membentuk suatu pola konsumsi baru yang berdampak cukup besar bagi lingkungan. Menurut riset yang dilakukan DS Smith, sebuah perusahaan pengemasan multinasional Inggris,  pertumbuhan E-commerce (terutama pada fesyen) diketahui dapat meningkatkan penggunaan plastik kemasan sebanyak 40 persen di UK dalam 6 tahun ke depan. Bahkan, dalam 5 tahun mendatang (2030), plastik tersebut diproyeksikan bisa mencapai 6,9 miliar dengan 1,3 miliar kantong plastik yang diterima per tahunnya. 

 

Selaras dengan temuan yang didapat Pew Charitable Trusts (2025), sebuah lembaga independen yang bergerak dalam usaha peningkatan kebijakan publik. Diperoleh fakta bahwa plastik merupakan penyumbang terbesar limbah plastik global dan diproyeksi volumenya akan berlipat ganda pada tahun 2040, jika pola konsumsinya tidak juga diubah. Dampaknya beragam, mulai dari emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global (mempercepat perubahan iklim) serta limbahnya yang tentu dapat mengancam kesehatan banyak orang di seluruh dunia. 

 

Pada masa Pandemi Covid-19 (2021),  Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia mencatat setidaknya terjadi peningkatan jumlah sampah plastik dari yang awalnya 11 (tahun 2010) menjadi 17 persen dengan total sampah nasional diperkirakan mencapai 68,5 juta ton. Pada tahun 2023, komposisi limbah sampah kembali naik sebesar 19,15 persen dari total 56,63 juta ton sampah keseluruhan.

 

Menurut Direktur Pengurangan Sampah KLHK pada masa itu, Sinta Saptarina Soemiarno, peningkatan ini disebabkan adanya tren belanja online yang tinggi. Ia mengatakan berdasarkan hasil riset Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI (2020), dampak dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Work From Home (WFH) terhadap sampah plastik di Jabodetabek (April–Mei 2021) meningkat sebesar 62 persen dalam bentuk paket (bubble wrap), dan layanan pesan-antar makanan 47 persen (plastik sekali pakai; sedotan, kantong belanja dll). 

 

Berdasarkan hasil penelitian (Syahputra & Indirawati, 2025) yang judul “Hubungan pola belanja online dengan kuantitas sampah pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat.” Ditemukan bahwa rata-rata sampah kemasan dari aktivitas belanja online yang dilakukan 78 mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang menjadi responden, yakni mencapai ± 0,75 (746,73) gram dalam dua minggu. Nampaknya tidak seberapa, tetapi apabila dilakukan ribuan bahkan jutaan mahasiswa, tentu terjadi peningkatan volume drastis. Kembali lagi, Gen Z hidup di era yang serba praktis, segala berjalan dengan cepat dan instan. Efisiensi ini yang menjadikan kita harus lebih berhati-hari, karena setiap keputusan yang diambil sekecil apa pun berdampak krusial, walau hanya sekadar checkout produk pada saat promo. Sebab, aktivitas tersebut secara tidak langsung memperkuat budaya konsumsi cepat yang dapat meningkatkan produksi limbah, sedangkan proses pengelolaannya sendiri belum mumpuni. 

 

Ketika kebiasaan-kebiasan kecil tersebut mulai dinormalisasi, menjadi sesuatu yang terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh banyak masyarakat, dan bukan lagi tumpukan kecil yang tercipta, disitulah titik dimana kita mulai merasakan dampaknya secara luas. Sebab, sampah-sampah harian yang masuk ke sistem pengelolaan kota saat ini sudah memasuki tahap overload (melebihi kapasitas). 

 

Akibat dari gaya hidup yang tidak “hijau”, sampah menjadi persoalan yang tak terelakkan. Dari sekian kota di Indonesia, Bandung menjadi kota dimana permasalahan sampah sudah berada di tahap darurat. Menggunungnya sampah di TPS-TPS kota Bandung mengakibatkan TPA Bandung, yaitu TPA Sarimukti, overload

 

Meskipun Zona 5 TPA Sarimukti sudah beroperasi semenjak Juni lalu, didukung dengan pemanfaatan insinerator, tetapi Bandung raya masih mengalami darurat  sampah. Kebijakan Pemprov Jabar yang mengurangi tonase harian sampah ke Sarimukti menyebabkan penumpukan sampah di berbagai titik. TPS dan kawasan permukiman mulai dipenuhi sampah karena tonase harian yang boleh dibuang jauh lebih kecil dari jumlah sampah yang dihasilkan. Kondisi ini membuat lingkungan sekitar menjadi kotor, berbau, dan mengganggu aktivitas warga. Sementara itu aturan penerimaan sampah TPA Sarimukti yang hanya menerima sampah residu masih banyak dilanggar oleh masyarakat Bandung raya, buktinya sampah yang diterima Sarimukti masih tercampur dengan sampah organik.

 

Tumpukan sampah di pasar, jalan, dan permukiman berpotensi memicu polusi udara, bau menyengat, dan genangan lindi yang mencemari tanah serta aliran air. Selain pencemaran air, terdapat juga pencemaran udara yang dihasilkan dari penumpukan sampah. Penumpukan sampah organik di kota menghasilkan gas berbahaya seperti metana, ammonia, dan hidrogen sulfida yang mencemari udara. Hal ini pun menyebabkan kebakaran TPA berpotensi meningkat. Gas beracun serta asap kebakaran dapat berujung kepada iritasi pernapasan dan mata. Lebih buruk lagi, minimnya pemilahan dan dominasi sampah organik mempercepat pembusukan, tidak hanya memicu gangguan pernapasan, tetapi juga penyakit lainnya, seperti diare, infeksi kulit, hingga risiko penyakit menular.

 

Menurut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, jumlah produksi sampah harian Bandung saat ini kurang lebih sebanyak 1.500 ton, sementara jumlah tonase yang boleh dibuang ke Sarimukti hanya 981 ton/hari. Proyek TPPAS Legok Nangka, yang disiapkan sebagai solusi jangka panjang juga diperkirakan baru bisa beroperasi penuh pada 2028. Artinya, masih ada jeda waktu krusial yang harus dilewati sebelum fasilitas tersebut dapat digunakan. Tanpa pengurangan sampah dari sumber dan fasilitas pengolahan yang memadai, kondisi lingkungan Bandung akan terus memburuk.

 

Dari semua jenis sampah yang masuk ke TPA, sampah organik menjadi sorotan khusus terutama terkait efek domino yang dihasilkannya. Berdasarkan catatan pihak Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Eko Damayanto, dari total timbunan sampah kota Bandung, komposisi sampah didominasi sisa makanan (sampah organik), yakni sebesar 40,60%. Apakah ada solusi untuk mengurangi jenis sampah ini? Maggot adalah jawabannya. 

 

Maggot merupakan larva lalat hitam (Black Soldier Fly) yang dapat mengurai sampah organik secara alami dengan waktu yang cukup singkat. Saat menjadi larva, maggot dapat mengkonversi sampah organik menjadi nutrisi yang dapat mereka konsumsi. Budidaya maggot dalam upaya mengurangi sampah organik masuk ke TPA sudah berhasil dilakukan di beberapa wilayah di Kota Bandung. Sejauh ini, terdapat 151 kelurahan yang melakukan budidaya maggot yang mereka sebut sebagai “Rumah Maggot”. 

 

Sekitar 60% sampah yang masuk TPA setiap harinya merupakan sampah organik. Dengan adanya budidaya maggot yang menguraikan sampah organik secara alami, upaya ini telah menekan volume sampah organik yang masuk ke TPA. 

 

Sebagai mahasiswa, banyak hal yang dapat dilakukan untuk membantu melancarkan upaya budidaya maggot ini. Salah satunya dari upaya yang paling mudah dilakukan adalah dengan mulai memilah antara sampah organik dan anorganik. Sampah yang sudah dipilah dari sumbernya akan memudahkan distribusi sampah ke rumah maggot. Lebih dari itu, mahasiswa dapat menjadi penghubung antara kampus, komunitas dan rumah maggot yang tersebar di Kota Bandung. Banyak rumah maggot yang membuka program kolaborasi seperti pelatihan pengelolaan sampah, kunjungan edukasi hingga kerjasama pengumpulan sampah kantin.

 

Krisis sampah bukanlah masalah yang terbentuk secara instan, oleh karena itu manusia tidak hanya harus lebih sadar terhadap bahayanya tetapi juga apa penyebabnya, kita perlu berbenah mulai dari gaya hidup yang lebih hijau, dengan begitu harapannya lingkungan yang sudah rusak dapat diperbaiki dan dicegah agar tidak hancur lebih parah.

Baca Lainnya

Komentar (0)