Hegarmanah | Diperbarui 09:00 WIB Cerah 25°C | Cerah

Menanggung Dua Generasi, Begini Cara Generasi Sandwich Tetap Waras

19 Sep 2025 | 3 menit baca
Menanggung Dua Generasi, Begini Cara Generasi Sandwich Tetap Waras
Foto: Ilustrasi Generasi Sandwich. (Sumber: wdrfree)

Generasi sandwich. Namanya terdengar lucu, tapi realitanya cukup menekan. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Dorothy A. Miller pada 1981 untuk menggambarkan mereka yang harus menopang dua generasi sekaligus yakni orang tua di satu sisi, anak atau keluarga inti di sisi lain.

Fenomena ini sangat akrab di Indonesia. Banyak anak muda produktif, terutama generasi Z dan milenial, yang belum selesai membangun hidupnya sendiri tapi sudah harus ikut menanggung kebutuhan keluarga. Tak jarang, bantuan yang diberikan bukan hanya untuk orang tua, tapi juga adik, keponakan, hingga sepupu.

Antara Bakti dan Beban

Bagi banyak orang, membantu keluarga adalah bentuk bakti dan kasih sayang. Namun, kondisi ini bisa menjadi tekanan tersendiri. Survei Populix pada 2023 mencatat, 6 dari 10 responden di Indonesia mengaku termasuk dalam generasi sandwich dan sebagian besar merasa beban tersebut mengganggu kesehatan mental maupun kestabilan finansial mereka.

Hal yang membuat situasi ini rumit adalah perasaan bersalah yang kerap muncul. Di tengah niat tulus untuk membantu, banyak yang merasa harus selalu siap sedia, bahkan saat kondisi pribadi belum stabil. Tabungan tertunda, rencana masa depan melambat, dan kelelahan emosional perlahan menumpuk.

Menjaga Diri di Tengah Tekanan

Meskipun tanggung jawab yang diemban terasa berat, generasi sandwich masih bisa mencari ruang bernapas. Salah satunya dengan mulai menyusun prioritas. Tidak semua hal harus dikerjakan sendiri, tidak semua kebutuhan harus langsung dipenuhi. Penting juga untuk membedakan antara kewajiban dan ekspektasi yang tak selalu realistis.

Komunikasi menjadi kunci. Membuka percakapan dengan keluarga soal kondisi finansial bisa membantu membangun pengertian bersama. Di saat yang sama, belajar menetapkan batasan juga tidak kalah penting. Hal ini untuk menjaga diri sendiri bukan berarti egois.

Kemudian, yang tak boleh dilupakan adalah tetap sisihkan waktu serta ruang untuk diri sendiri. Entah itu menabung untuk masa depan, menyisihkan dana darurat, atau sekadar mengambil waktu untuk beristirahat tanpa rasa bersalah \ sebab pada akhirnya, yang kuat bukan mereka yang memikul semuanya, tapi mereka yang tahu kapan harus berhenti sejenak untuk bertahan lebih lama.

Penulis: Fadhillah Az Zahra

Baca Lainnya

Komentar (0)