Hegarmanah | Diperbarui 09:00 WIB Cerah 25°C | Cerah

Komunikasi “Renyah” Sampaikan Pencegahan Ekstrimisme Berbasis Kekerasan Mengarah Terorisme

27 Feb 2025 | 3 menit baca
Komunikasi “Renyah” Sampaikan Pencegahan Ekstrimisme Berbasis Kekerasan Mengarah Terorisme
(Buku "Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah") (Foto: Tim Divia Unpad TV)

Sumedang, Navigasi – Kreasi Prasasti Perdamaian berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) meluncurkan buku karya Dr. Noor Huda Ismail berjudul “Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah” dan pemutaran film dokumenter “Road to Resilience” pada Kamis (27/2).

Kepala BNPT Republik Indonesia, Letnan Kolonel Yaenurendra mengatakan BNPT memiliki rencana aksi nasional mengenai penanggulangan dan pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. Aksi tersebut mengusung tema besar yaitu komunikasi strategis.

Peluncuran ini merupakan upaya peningkatan kesadaran komunitas dan kolaborasi pemangku kepentingan tentang 5R (Repatriasi, Rehabilitasi, Relokasi, Reintegrasi, dan Resiliensi). Bedah buku dan pemutaran film dinilai sebagai komunikasi yang renyah untuk menyampaikan kampanye pencegahan terhadap ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme dan juga menghilangkan stigma di masyarakat terkait warga negara Indonesia (WNI) yang mengalami repatriasi dan kembali hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. 

“Ini adalah pilot projek, satu produk komunikasi strategis yang kita upayakan serenyah mungkin bisa dikonsumsi oleh seluruh elemen masyarakat terutama generasi muda,” ujar Kepala BNPT RI, Letkol Yaenurendra.

Agenda tersebut berlanjut dengan menyelenggarakan roadshow ke empat kota besar di Indonesia yaitu Bandung, Lampung, Surabaya, dan Semarang. Roadshow pertama digelar di Bandung, tepatnya di Universitas Padjadjaran. 

Kreasi Prasasti Perdamaian khususnya memilih Fakultas Ilmu Komunikasi sebagai tempat pemutaran film dan bedah buku dengan tujuan menjadikan Fikom sebagai modeling karena pendekatan komunikasi merupakan hal yang paling krusial dalam pembahasan isu yang sangat sensitif tersebut.

“Secara spesifik kita memilih Fakultas Ilmu Komunikasi karena itu menjadi modeling untuk daerah-daerah yang lain. Ini Pemdanya sudah bagus ini, karena isunya super sensitif ya. Jadi, saat nanti dibawa pulang, kan nggak mungkin sama BNPT Jakarta mulu, pasti harus ada daerah,” ujar Direktur Kreasi Prasasti Perdamaian sekaligus penulis buku “Anak Negeri di Pusaran Konflik Suriah”, Dr. Noor Huda Ismail.

Dr. Noor mengatakan tantangan utama dalam mengembalikan WNI dari kamp-kamp Suriah kembali ke masyarakat Indonesia adalah stigma tentang teroris. Oleh karena itu diperlukan peningkatan komunikasi untuk menyiapkan masyarakat menerima repatriasi WNI dari negara luar.

“Makanya ini harus ada pendekatan komunikasi untuk menyiapkan masyarakat. Harapannya mereka (WNI repatriasi) bisa kembali ke masyarakat dengan normal. Bukan hanya normal, tapi juga bisa (hidup dengan) produktif gitu,” tambah Dr. Noor.***

 

Penulis: Noor Fatimah Albirkah

Baca Lainnya

Komentar (0)