Hegarmanah | Diperbarui 00:00 WIB Cerah Berawan 19°C | Cerah Berawan

Bedah Kebijakan Luar Negeri Prabowo Bersama Akademisi Unpad, Prof. Dr. Arifin Sudirman

Apakah politik luar negeri Indonesia masih "bebas-aktif" di bawah kepemimpinan baru saat ini?
Foto Ayesha Kayla
Ayesha Kayla
04 Sep 2026 3 menit baca

Kebijakan luar negeri Indonesia yang selama ini dikenal dengan prinsip bebas dan aktif kini sedang menghadapi hambatan, dimana keputusan pemerintah untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian, yakni sebuah inisiatif multilateral yang dibentuk oleh mantan Presiden AS Donald Trump pada tahun 2026, memicu perdebatan hangat di kalangan akademisi dan praktisi hubungan internasional.

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Arifin Sudirman, S.I.P., M.A.IR., membedah fenomena ini dalam diskusi “Satu Jam Berbincang Ilmu” yang diselenggarakan secara daring oleh Dewan Profesor Unpad pada 4 Maret 2026. Diskusi mendalam ini mengupas tuntas benturan antara tradisi non-blok Indonesia dengan tekanan aliansi global, dinamika birokrasi dalam negeri, hingga dampaknya terhadap posisi moral Indonesia di kancah internasional.

Salah satu topik yang paling disorot dalam diskusi ini adalah hilangnya netralitas Dewan Perdamaian, yang dinilai cenderung memihak kepentingan Israel dibanding Palestina. Dewan ini menuai kritik keras karena mengusulkan syarat pelucutan senjata yang samar dan secara tidak proporsional membatasi kelompok perlawanan Palestina seperti Hamas.

Bagi Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim yang memiliki solidaritas historis dan konstitusional yang kuat terhadap kemerdekaan Palestina, keterlibatan ini menimbulkan dilema domestik yang sensitif. Upaya Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyeimbangkan aliansi internasional dengan sentimen dalam negeri dinilai rumit karena berpotensi merusak legitimasi politik domestik sekaligus mencederai citra Indonesia sebagai pembela bangsa-bangsa terjajah  jika gagal melindungi kepentingan Palestina.

Keterbatasan ekonomi domestik menjadi salah satu faktor pendorong utama Indonesia mengambil langkah pragmatis. Lambatnya investasi, meningkatnya pengangguran, dan defisit fiskal menjadi alasan untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian dengan harapan dapat mengamankan aliran investasi serta bantuan internasional dari jaringan pengusaha global maupun keluarga politik AS yang berpengaruh.

Situasi ini diperumit oleh dinamika politik dalam negeri. Gaya kepemimpinan Prabowo yang transaksional memicu pembentukan kabinet dengan banyak wakil menteri untuk menjaga loyalitas koalisi. Pengeluaran anggaran yang membengkak untuk dukungan politik ini membatasi kemampuan fiskal Indonesia dalam mendanai inisiatif strategis luar negeri.

Dampaknya juga terasa langsung pada melemahnya kapasitas kelembagaan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Di bawah menteri baru yang bukan berasal dari diplomat karier, Kemenlu mengalami penurunan pengaruh serta kebingungan birokrasi akibat sinyal kebijakan yang saling bertentangan dari para wakil menteri. Minimnya konsultasi dengan para diplomat karier dan ahli pun turut merusak kredibilitas Indonesia di forum global.

Prof. Dr. Arifin mengungkapkan bahwa Indonesia dituntut untuk mengarahkan diplomasi secara cermat tanpa mengorbankan nilai-nilai demokrasi. Diskusi ini merekomendasikan pentingnya penguatan mekanisme checks and balances dari Dewan Perwakilan Rakyat, pengawasan institusional yang ketat, transparansi pembuatan kebijakan luar negeri, serta pelibatan akademisi untuk memastikan setiap langkah diplomatik eksekutif ditujukan demi kepentingan publik.

 

 

Berita Lainnya

Orasi Ilmiah Kembali Digelar Pada Dies Natalis Unpad Ke-69, Kolaborasi Dengan Brin Menjadi Sorotan

Orasi Ilmiah Kembali Digelar Pada Dies Natalis Unpad Ke-69, Kolaborasi Dengan Brin Menjadi Sorotan

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 14 September 2026
Awas Charger KW dan Ini Tips Menghindarinya

Awas Charger KW dan Ini Tips Menghindarinya

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 09 September 2026
Tren “Obat Penurun Berat Badan” Ozempic, Mendalami Bahaya Kesehatan Di Baliknya

Tren “Obat Penurun Berat Badan” Ozempic, Mendalami Bahaya Kesehatan Di Baliknya

Lifestyle
Dislike 0 0 Komentar | 07 September 2026
Bedah Kebijakan Luar Negeri Prabowo Bersama Akademisi Unpad, Prof. Dr. Arifin Sudirman

Bedah Kebijakan Luar Negeri Prabowo Bersama Akademisi Unpad, Prof. Dr. Arifin Sudirman

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 04 September 2026
Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 02 September 2026
Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

Pendidikan
Dislike 0 0 Komentar | 02 September 2026

Rekomendasi Untuk Anda

Pendidikan

Orasi Ilmiah Kembali Digelar Pada Dies Natalis Unpad Ke-69, Kolaborasi Dengan Brin Menjadi Sorotan

0 0 0 Komentar | 14 September 2026
Lifestyle

Awas Charger KW dan Ini Tips Menghindarinya

0 0 0 Komentar | 09 September 2026
Lifestyle

Tren “Obat Penurun Berat Badan” Ozempic, Mendalami Bahaya Kesehatan Di Baliknya

0 0 0 Komentar | 07 September 2026
Pendidikan

Bedah Kebijakan Luar Negeri Prabowo Bersama Akademisi Unpad, Prof. Dr. Arifin Sudirman

0 0 0 Komentar | 04 September 2026
Pendidikan

Internet Pengaruhi Modal Sosial dan Tranformasi Sosial di Indonesia: Studi Empiris Prof. Dr. Bayu Kharisma

0 0 0 Komentar | 02 September 2026
Pendidikan

Gigi Sebagai “KTP Biologis” Manusia

0 0 0 Komentar | 02 September 2026
Lifestyle

Kawasan Pendidikan Jatinangor: Antara Truk dan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 31 Agustus 2026
Lifestyle

Piknik Bebas Plastik, Satu Hari Tanpa Sekali Pakai di Taman Panatayuda

0 0 0 Komentar | 30 Agustus 2026
Pendidikan

PMBV 2026 #Elevate3.0: Meraki untuk Merasa, Bersama untuk Berdaya

0 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Lifestyle

Bukan Sekedar Boneka Anime: Mengenal Ragam Bentuk dan Lini Merchandise Nuigurumi

0 0 0 Komentar | 24 Agustus 2026
Lifestyle

Lebih dari Sekadar Fandom: NCTzen Humanity dan Solidaritas untuk Korban Bencana

0 0 0 Komentar | 22 Agustus 2026
Lifestyle

Esensi Banner Skripsi dan kelulusan: Bentuk budaya populer dikalangan mahasiswa

0 0 0 Komentar | 22 Agustus 2026
Event

PKKMB Fikom Unpad 2026 Resmi Dimulai, Asrayaloka Jadi Ruang Awal Mahasiswa Baru Mengenal Fikom

0 0 0 Komentar | 18 Agustus 2026
Event

Beragam UKM Unpad Hiasi Rangkaian Prabu 2026

0 0 0 Komentar | 11 Agustus 2026
Event

Hari Kedua Prabu 2026, Mahasiswa Baru Ikuti Talkshow, Parade, Hingga Student Festival

0 0 0 Komentar | 11 Agustus 2026
Event

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Hadiri PKKMB Unpad 2026, Soroti Akses Pendidikan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Event

12.982 Mahasiswa Baru Mulai Langkah Pertama di PKKMB Unpad 2026

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Event

12.982 Mahasiswa Baru Mulai Langkah Pertama di PKKMB Unpad 2026

0 0 0 Komentar | 10 Agustus 2026
Pendidikan

Hari Pertama PAMUKA 2026, Mahasiswa Baru Kenali Layanan dan Kehidupan Kampus

0 0 0 Komentar | 03 Agustus 2026
Lifestyle

Ketika Makeup Menjadi Bahasa Ekspresi Generasi Muda

0 0 0 Komentar | 02 Agustus 2026
Budaya

Meracik Inovasi: Minuman Tradisional Beradaptasi di Tengah Tren Kekinian

0 0 0 Komentar | 26 Juli 2026
Lifestyle

Membedah Stereotype "Cegil" Terhadap Film Obsession

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Trend Olah Raga lari yang Bergeser Jadi Trend Adu Busana

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Mengelola Cortisol, Mengelola Stres: Cara Ilmiah Mahasiswa Cegah Burnout

0 0 0 Komentar | 24 Juli 2026
Lifestyle

Di Balik Tren Membawa Tumbler di Kalangan Mahasiswa

0 0 0 Komentar | 20 Juli 2026
Lifestyle

Mengintip Komunitas B-Blade, Berdiri 32 Tahun Asah Atlet Sepatu Roda di Bandung

0 0 0 Komentar | 18 Juli 2026
Lifestyle

Cabinet Couture Season 2: Apa yang ditakuti dari akun pengulas outfit pejabat hingga diblokir KOMDIGI?

0 0 0 Komentar | 17 Juli 2026

Komentar (0)