Hegarmanah | Diperbarui 18:00 WIB Cerah 22°C | Cerah

Peneliti Unpad Terlibat Studi Global TB Otak, Hasilnya Jadi Acuan Pengobatan

13 Feb 2026 | 3 menit baca
Peneliti Unpad Terlibat Studi Global TB Otak, Hasilnya Jadi Acuan Pengobatan

Tim peneliti dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Indonesia (UI), dan Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) Indonesia menyelesaikan studi internasional HARVEST, salah satu uji klinik terbesar untuk penyakit meningitis tuberkulosis (TB otak).

Penelitian ini melibatkan berbagai institusi dari Indonesia, Uganda, Afrika Selatan, Belanda, dan Amerika Serikat. Studi tersebut meneliti apakah pemberian obat rifampisin dengan dosis lebih tinggi dapat meningkatkan peluang hidup pasien meningitis TB.

Meningitis tuberkulosis merupakan salah satu bentuk TB paling berat karena menyerang selaput dan jaringan otak. Penyakit ini banyak menyerang anak-anak dan orang dewasa muda. Tanpa pengobatan, penyakit ini hampir selalu berakibat fatal. Bahkan dengan terapi yang ada saat ini, sekitar satu dari tiga pasien meninggal dunia dan sebagian besar penyintas mengalami kecacatan.

Peneliti utama dari RS Hasan Sadikin sekaligus peneliti Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Unpad dr. Ahmad Rizal Ganiem mengatakan pengobatan yang tepat sangat menentukan peluang hidup pasien.

“Selain memperbaiki diagnosis dan menangani komplikasi, pemberian obat anti-TB yang tepat waktu dan dengan dosis yang tepat menjadi faktor penting untuk memperbaiki luaran penyakit ini,” ujarnya.

Selama ini, pengobatan meningitis TB masih mengikuti pola terapi TB paru, baik dari jenis obat maupun dosisnya. Padahal lokasi infeksi yang berada di otak membuat obat lebih sulit menembus jaringan yang dilindungi oleh mekanisme khusus tubuh.

Karena itu, para peneliti mencoba meningkatkan dosis rifampisin–salah satu obat utama TB–dengan harapan lebih banyak obat yang dapat mencapai jaringan otak.

Penelitian HARVEST merupakan lanjutan dari riset sebelumnya yang dilakukan sejak 2010 oleh tim peneliti Unpad bersama Radboudumc Belanda. Studi tahap awal menunjukkan potensi peningkatan angka keselamatan pasien dengan dosis rifampisin lebih tinggi.

Namun hasil uji klinik fase tiga yang melibatkan 499 pasien dewasa di sembilan rumah sakit di tiga negara menunjukkan bahwa rifampisin dosis tinggi tidak memberikan peningkatan angka keselamatan dibanding dosis standar setelah enam bulan pengobatan. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada 18 Desember di jurnal kedokteran internasional New England Journal of Medicine (NEJM).

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Unpad Prof. Rovina Ruslami menjelaskan bahwa meningitis TB masih menjadi tantangan besar dalam dunia medis. “Meningitis TB sering kali tidak terdiagnosis, dan bahkan ketika sudah dikenali, pengobatannya masih belum optimal dengan angka kematian yang tetap tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu masalah utama adalah obat TB paru tidak selalu mampu mencapai jaringan otak secara efektif. Oleh karena itu, penelitian seperti HARVEST penting untuk menghasilkan bukti ilmiah yang dapat memperbaiki pengobatan pasien.

Meski hasilnya tidak menunjukkan manfaat tambahan dari peningkatan dosis obat, temuan ini tetap penting bagi dunia medis. Peneliti dari RS Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. Darma Imran mengatakan hasil tersebut membantu dokter menghindari terapi yang tidak memberikan manfaat tambahan bagi pasien.

“Mengetahui apa yang tidak efektif sama pentingnya dengan mengetahui apa yang efektif,” katanya.

Di Indonesia, penelitian ini melibatkan sejumlah rumah sakit, antara lain RS Hasan Sadikin, RS Cibabat, dan RS Immanuel di Bandung, serta RS Cipto Mangunkusumo dan RS Polri di Jakarta. Dari total peserta penelitian, 193 pasien berasal dari Indonesia.

Kepala Program Riset Penyakit Infeksi Klinis OUCRU Indonesia Prof. Raph Hamers menilai studi HARVEST juga menunjukkan kemampuan Indonesia dalam melaksanakan penelitian klinis berskala internasional. “Kolaborasi ini menunjukkan bahwa penelitian yang digerakkan secara lokal dapat memberikan dampak langsung terhadap standar perawatan global,” ujarnya.

Studi HARVEST menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia mampu berperan aktif dalam penelitian kesehatan berskala internasional sekaligus berkontribusi dalam pengembangan standar pengobatan penyakit serius seperti meningitis tuberkulosis.

 

(Nugraha)

Baca Lainnya

Komentar (0)