Hegarmanah | Diperbarui 04:00 WIB Berawan 18°C | Berawan

Akselerasi Kampus sehat di Rakernas MDGB PTNBH 2026, Unpad Dorong Optimalisasi Peran Dewan Profesor

21 Jun 2026 | 3 menit baca
Akselerasi Kampus sehat di Rakernas MDGB PTNBH 2026, Unpad Dorong Optimalisasi Peran Dewan Profesor
Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Arief S. Kartasasmita, saat menyampaikan sambutan mengenai strategi akselerasi program kampus sehat dalam Rakernas MDGB PTNBH 2026 di Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad Dipati Ukur, Bandung, Jumat (19/6/2026). (Foto: Ti

Bandung, Navigasi - Isu kampus sehat dan berkelanjutan diangkat menjadi strategi nasional melalui keynote speech Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi republik Indonesia pada hari kedua Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB PTNBH) 2026, Jumat (19/6). Terkait hal itu, Universitas Padjadjaran tercatat telah mulai inisiasi program tersebut sejak tiga tahun lalu pascapandemi Covid-19 dengan capaian saat ini berada di angka 20% hingga 30% dari parameter yang ditentukan.

 

Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita, dr., Sp.M(K)., M.Kes., Ph.D., menegaskan komitmen universitas untuk terus meningkatkan capaian tersebut secara bertahap demi mencapai target pemenuhan standar secara paripurna pada tahun 2028 atau 2029 mendatang.

 

“Ya, sebetulnya kami sudah memulai kampus sehat ini sejak mungkin 3 tahun yang lalu, saat selesai Covid. Jadi kami mulai melakukan kampus yang sehat dan berkelanjutan, artinya dari sisi lingkungan dan seterusnya kita akan kembangkan lebih lanjut. Dan sekarang kurang lebih dari data, kurang lebih 20% sampai 30% dari parameter-parameter kampus sehat sudah kami capai, dan tentu saja akan kami tingkatkan setahun demi tahun sehingga target kami kampus sehat bisa tercapai di 2028 atau 2029 secara paripurna sesuai dengan standar yang ada,” kata Prof. Arief.

 

Namun, rektorat mengidentifikasi adanya tantangan terbesar dalam merealisasikan program tersebut, yakni pada faktor internalisasi budaya dan kebiasaan di lingkungan civitas akademika agar kebijakan ini tidak sekedar menjadi program normatif. 

 

“Tantangan terbesar tentu dari sisi budaya. Jadi budaya kita, bagaimana agar kampus sehat ini tidak hanya menjadi slogan, atau menjadi program saja, tetapi menjadi suatu internalisasi keseharian bagi para sivitas, baik dosen, mahasiswa, tendik, untuk dapat mengimplementasikan kampus sehat secara lebih baik “ lanjutnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Arief juga menyoroti pentingnya peran Dewan Profesor dalam mendukung pengambilan keputusan strategis, baik di tingkat universitas maupun di tingkat nasional. Pihak rektorat memposisikan dewan ini sebagai wadah kumpulan cendekiawan lintas keahlian yang memiliki kemampuan luar biasa.

 

“Kami memposisikan Dewan Profesor ini menjadi think tank, tidak hanya untuk universitas, tapi juga untuk nasional secara umum. Sehingga kami secara berkala memohon atau meminta kepada Dewan Profesor untuk dapat melakukan berbagai macam diskusi atau pengembangan ilmu dan kebijakan, sehingga nanti hal-hal tersebut dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di tingkat rektorat maupun di tingkat nasional yang kami berikan dalam bentuk policy brief,” jelasnya.

 

​Sebagai langkah konkret, pihak rektorat mengonfirmasi telah melakukan koordinasi berkala bersama Ketua Dewan Profesor dan Ketua Senat Akademik. Melalui sinergi ini, para guru besar didorong untuk bergerak lebih aktif dan intensif dalam melakukan berbagai kajian terhadap realitas sosial yang tengah terjadi di dalam maupun di luar lingkungan kampus.

 

Penulis: Debora Christiani Dohona

Baca Lainnya

Komentar (0)