Hegarmanah | Diperbarui 03:00 WIB Cerah 18°C | Cerah

Hiking Menjadi Pilihan Olahraga Diminati Kalangan Generasi Z

04 Jul 2026 | 3 menit baca
Hiking Menjadi Pilihan Olahraga Diminati Kalangan Generasi Z
Sejumlah pendaki saat menikmati pemandangan sekaligus berburu konten estetik di hamparan awan puncak Gunung Papandayan. (Foto: Debora Christiani Dohona)

Akhir pekan kini tidak selalu identik dengan menghabiskan waktu di shopping mall, coffee shop, atau tempat hiburan. Minat anak muda terhadap olahraga juga terus berkembang. Lari, pilates, yoga, tenis, hingga hiking menjadi beberapa aktivitas yang banyak digemari Generasi Z. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas hiking semakin banyak dipilih sebagai cara mengisi waktu luang sekaligus melepas penat setelah menjalani rutinitas kuliah maupun pekerjaan, seiring meningkatnya tren gaya hidup sehat dan keinginan mencari pengalaman baru di alam terbuka.  

Berbeda dengan olahraga yang dilakukan di dalam ruangan, hiking mengajak seseorang menikmati perjalanan menuju puncak sambil berinteraksi langsung dengan alam. Tidak sedikit yang menjadikan aktivitas ini sebagai agenda rutin bersama teman, komunitas, maupun keluarga.

Fenomena tersebut terlihat di berbagai gunung di Jawa Barat yang semakin ramai didatangi pendaki, terutama saat akhir pekan dan musim liburan. Gunung Papandayan di Garut menjadi salah satu destinasi yang diminati karena memiliki jalur yang relatif bersahabat bagi pendaki pemula. Pemandangan kawah aktif, Hutan Mati, hingga hamparan edelweiss di kawasan Tegal Alun menjadi daya tarik yang membuat gunung ini banyak dipilih. Selain Papandayan, Gunung Gede Pangrango, Cikuray, Guntur, Manglayang, dan Burangrang juga menjadi tujuan favorit para pendaki.

Selain menjadi aktivitas yang identik dengan rekreasi alam, hiking juga dianggap sebagai pilihan liburan yang relatif terjangkau dibandingkan wisata komersial. Dengan biaya yang lebih rendah, pendaki tetap dapat menikmati pengalaman rekreasi, transportasi sederhana, serta momen kebersamaan dengan teman atau komunitas. Hal ini membuat hiking semakin diminati oleh kalangan mahasiswa dan pekerja muda yang ingin berlibur tanpa mengeluarkan biaya besar.

Fenomena ini juga mendorong berkembangnya komunitas-komunitas hiking di berbagai daerah. Melalui komunitas tersebut, para pendaki pemula dapat belajar mengenai teknik pendakian, keselamatan, hingga manajemen perjalanan di alam terbuka. Tidak sedikit pula komunitas yang rutin mengadakan pendakian bersama ke berbagai gunung di Jawa Barat, sehingga aktivitas ini tidak hanya menjadi olahraga individu, tetapi juga sarana membangun relasi sosial.

 

Lebih dari Sekadar Konten Media Sosial

Popularitas hiking tidak lepas dari pengaruh media sosial. Foto matahari terbit dari puncak gunung, video perjalanan di jalur pendakian, hingga momen berkemah sering menghiasi Instagram, TikTok, maupun Threads. Konten-konten tersebut membuat semakin banyak orang tertarik mencoba pengalaman mendaki.

Sebagian orang memanfaatkan hiking sebagai sarana membuat konten. Sebagian lainnya memilih mendaki karena ingin menikmati suasana alam yang jauh dari kebisingan kota. Berjalan di tengah hutan, menghirup udara pegunungan, hingga menyaksikan matahari terbit menjadi pengalaman yang sulit ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

Meski begitu, mendaki gunung bukan sekadar mengikuti tren. Aktivitas ini membutuhkan persiapan fisik, perlengkapan yang sesuai, serta pengetahuan mengenai jalur pendakian dan kondisi cuaca. Persiapan tersebut penting agar perjalanan tetap aman sekaligus nyaman.

 

Memberikan Manfaat bagi Kesehatan

Di balik popularitasnya, hiking juga memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Penelitian berjudul An Integrative Review of the Physical, Mental, and Socioeconomic Benefits of Outdoor Hiking yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Public Health menjelaskan bahwa hiking dapat meningkatkan kebugaran jantung, memperkuat otot dan tulang, membantu menurunkan tingkat stres, memperbaiki suasana hati, serta meningkatkan kualitas hidup melalui aktivitas di alam terbuka.

Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa berada di lingkungan alami memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental. Aktivitas berjalan di alam membantu seseorang beristirahat sejenak dari tekanan pekerjaan maupun aktivitas akademik. Interaksi bersama teman selama pendakian juga dapat mempererat hubungan sosial.

Perkembangan teknologi ikut mendorong meningkatnya minat masyarakat untuk mendaki. Informasi mengenai jalur pendakian, prakiraan cuaca, perlengkapan, hingga tips keselamatan kini mudah ditemukan melalui berbagai platform digital. Kemudahan tersebut membuat semakin banyak pendaki pemula berani mencoba pengalaman pertamanya.

 

Menikmati Alam dengan Bertanggung Jawab

Meningkatnya jumlah pendaki juga membawa tantangan baru bagi kelestarian alam. Sampah yang tertinggal di jalur pendakian, vandalisme, hingga kerusakan vegetasi masih menjadi persoalan di sejumlah kawasan gunung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya minat mendaki perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga lingkungan.

Sebagai pedoman beraktivitas di alam terbuka, Leave No Trace Center for Outdoor Ethics memperkenalkan tujuh prinsip Leave No Trace. Prinsip tersebut meliputi merencanakan perjalanan dengan baik, tetap berada di jalur yang telah ditentukan, membawa kembali seluruh sampah, tidak mengambil apa pun dari alam, meminimalkan dampak api unggun, menghormati satwa liar, serta menghargai pengunjung lain.

Penerapan prinsip-prinsip tersebut bertujuan mengurangi dampak aktivitas manusia terhadap lingkungan sehingga kawasan pegunungan tetap terjaga. Kesadaran setiap pendaki menjadi faktor penting agar alam tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

 

Penulis: Debora Christiani Dohona

Baca Lainnya

Komentar (0)