Hegarmanah | Diperbarui 18:00 WIB Berawan 23°C | Berawan

Menjelajahi sejarah, Tradisi dan Kuliner Dunia di Festival Budaya 2026

28 Jun 2026 | 3 menit baca
Menjelajahi sejarah, Tradisi dan Kuliner Dunia di Festival Budaya 2026
Persiapan barisan para brand ambassador tiap negara yang mengenakan kostum khas sebelum melakukan parade keliling area Unpad, Jatinangor, Pada Kamis (25/06/2026).(Foto: Tim Divia Unpad TV)

Sumedang, Navigasi – Festival Budaya Fikom Unpad 2026 yang digelar di Lapangan Parkir Balai Santika Universitas Padjadjaran menghadirkan kebudayaan dari 33 negara sekaligus. Acara ini menyajikan keragaman tradisi, sejarah, bahasa, hingga makanan khas dari berbagai belahan dunia kepada para pengunjung kampus. Kebudayaan yang ditampilkan secara menyeluruh berasal dari negara Korea Selatan, Kenya, Jamaika, Fiji, Norwegia, Jepang, Ghana, Yunani, India, Selandia Baru, Pakistan, Maroko, Prancis, Jerman, Australia, Skotlandia, Filipina, Italia, Etiopia, Spanyol, Vietnam, Nigeria, Meksiko, Afrika Selatan, Kuba, Kanada, Argentina, Mesir, Thailand, Uzbekistan, Brasil, China, dan Peru.

 

Rangkaian agenda dimulai dengan parade keliling area Universitas Padjadjaran yang diikuti para brand ambassador dari masing-masing negara dengan pakaian adat mereka. Memasuki area Balai Santika, kegiatan dilanjutkan dengan sesi fashion show pakaian tradisional yang memamerkan keunikan motif, potongan kain, warna, serta filosofi di balik setiap busana. Panggung utama kemudian diisi oleh persembahan musikal drama kolaboratif singkat serta pementasan seni dari beberapa negara lain yang menampilkan transisi musik, dialog, dan gerak tari tradisional khas masing-masing wilayah untuk mengenalkan identitas budaya mereka.

 

Eksplorasi mendalam terhadap aspek sejarah, tradisi, dan kuliner dilakukan secara spesifik dengan membedah perwakilan kebudayaan dari tiap benua demi memberikan wawasan mengenai bagaimana perbedaan latar belakang tetap mampu melahirkan penghormatan yang sama terhadap warisan leluhur. Dari benua Eropa, Prancis dan Italia menjadi representasi kuat tentang bagaimana kuliner diperlakukan sebagai bagian penting dari identitas budaya dan warisan sejarah. Dalam budaya kuliner Italia, penambahan nanas pada pizza umumnya dipandang tidak sesuai dengan tradisi pembuatan pizza autentik. Meskipun tidak diatur secara hukum, praktik tersebut sering dianggap bertentangan dengan nilai historis dan identitas kuliner Italia. Selanjutnya, mematahkan pasta sebelum direbus juga dianggap tidak sesuai dengan tradisi memasak pasta karena dapat mempengaruhi tekstur serta cara penyajian hidangan. Sementara, dari negara Prancis mengenalkan gastronomi sebagai warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO sejak tahun 2010. Tata cara penyajian makanan formal dan etika di meja makan dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap kebersamaan. Pengunjung juga diperkenalkan pada tradisi Galette des Rois, kue khas perayaan Epifani yang berisi sebuah patung keramik kecil atau fève, di mana siapa pun yang menemukannya akan dinobatkan sebagai raja atau ratu sehari.

 

Kawasan benua Asia diwakili oleh Jepang dan China yang memperlihatkan cara berbeda dalam mempertahankan warisan budaya, baik melalui etika kehidupan sehari-hari maupun pelestarian sistem tulisan. Jepang menampilkan nilai etika tradisional melalui tata krama penggunaan sumpit, di mana menancapkan sumpit secara tegak lurus di atas mangkuk nasi dianggap tidak sopan karena menyerupai ritual persembahan dupa dalam upacara pemakaman Buddha tradisional. Jepang juga memperkenalkan filosofi Kintsugi, yaitu seni memperbaiki keramik pecah menggunakan pernis bercampur serbuk emas untuk menunjukkan bahwa kerusakan merupakan bagian dari sejarah benda yang menambah keindahannya. Di sisi lain, China menonjolkan sejarah tulisan melalui aksara Hanzi yang telah digunakan selama lebih dari tiga milenium sebagai simbol visual yang merekam evolusi dinasti dan filosofi hidup masyarakat Tionghoa dari masa ke masa.

 

Representasi benua Amerika berfokus pada wilayah Amerika Selatan melalui negara Peru yang menunjukkan bagaimana identitas bangsa dapat dituangkan melalui karya visual dan kuliner otentik. Kebudayaan Peru mendalami sejarah peradaban suku Inka dengan memamerkan kain tenun tradisional berwarna cerah. Kain tersebut dibuat menggunakan teknik tenun tradisional dengan alat tenun ikat pinggang (backstrap loom) yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Andes. Setiap motif geometris pada kain tersebut memuat kode visual yang menceritakan status sosial pemakainya serta identitas suku asal. Selain kain tenun, Peru juga memperkenalkan Ceviche, hidangan ikan mentah yang dimasak melalui proses denaturasi asam dari perasan jeruk nipis murni yang diperkirakan telah berkembang sejak masa pra-Inka sebagai teknik pengawetan protein laut.

 

Eksotisme budaya juga terpancar kuat dari wilayah Karibia melalui representasi kebudayaan Jamaika yang dikaji secara tajam melalui aspek busana dan kuliner khas. Pasangan brand ambassador Jamaika tampil mengenakan pakaian adat khas bernama gaun Quadrille. Busana tradisional ini memiliki nilai sejarah yang dipengaruhi oleh gaya busana kolonial Eropa abad ke-18 dengan sentuhan lokal masyarakat Karibia yang didominasi pengaruh keturunan Afrika. Pakaian tersebut berupa gaun katun bermotif kotak-kotak merah-putih dengan rok mengembang yang dihiasi rumbai-rumbai cerah, lengkap dengan penutup kepala berupa kain bandana yang serasi. Bersamaan dengan pengenalan kostum tradisional tersebut, dihadirkan pula teh sorrel otentik yang terbuat dari seduhan bunga rosela kering dan campuran rempah-rempah seperti jahe. Minuman tradisional ini menjadi simbol kehangatan keluarga yang umum disajikan dalam berbagai perayaan tradisional, terutama pada musim Natal dan sejumlah perayaan nasional Jamaika.

 

Secara keseluruhan, kehadiran stan kebudayaan dari 33 negara ini berfungsi sebagai representasi fisik dari materi edukasi global yang interaktif di lingkungan kampus. Pengenalan sejarah, tradisi, ragam bahasa, pakaian adat, hingga kuliner otentik dari tiap benua berhasil memberikan ruang belajar informal bagi seluruh civitas akademika Universitas Padjadjaran. Penyelenggaraan Festival Budaya Fikom Unpad 2026 menjadi sebuah cerminan penting mengenai bagaimana nilai-nilai toleransi dan pemahaman lintas budaya internasional dapat dikomunikasikan secara efektif melalui pendekatan pengalaman langsung tanpa harus meninggalkan lingkungan kampus.

 

 

Penulis: Debora Christiani Dohona

Baca Lainnya

Komentar (0)