Hegarmanah | Diperbarui 03:00 WIB Berawan 17°C | Berawan

Ragam Catatan dan Apresiasi di Balik Gelaran Festival Budaya Fikom Unpad 2026

25 Jun 2026 | 3 menit baca
Ragam Catatan dan Apresiasi di Balik Gelaran Festival Budaya Fikom Unpad 2026
Kunjungan Rektor Unpad Prof. Arief S. Kartasasmita dr., Sp.M(K)., M.Kes., Ph.D., bersama Dekan Fikom Unpad Dr. Nindi Aristi, S.Sos., M.Comn, dan Guru Besar Fikom Unpad Prof. H. Deddy Mulyana, Drs., M.A., Ph.D., (Foto: Debora Dohona)

Sumedang, Navigasi –  Lapangan Bale Santika Kampus Universitas Padjadjaran, Jatinangor mendadak lebih ramai dari biasanya pada Kamis, 25 Juni 2026. Ratusan mahasiswa, dosen, serta perwakilan duta besar memadati area terbuka ini untuk menyaksikan rangkaian acara Festival Budaya yang digelar oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad.

 

Kemeriahan festival berjalan lancar karena panitia membagi acara ke dalam banyak kegiatan menarik. Para peserta menampilkan parade kebudayaan keliling area kampus, peragaan busana adat (fashion show), pertunjukan drama musikal, hingga pembuatan stan-stan edukasi yang interaktif. Tidak hanya melihat baju khas, pengunjung yang datang juga bisa mencoba berbagai permainan unik dan menikmati rekomendasi kuliner khas dari 33 negara lintas benua, mulai dari Asia, Eropa, Afrika, Amerika, hingga Oseania.

 

Festival besar ini sendiri bukanlah agenda baru, melainkan tradisi tahunan yang sudah melekat lama di lingkungan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad. Sempat mengalami masa-masa vakum akibat pembatasan ruang gerak beberapa tahun lalu, gelaran ini akhirnya baru bisa dirutinkan kembali selama tiga tahun terakhir ini, tepatnya setelah memasuki masa pasca pandemi COVID-19. Kembalinya konsistensi acara ini menjadi momentum penting bagi pihak fakultas untuk menghidupkan lagi ruang interaksi sosial yang nyata bagi civitas akademika.

 

Tahun ini, acara tersebut hadir kembali dengan menyatukan berbagai keunikan latar belakang budaya lewat tema "Echoes of the Soil: Roots in Motion, Harmonizing Voices Under a Borderless Sky”. Tema yang di angkat memiliki makna di mana, mahasiswa dihimbau untuk sadar bahwa akar budaya dan identitas asli setiap daerah adalah hal yang sangat berharga. Perbedaan yang ada di dunia tidak boleh dianggap sebagai tembok pemisah, melainkan harus dijadikan jembatan untuk saling menghormati satu sama lain tanpa batasan.

 

Model Pembelajaran Berbentuk Praktikum di Luar Kelas

Festival ini menjadi bentuk ujian praktik nyata bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya atau Multikultural. Melalui penugasan ini, mahasiswa diberikan tanggung jawab penuh untuk merancang, mengelola, sekaligus mempraktikkan langsung teori-teori hubungan antarmanusia yang telah mereka pelajari di bangku perkuliahan.

 

Guru Besar Fikom Unpad, Prof. H. Deddy Mulyana, Drs., M.A., Ph.D., menjelaskan bahwa komunikasi lintas budaya menjadi sangat penting karena kondisi dunia di era sekarang menuntut kita untuk tetap bersatu di tengah keberagaman yang ada. Mahasiswa harus memiliki keterampilan bahasa asing serta kemampuan memahami bahasa nonverbal atau bahasa tubuh dari berbagai negara.

 

Lebih utama lagi, Profesor Deddy menekankan pentingnya memahami pandangan hidup masing-masing negara yang bersifat tidak berwujud (intangible), seperti agama, kepercayaan, dan nilai-nilai yang mereka anut. Melalui pemahaman mendalam dan toleransi budaya tersebut, mahasiswa akan memiliki keterampilan serta kompetensi yang kuat untuk beradaptasi dengan budaya lain di kancah internasional.

 

Dukungan dari Pimpinan Universitas Padjadjaran

Kreativitas mahasiswa dalam membuat ruang belajar terbuka ini juga mendapat dukungan hangat dari pimpinan tertinggi Universitas Padjadjaran. Kegiatan ini sangat cocok dengan arah perkembangan pendidikan jangka panjang yang sedang dijalankan oleh pihak rektorat.

 

Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dr., Sp.M(K)., M.Kes., Ph.D., menegaskan bahwa pihak kampus sangat mendukung model belajar praktik di luar ruangan seperti ini. Beliau menyampaikan pesan bahwa saat ini hingga masa depan nanti, seluruh mahasiswa Unpad wajib memiliki kemampuan untuk memahami dan menerima keragaman budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Profesor Arief menambahkan bahwa sikap saling menghargai perbedaan ini merupakan bagian penting dari nilai inklusivitas dan misi perdamaian yang terus dibangun di lingkungan Universitas Padjadjaran.

 

Apresiasi dari Perwakilan Duta Besar Asing

Kegiatan pameran budaya internasional ini turut dihadiri oleh perwakilan negara asing yang diundang oleh pihak kampus. Romero, selaku perwakilan dari Kedutaan Besar Italia di Jakarta yang datang langsung ke lokasi acara, memberikan tanggapan positif terhadap jalannya kegiatan tersebut.

 

Romero menilai performa para mahasiswa sangat luar biasa karena mampu mengkreasikan inovasi dari budaya luar negeri dengan baik. Menurutnya, metode pameran terbuka seperti ini jauh lebih maju dibandingkan jika mahasiswa hanya belajar teori di dalam ruang kelas, serta terbukti efektif menjadi radar penentu bagi kreativitas mahasiswa.

 

​Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa festival budaya ini merupakan salah satu bentuk soft diplomacy power yang dituangkan ke dalam aktivitas nyata. Melalui kegiatan ini, mahasiswa di kampus dapat mengenal sejarah dan kebudayaan asing secara lebih dekat, yang kedepannya dapat memperkuat hubungan baik antara Indonesia dengan negara-negara lain.

 

Lewat konsistensi festival budaya ini, Fikom Unpad berhasil membuktikan bahwa metode praktik langsung di lapangan sangat efektif untuk melatih kepekaan sosial mahasiswa. Hal ini menjadi modal utama dalam membentuk karakter mereka agar mampu beradaptasi dan bersaing di kancah global, sejak di bangku kuliah hingga memasuki dunia kerja nanti.

 

Penulis: Debora Christiani Dohona

Baca Lainnya

Komentar (0)