Hegarmanah | Diperbarui 03:00 WIB Cerah 18°C | Cerah

Dari Koleksi ke Aksesoris, Blind Box Jadi Tren OOTD Anak Muda

04 Jul 2026 | 3 menit baca
Dari Koleksi ke Aksesoris, Blind Box Jadi Tren OOTD Anak Muda
Foto Beberapa koleksi action figure Hirono. (Sumber: Tiktok @hironhyo)

Antusiasme terhadap blind box tetap diminati dalam beberapa waktu terakhir. Tak sedikit penggemar rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan kesempatan membeli karakter incaran seperti Labubu, Crybaby, Dimoo, Skullpanda, Molly, Hirono, hingga Pucky. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa blind box kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar mainan koleksi, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup anak muda yang dipengaruhi tren media sosial dan budaya populer.

Blind box merupakan produk figur koleksi yang dikemas dalam kotak tertutup sehingga pembeli tidak mengetahui karakter yang akan diperoleh hingga kemasan dibuka. Dalam satu seri biasanya tersedia beberapa karakter reguler dan satu atau lebih karakter langka (secret edition) yang diproduksi dalam jumlah lebih terbatas. Konsep pembelian secara acak tersebut menghadirkan sensasi kejutan yang membuat pengalaman membeli berbeda dibandingkan produk koleksi pada umumnya. Bagi sebagian kolektor, momen membuka kotak menjadi bagian yang paling dinantikan karena memberikan rasa penasaran terhadap karakter yang akan diperoleh.

Popularitas blind box semakin meningkat seiring maraknya konten unboxing di berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Video yang menampilkan reaksi pembeli saat membuka kotak, memperoleh karakter langka, atau berhasil melengkapi satu seri koleksi terus menarik perhatian pengguna media sosial. Tidak sedikit kreator konten yang membagikan pengalaman mereka berburu blind box, mulai dari mengantre di gerai resmi hingga bertukar karakter dengan sesama kolektor. Unggahan tersebut kemudian mendorong semakin banyak orang untuk ikut mencoba pengalaman serupa.

Fenomena itu juga berkaitan dengan fear of missing out atau FOMO, yaitu kondisi ketika seseorang merasa khawatir tertinggal tren, pengalaman, atau barang yang sedang ramai diminati banyak orang. Dalam tren blind box, FOMO muncul ketika pengguna media sosial melihat orang lain berhasil mendapatkan karakter tertentu atau memamerkan koleksi edisi terbaru. Dorongan untuk tidak tertinggal dari tren tersebut membuat banyak orang ikut berburu seri yang sedang populer, terutama ketika jumlah produk terbatas atau terdapat karakter rahasia yang sulit ditemukan.

 Fungsi blind box kini turut mengalami pergeseran. Jika sebelumnya figur koleksi identik dipajang di rak atau lemari koleksi, kini berbagai karakter justru lebih sering terlihat menggantung pada tas sebagai plush bag charm atau gantungan tas. Kehadirannya menjadi pelengkap outfit of the day (OOTD) dan bagian dari gaya berpakaian anak muda. Berbagai unggahan OOTD di media sosial memperlihatkan bagaimana karakter seperti Labubu dan Crybaby dipadukan dengan tas, pakaian, maupun aksesori lainnya sehingga menciptakan identitas fesyen yang khas.

Perubahan tersebut membuat blind box tidak hanya diminati oleh kolektor mainan, tetapi juga oleh masyarakat yang mengikuti perkembangan tren fesyen. Karakter yang awalnya dikenal sebagai figur pajangan kini menjadi aksesori yang melengkapi penampilan sehari-hari. Kehadirannya di kampus, pusat perbelanjaan, konser, hingga kafe memperlihatkan bagaimana budaya koleksi mulai berbaur dengan gaya hidup dan ekspresi personal anak muda.

Meningkatnya antusiasme masyarakat juga mendorong pertumbuhan industri mainan koleksi. Berbagai merek terus menghadirkan seri baru dengan desain karakter yang beragam, membuka gerai resmi Pop Mart saat peluncuran seri terbaru blind box dalam beberapa waktu terakhir, serta memperluas penjualan melalui platform digital. Bahkan, sejumlah perusahaan ritel mulai menghadirkan produk blind box sebagai bagian dari strategi menarik minat konsumen. Kehadiran karakter edisi terbatas dan kolaborasi dengan berbagai waralaba populer turut membuat tren ini terus berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.

 

 

Penulis: Debora Christiani Dohona

Baca Lainnya

Komentar (0)